Kesalahan Tak Disadari: Bahaya Berpikir Dangkal dan Pasif bagi Pendeta dan Presbiter
Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.
Dalam dinamika pelayanan gereja, kita sering kali mengukur "kejahatan" atau kesalahan kepemimpinan dari skandal-skandal besar yang tampak di permukaan: korupsi keuangan, penyimpangan moral, atau ajaran sesat. Namun, ada bentuk bahaya lain yang jauh lebih halus, destruktif, dan merayap perlahan merusak tatanan gereja tanpa disadari—yaitu kedangkalan berpikir dan sikap pasif dari para pelayan-Nya (Pendeta dan Presbiter).
1. Akar Konsep: "Kejahatan Karena Kedangkalan Berpikir"
Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat (malice), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya.
Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan dengan apa yang disebut oleh Thomas Aquinas sebagai sin of omission (dosa karena pengabaian): kejahatan yang terjadi bukan karena seseorang melakukan tindakan buruk secara aktif, melainkan karena ia diam dan tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
2. Anatomi Kedangkalan Berpikir dalam Rapat dan Pelayanan Gereja
Bagaimana bentuk kedangkalan berpikir ini termanifestasi dalam kehidupan seorang Pendeta atau Presbiter (Penatua/Sintua/Diaken)?
- Formalisme Relijius & Rutinitas Tumpul: Kehadiran dalam rapat majelis atau pelayanan hanya diukur dari presensi fisik (100% hadir) dan terpenuhinya SOP/prosedur formal. Teolog Dietrich Bonhoeffer menggambarkan kondisi ini sebagai bagian dari “cheap grace” (anugerah murah)—suatu bentuk keagamaan yang menginginkan status dan rutinitas rohani tanpa mau membayar harga pemutusan diri dari kompromi dan tanggung jawab etis.
- Pemisahan Mental (Disengagement): Dalam rapat-rapat strategis, Presbiter atau Pendeta hadir secara fisik, tetapi "memisahkan diri" dari topik yang didiskusikan. Mereka memilih diam, enggan mempelajari berkas/anggaran, dan enggan menanggung beban intelektual untuk menganalisis dampak kebijakan terhadap jemaat.
- Kepatuhan Buta & Groupthink: Memilih untuk "asal setuju" dan mengikuti arus mayoritas atau pimpinan demi menghindari konflik. Sikap silent consent (persetujuan lewat diam) ini memberikan stempel legalitas bagi keputusan-keputusan yang sebenarnya tidak adil, tidak efektif, atau bahkan merugikan jemaat yang marjinal.
3. Perspektif Teologis & Referensi Para Tokoh
Sikap pasif dan enggan berpikir mendalam dari para pemimpin gereja telah lama menjadi sorotan para teolog terkemuka:
A. Dietrich Bonhoeffer: "Kematian Budi adalah Musuh Kebajikan"
Dalam catatannya dari penjara (Letters and Papers from Prison), Bonhoeffer menuliskan analisis mendalam tentang "kebodohan/kedangkalan moral" (folly/stupidity). Ia menegaskan bahwa kebodohan moral jauh lebih berbahaya daripada kejahatan eksplisit, karena:
"Orang yang dangkal secara moral tidak dapat dijangkau dengan alasan atau kritik; mereka dengan mudah dimanipulasi oleh kekuasaan dan rutinitas."
Bagi Bonhoeffer, seorang pelayan yang mematikan pikiran kritisnya demi keamanan struktur gereja sebenarnya sedang menyerahkan dirinya untuk menjadi alat penindasan tersembunyi.
B. John Stott: Your Mind Matters (Pentingnya Akal Budi)
Teolog Anglikan John Stott dalam bukunya Your Mind Matters secara tajam mengkritik anti-intelektualisme dan apatisme berpikir di kalangan umat dan pemimpin Kristen. Stott menegaskan bahwa:
"Allah tidak pernah meminta kita untuk mengorbankan akal budi kita di atas mezbah iman."
Mengabaikan analisis yang cermat dalam rapat-rapat gereja, menurut Stott, adalah bentuk devaluasi terhadap karunia akal budi yang telah diperbaharui oleh Kristus.
