Catatan Tambahan Khotbah 23 Agustus 2026
Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.
Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat (malice), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya.
Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan dengan apa yang disebut oleh Thomas Aquinas sebagai sin of omission (dosa karena pengabaian): kejahatan yang terjadi bukan karena seseorang melakukan tindakan buruk secara aktif, melainkan karena ia diam dan tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Bagaimana bentuk kedangkalan berpikir ini termanifestasi dalam kehidupan seorang Pendeta atau Presbiter (Penatua/Sintua/Diaken)?
Sikap pasif dan enggan berpikir mendalam dari para pemimpin gereja telah lama menjadi sorotan para teolog terkemuka:
Dalam catatannya dari penjara (Letters and Papers from Prison), Bonhoeffer menuliskan analisis mendalam tentang "kebodohan/kedangkalan moral" (folly/stupidity). Ia menegaskan bahwa kebodohan moral jauh lebih berbahaya daripada kejahatan eksplisit, karena:
"Orang yang dangkal secara moral tidak dapat dijangkau dengan alasan atau kritik; mereka dengan mudah dimanipulasi oleh kekuasaan dan rutinitas."
Bagi Bonhoeffer, seorang pelayan yang mematikan pikiran kritisnya demi keamanan struktur gereja sebenarnya sedang menyerahkan dirinya untuk menjadi alat penindasan tersembunyi.
Teolog Anglikan John Stott dalam bukunya Your Mind Matters secara tajam mengkritik anti-intelektualisme dan apatisme berpikir di kalangan umat dan pemimpin Kristen. Stott menegaskan bahwa:
"Allah tidak pernah meminta kita untuk mengorbankan akal budi kita di atas mezbah iman."
Mengabaikan analisis yang cermat dalam rapat-rapat gereja, menurut Stott, adalah bentuk devaluasi terhadap karunia akal budi yang telah diperbaharui oleh Kristus.
Teolog Reformasi Karl Barth dalam Church Dogmatics menekankan bahwa etika Kristen tidak pernah bersifat mekanis (sekadar mengikuti prosedur atau kebiasaan lama). Etika Kristen menuntut discernment (penguji spiritual dan rasional) yang aktif setiap saat. Ketika Presbiter sekadar "mengikuti arus," mereka kehilangan hakikat kepemimpinan Kristen yang seharusnya responsif terhadap suara Roh Kudus di masa kini.
Alkitab secara tegas menolak pola kepemimpinan yang tumpul dan pasif melalui dua pilar utama:
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah..."
Kata Yunani Nous (budi/pikiran) menegaskan bahwa iman tidak mematikan akal budi. Paulus memperingatkan agar pelayan Tuhan tidak kompromi (conform) dengan pola dunia yang menyukai kepatuhan buta. Tanpa pembaharuan budi yang aktif, seorang presbiter kehilangan discernment (daya pembeda) untuk mengenali kehendak Allah di tengah dinamika rapat.
"...karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."
Jemaat Berea dipuji karena tidak menelan bulat-bulat apa yang disampaikan—bahkan oleh Rasul Paulus sekalipun. Mereka aktif "menyelidiki" (examining). Seorang Pendeta dan Presbiter dipanggil memiliki mentalitas ini: tidak menyetujui anggaran, laporan, atau keputusan rapat begitu saja sebelum menguji dan menyelidiki dampaknya secara kritis.
Jika majelis gereja didominasi oleh para pelayan yang berpikir dangkal dan pasif, gereja akan mengalami pembusukan dari dalam:
Seorang Pendeta atau Presbiter tidak perlu menjadi pembuat skandal untuk merusak gereja. Cukup dengan hadir sekadar hadir, mematikan daya kritisnya, memilih aman, dan membiarkan arus mengambil keputusan—ia sudah berpartisipasi dalam "kejahatan kedangkalan berpikir."
Sebagaimana diingatkan oleh John Stott dan Dietrich Bonhoeffer, pelayanan adalah peninggian akal budi dan hati di hadapan Tuhan. Panggilan Presbiter adalah panggilan untuk berpikir mendalam, bergumul sungguh-sungguh, dan berani bersuara demi kebenaran serta kesejahteraan jemaat-Nya.
Komentar