Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 26 April - 2 Mei 2026

Gambar
  Allah Yang Awal dan Akhir: Kompas Iman di Tengah Badai Dunia ​ I. Pengantar: Menghadapi Narasi Ketakutan Dunia ​Dunia hari ini seolah sedang merawat ketakutan massal. Krisis global, ketidakpastian ekonomi, dan dominasi narasi dari "orang-orang kuat" dunia menciptakan atmosfir kecemasan yang mencekam. Namun, teks Wahyu 1:4-8 hadir bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai pernyataan apokaliptik yang 100% relevan dengan realitas saat ini. Di tengah gempuran kuasa duniawi yang fana, kita dipanggil untuk mengalihkan pandangan kepada Satu Kuasa yang absolut dan kekal, menjadikannya satu-satunya panduan utama dalam langkah hidup sehari-hari. ​ II. Fakta Alkitabiah (Wahyu 1:4-8) ​Berdasarkan nas tersebut, terdapat beberapa pilar fakta yang mengukuhkan posisi umat beriman: ​ Sumber Damai: Salam kasih karunia datang dari Allah Tritunggal—Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang; dari tujuh roh di hadapan takhta-Nya; dan dari Yesus Kristus. ​ ...

Mengapa Jalan Tol Di Malaysia Lebih Lancar?

Saya bekesempatan mengunjungi Kota Malaka Malaysia dua minggu yang lalu. Diundang untuk berbicara tentang disiplin dan motivasi bagi para Asisten Kepala Perkebunan yang sedang mengadakan Conference di negeri Jiran.

Saya terkesan dengan Kota Malaka yang mempunyai nilai sejarah amat banyak dan erat berhubungan dengan Sejarahn Negara Indonesia. Malaka kotanya tidak terlalu besar, namun bersih serta terkesan sangat aman. Toko-toko dirancang dengan rapi disisi jalan yang bersih, lebar dan tidak terlalu ramai.

Jarak Malaka dari Kuala Lumpur International Airport (KLIA) sekitar 140 Km, bida ditempuh dengan taksi hanya dalam waktu 1,5 jam. Hal inilah yang membuat saya terkesan amat mendalam. Jalan tol di Malaysia benar benar bebas hambatan.


Dengan ongkos 159 Ringgit (Sekitar Rp 460.000,.) saya berangkat dari KLIA langsung menuju Kota Malaka, ke Hotel tempat Conference diadakan. Tampa hambatan, sekitar satu jam tiga puluh lima menit sampai di Kota Malaka. Pada awalnya saya berfikir sekitar 2-3 jam lah lama perjalanan yang saya tempuh, mengingat jarak dan waktu Jakarta Bandung melalui Tol Cipularang.

Menurut saya ada dua hal yang membuat Jalan Tol di Malaysia lebih lancar daripada Jalan Tol Jakarta . Pertama, mobil yang melaju di jalan tol tidak terlalu banyak sehingga kapasitas jalan Tol yang luas dapat dimaksimalkan untuk memacu laju kenderaan. Namun alasan yang kedua lah menurut saya yang lebih besar pengaruh positifnya, yaitu kesadaran berkendara. Orang Malaysia mempunyai kesadaran yang tinggi dalam bekendara. Tidak ada salib menyalib di jalan Tol, bahkan jarang sekali terdengar bunyi klakson mobil.

Lajur yang paling kanan di Jalan Tol khusus untuk mendahului kenderaan, bagi yang ingin berkendara dengan santai dia tidak akan memilih lajur paling kanan ini. Dan bagi yang buru buru dia akan memilih lajur paling kanan, serta mempertahankan kecepatan pada 120 KM per jam. Ketika pulang dari Malaka ke KLIA kami hanya menempuh satu jam sepuluh menit, karena teman saya Pak Tony Koh, memacu kenderaan Mitsubishi Tritonnya pada kecepatan 120 km per jam.

Wah, dalam banyak hal kita bisa membenci Malaysia, namun dalam berkendara serta mempergunakan Jalan tol kita perlu banyak belajar dari negara serumpun itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025