C. Karl Barth: Tanggung Jawab Diskresi Etis
Teolog Reformasi Karl Barth dalam Church Dogmatics menekankan bahwa etika Kristen tidak pernah bersifat mekanis (sekadar mengikuti prosedur atau kebiasaan lama). Etika Kristen menuntut discernment (penguji spiritual dan rasional) yang aktif setiap saat. Ketika Presbiter sekadar "mengikuti arus," mereka kehilangan hakikat kepemimpinan Kristen yang seharusnya responsif terhadap suara Roh Kudus di masa kini.
4. Landasan Biblis: Penawar Atas Sikap Pasif
Alkitab secara tegas menolak pola kepemimpinan yang tumpul dan pasif melalui dua pilar utama:
- Roma 12:2 — Melawan Conformity Melalui Pembaharuan Budi "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah..." Kata Yunani Nous (budi/pikiran) menegaskan bahwa iman tidak mematikan akal budi. Paulus memperingatkan agar pelayan Tuhan tidak kompromi (conform) dengan pola dunia yang menyukai kepatuhan buta. Tanpa pembaharuan budi yang aktif, seorang presbiter kehilangan discernment (daya pembeda) untuk mengenali kehendak Allah di tengah dinamika rapat.
- Kisah Para Rasul 17:11 — Mentadani Mentalitas Jemaat Berea "...karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian." Jemaat Berea dipuji karena tidak menelan bulat-bulat apa yang disampaikan—bahkan oleh Rasul Paulus sekalipun. Mereka aktif "menyelidiki" (examining). Seorang Pendeta dan Presbiter dipanggil memiliki mentalitas ini: tidak menyetujui anggaran, laporan, atau keputusan rapat begitu saja sebelum menguji dan menyelidiki dampaknya secara kritis.
- Kepemimpinan yang Tumpul: Gereja kehilangan kepekaan terhadap pergumulan riil jemaat karena para pemimpimnya enggan berpikir mendalam.
- Normalisasi Kesalahan: Kebijakan yang keliru atau ketidakadilan manajemen dianggap sebagai "hal biasa" karena dari dulu sudah demikian dan tidak ada yang memprotes.
- Pemberhalaan Program: Program-program gereja berjalan saban tahun, tetapi tidak pernah menghasilkan transformasi hidup jemaat, sebab para pelayannya bekerja seperti robot eksekutor, bukan gembala yang bergumul.
- Arendt, Hannah. (1963). Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil. Viking Press.
- Barth, Karl. (1936–1969). Church Dogmatics. T&T Clark.
- Bonhoeffer, Dietrich. (1951). Letters and Papers from Prison. SCM Press.
- Bonhoeffer, Dietrich. (1937). The Cost of Discipleship (Nachfolge).
- Stott, John. (1972). Your Mind Matters: The Place of the Mind in the Christian Life. InterVarsity Press.
"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah..."
Kata Yunani Nous (budi/pikiran) menegaskan bahwa iman tidak mematikan akal budi. Paulus memperingatkan agar pelayan Tuhan tidak kompromi (conform) dengan pola dunia yang menyukai kepatuhan buta. Tanpa pembaharuan budi yang aktif, seorang presbiter kehilangan discernment (daya pembeda) untuk mengenali kehendak Allah di tengah dinamika rapat.
"...karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."
Jemaat Berea dipuji karena tidak menelan bulat-bulat apa yang disampaikan—bahkan oleh Rasul Paulus sekalipun. Mereka aktif "menyelidiki" (examining). Seorang Pendeta dan Presbiter dipanggil memiliki mentalitas ini: tidak menyetujui anggaran, laporan, atau keputusan rapat begitu saja sebelum menguji dan menyelidiki dampaknya secara kritis.
5. Dampak Pembusukan Internal (Institutional Decay)
Jika majelis gereja didominasi oleh para pelayan yang berpikir dangkal dan pasif, gereja akan mengalami pembusukan dari dalam:
Kesimpulan
Seorang Pendeta atau Presbiter tidak perlu menjadi pembuat skandal untuk merusak gereja. Cukup dengan hadir sekadar hadir, mematikan daya kritisnya, memilih aman, dan membiarkan arus mengambil keputusan—ia sudah berpartisipasi dalam "kejahatan kedangkalan berpikir."
Sebagaimana diingatkan oleh John Stott dan Dietrich Bonhoeffer, pelayanan adalah peninggian akal budi dan hati di hadapan Tuhan. Panggilan Presbiter adalah panggilan untuk berpikir mendalam, bergumul sungguh-sungguh, dan berani bersuara demi kebenaran serta kesejahteraan jemaat-Nya.

Komentar