Featured Post

Nande Beru Tarigan Mengajar Kami Berteologi dalam Kelembutan

 ​Kami tidak pernah menyangka akan kehilangan Nande Beru Tarigan secepat ini. Dalam doa-doa pribadi, kami terus memohon kepada Tuhan agar diberi kesempatan untuk membersamainya satu atau dua tahun lagi, atau bahkan lebih lama. Namun, Tuhan memiliki ketetapan yang berbeda.

​Hanya berselang sekitar lima bulan setelah kami menghantarkan ayahanda kami, Ginting Mergana, ke tempat peristirahatannya, Nande pun menyusul pergi menuju keabadian bersama Bapa di Firdaus. Air mata yang belum sempat mengering kini harus banjir kembali. Dalam waktu yang begitu singkat, kami lima bersaudara kini telah menjadi yatim piatu.



​Senandung Riang di Tengah Ujian

​Perjalanan kesehatan Nande sebenarnya mulai menurun sejak beliau mengalami stroke ringan pada tahun 2017—sembilan tahun yang lalu. Secara fisik, wajahnya tidak banyak berubah. Namun, tangan kirinya tak lagi bisa berfungsi dan kemampuan kognitifnya perlahan menurun. Meski begitu, keceriaannya tidak pernah pudar. Kami sekeluarga selalu berusaha menghibur dan membawanya terapi agar dampak strokenya meminim.

​Satu hal yang tidak pernah hilang dari sosok anak bungsu dari empat bersaudara ini adalah kegemarannya bernyanyi. Lagu-lagu lawas seperti "Sepasang Rusa" tetap dihafalnya dengan baik hingga akhir hayat. Bahkan, Nande kerap menyanyikan jingle obat populer seperti Bodrex dan Inza dengan nada yang sangat riang, namun syairnya telah beliau modifikasi sendiri menjadi sebuah pengakuan iman yang indah:

Bodrex pe la tambarna

Inza pe la malemna

Jumpa ras Tuhan Yesus, maka malemna.

(Bodrex pun bukan obatnya, Inza pun tidak menyembuhkan, Hanya saat bertemu Tuhan Yesus, barulah kesembuhan itu nyata).


​Doa Pelepasan dan Harapan yang Rebah

​Kondisi Nande mulai menurun drastis pada Sabtu, 19 Juni 2026. Tubuhnya terlihat sangat lemah dan nafsu makannya merosot tajam. Adik-adik kami yang tinggal di Kabanjahe dan Paribun segera bersepakat untuk membawa Nande ke rumah sakit. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka di pinggang yang sudah dipenuhi nanah, serta kadar gula darah yang melonjak sangat tinggi mencapai angka 500-an. Kami pun meminta tim dokter untuk memberikan terapi terbaik.

​Malam itu, saat selang infus dan sonde makanan sudah terpasang, kami berkumpul untuk berdoa bersama. Ketika saya bertanya kepada adik-adik tentang kesadaran Nande, mereka mengatakan Nande masih bisa mendengar dan merespons dengan gerakan kecil tubuhnya jika diajak berbicara.

​Saya lalu meminta adik saya menempelkan ponsel ke telinga Nande. Melalui sambungan telepon itu, saya menaikkan doa. Di satu sisi, saya memohon kesembuhan dari Tuhan. Namun di sisi lain, saya juga berbisik dalam doa bahwa kami sudah rela dan ikhlas jika memang ini saatnya Nande pergi meninggalkan kami—seorang ibunda yang teramat lembut, yang sepanjang hidupnya tak pernah bersuara keras.

​Titik terang sempat muncul pada hari Minggu pagi. Luka di pinggang Nande berhasil dioperasi, seluruh nanah dibuang, dan kadar gula darahnya turun drastis hingga normal di angka 133. Keesokan harinya, Senin 21 Juni sekitar jam 10 pagi, dokter spesialis penyakit dalam menyatakan bahwa kondisi Nande semakin baik dan stabil, meskipun beliau masih tertidur lelap.

​Optimisme kami membubung tinggi. Kami bahkan sudah mulai berdiskusi tentang kapan Nande bisa dibawa pulang ke rumah. Sepanjang hari Senin hingga dini hari, suasana terasa tenang tanpa ada kabar darurat dari Kabanjahe.

​Namun, ketetapan Tuhan tidak ada yang bisa menolak. Pada hari Selasa, 22 Juni 2026 pukul 06.30 WIB, tepat saat saya sedang bersiap-siap berangkat ke kantor, sebuah telepon dari adik saya memecah keheningan pagi. Nande sudah tidak bersama kita lagi. Beliau telah pergi menyusul sang belahan jiwa, Bapa Ginting Mergana.

​Warisan Iman dan Kelembutan

​Nande berpulang dalam usia melangkah 81 tahun. Beliau meninggalkan warisan cinta yang besar berupa 5 orang anak, 9 orang cucu, dan 2 orang cicit. Upacara adat dilaksanakan secara khidmat di Jambur Adil Makmur Kabanjahe (Cawir Metua, Kalimbubu la maba ose). Prosesi liturgi gereja dilayani oleh GBKP Runggun Simpang 6 Kabanjahe, dan kini Nande telah disemayamkan persis bersebelahan dengan Ayah kami di Pekuburan Ginting Munte, Bulanjahe.

​Pelajaran iman terbesar yang ditinggalkan oleh Nande bagi kami anak-anaknya adalah sebuah teladan nyata: bahwa berteologi itu bukan sekadar rangkaian kata-kata verbal di mimbar, melainkan mewujud melalui kelembutan tutur kata, kepercayaan, cinta kasih (kekelengn), dan tindakan kasih sayang yang tulus.

​Kami menyaksikan sendiri bagaimana Nande tidak pernah mau menentang, melawan, apalagi membalas perbuatan Ayah kami dengan kata-kata kasar. Ayah kami yang berkarakter keras dan sangat temperamen itu, pada akhirnya tunduk dan luluh dalam dekapan kelembutan seorang Nande Beru Tarigan Tambak, bere-bere Barus.

​Jika hari ini hampir semua dari kami anak-anaknya dapat melayani sebagai pelayan Tuhan (serayan Tuhan) di GBKP—kecuali saudara kami yang nomor empat—kami tahu persis itu semua adalah buah dari untaian doa malamnya, kelembutan suaranya, dan ketulusan kasih sayangnya.

Mejuah-juah kami tadingkenndu, Nande. Selamat jalan menuju Firdaus.

Pada kesempatan ini kami juga mengucapkan terima kasih sebanyak banyaknya kepada kam kerina, Nande bapa Turang ras senina, ibas kerina toto,  ucapan dukacita, karangan bunga dan dukungan dana serta pertangis siiberekenndu man kami. Labo terbalas kami kerina kebaikanndu e,  kami berdoa agar Tuhan Yang Maha Kuasa lah yang membalas semua kebaikan bapak ibu semuanya. Amin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ 10 – 16 Agustus 2025