Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (26 Juli s.d. 1 Agustus 2026)

 ​TEMA: Kami Terima Dari Tuhan (Ialoken Kami Ibas Tuhan Nari)

TEKS: 1 Tawarikh 29 : 14 – 16

"Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan. Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya."


​1. Pendahuluan

​Bagi orang Karo warga GBKP, kesadaran untuk memberi persembahan pada awalnya relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh latar belakang sejarah pada awal berdirinya GBKP, di mana hampir seluruh kebutuhan operasional dan pelayanan gereja didanai serta disediakan oleh Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG). Akibatnya, pengajaran mengenai persembahan sebagai wujud ungkapan syukur dan respon atas kebaikan Tuhan kurang ditekankan sejak dini. Namun seiring kemandirian gereja, warga GBKP diajak untuk terus membina kesadaran iman bahwa memberi persembahan bukanlah beban, melainkan ucapan syukur atas kelimpahan yang telah diterima dari Allah.


​2. Fakta

  • Persiapan Pembangunan Bait Allah: Raja Daud dan seluruh pemimpin suku/bangsa Israel mengumpulkan persembahan berupa emas, perak, tembaga, besi, dan batu permata dalam jumlah yang sangat besar untuk pembangunan Bait Allah yang akan dilaksanakan oleh Salomo.
  • Sukacita dan Keikhlasan: Bangsa Israel dan Raja Daud memberikan persembahan tersebut bukan dengan terpaksa, melainkan dengan sukarela, ketulusan, dan sukacita yang meluap-luap (1 Tawarikh 29:9).
  • Pengakuan Kemakhlukan: Di tengah kelimpahan materi yang dipersembahkan, Daud tidak merasa sombong. Ia justru tersungkur dan mengakui kesementaraan hidup manusia di bumi—bahwa manusia hanyalah orang asing dan pendatang (orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami).

​3. Arti dan Makna Teologis

  • Kesadaran dan Kerendahan Hati: Manusia yang rendah hati dan taat kepada Tuhan mempunyai kegalauan rohani saat ia memberikan persembahan. Sebab pada saat memberikan persembahan, lahir kesadaran batin bahwa semua materi, energi, dan kesempatan yang diberikannya sebenarnya berasal dari Tuhan Allah sendiri ("Sebab dari pada-Mulah segala-galanya...").
  • Identitas Diri di Hadapan Allah: Kesadaran yang sama diakui secara kolektif oleh bangsa Israel. Asal-usul bangsa Israel bukanlah pemilik mutlak atas tanah yang ditepatinya: "Kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang ke Tanah Perjanjian ini." Manusia tidak memiliki apa-apa yang mutlak atas dirinya sendiri.
  • Persembahan Sebagai Puncak Respon Iman: Memberikan persembahan kepada Tuhan adalah puncak kesadaran akan kebaikan Tuhan serta dorongan untuk mendirikan rumah Tuhan di tengah-tengah manusia, guna memuliakan Nama Tuhan setinggi-tingginya. Memberi adalah tindakan mengembalikan sebagian kecil dari apa yang telah Tuhan percayakan.

​4. Kerygma (Berita Mimbar / Warta Berita)

  • Kedaulatan Allah atas Kepemilikan (Stewardship): Seluruh kekayaan, kesehatan, bakat, dan harta benda yang kita miliki adalah milik Allah sepenuhnya. Manusia hanyalah pengelola (pJJ / penatalayan) yang dipercayakan Tuhan di dunia ini.
  • Sikap Hati dalam Memberi: Tuhan tidak melihat besar-kecilnya nominal persembahan, melainkan ketulusan dan kerendahan hati orang yang memberi. Persembahan yang sejati lahir dari rasa tahu bersyukur (ngataken bukur), bukan untuk pamer, mencari pujian, atau merasa bersalah.
  • Anugerah untuk Berpartisipasi dalam Pekerjaan Tuhan: Kesempatan untuk memberi dan terlibat dalam pembangunan rumah Tuhan serta pelayanan GBKP adalah wujud anugerah (pemere) Tuhan. Bukan Tuhan yang membutuhkan harta kita, melainkan kitalah yang diberi kesempatan untuk bersekutu dengan karya keselamatan-Nya.

​5. Implementasi

  1. Mengubah Paradigma Memberi Persembahan: Membangun kebiasaan dalam keluarga dan perpulungan (PJJ) untuk menyisihkan persembahan terbaik (kolekte, persepuluhan, persembahan syukur) dengan sukacita, bukan dari sisa-sisa kebutuhan bulanan.
  2. Mendukung kemandirian Pelayanan GBKP: Secara aktif mendukung program-program pelayanan GBKP (pembangunan, pos pelayanan, diakonia, dan misi) sebagai wujud tanggung jawab bersama selaku anggota tubuh Kristus.
  3. Gaya Hidup Rendah Hati (Toleran ras Metunggung): Menjauhkan sikap kesombongan materi atas keberhasilan usaha, karir, atau harta benda, sebab semuanya adalah pemberian Tuhan yang dapat hilang kapan saja.
  4. Pendidikan Iman dalam Keluarga: Mengajarkan anak-anak sejak dini untuk mengenal Tuhan sebagai sumber berkat dan membiasakan mereka memberi persembahan setiap kali mengikuti PJJ, PA/KPA, maupun kebaktian Minggu.

​6. Kesimpulan dan Penutup

​Raja Daud mengajarkan kepada kita bahwa puncak kematangan iman seseorang diukur dari kerendahan hatinya saat mengembalikan apa yang menjadi milik Tuhan. Tidak ada alasan bagi kita untuk sombong atau enggan memberi persembahan dalam pelayanan PJJ maupun gereja, sebab "Ibas Tuhan nari me kerina, janah apah siibereken kita man Tuhan, e pe asalna ibas tangan Tuhan nari me" (Segala sesuatu datangnya dari Tuhan, dan apa yang kita berikan kepada Tuhan berasal dari tangan-Nya sendiri). Marilah kita mengiring Tuhan dengan hati yang tulus, penuh ucapan syukur, dan sukacita dalam melayani-Nya.

​7. Power Statement

"Memberi tidak pernah membuat kita kehilangan, sebab kita hanya mengembalikan apa yang sejak awal telah Tuhan percayakan kepada kita."


​8. References (Daftar Pustaka)

  1. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). (2005). Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: LAI.
  2. Moderamen GBKP. (2026). Bahan PJJ GBKP 2026 (Perpulungen Jaba-Jaba). Kabanjahe: Moderamen GBKP.
  3. Selvidge, M. J. (1999). 1 and 2 Chronicles. Collegeville: Liturgical Press.
  4. Tuell, S. S. (2001). First and Second Chronicles (Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching). Louisville: John Knox Press.
  5. Ginting, E. P. (2007). Religiositas Orang Karo dan Teologi Kristen. Medan: Abdi Karya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025