Refleksi 136 Tahun GBKP
Menggali Akar Identitas: Rekonstruksi Narasi Penginjilan Karo dari Perspektif Perlawanan, Martabat, dan Iman
Oleh
Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.
Pendahuluan: Menyoal Narasi "Penjinakan"
Selama lebih dari satu abad, sejarah masuknya Injil ke Tanah Karo sering kali dibingkai dalam bayang-bayang kepentingan ekonomi kolonial. Narasi konvensional menyebutkan bahwa pengiriman misionaris oleh Nederlandsche Zendeling Genootschap (NZG) merupakan permintaan Jacob Theodoor Cremer untuk meredam aksi Musuh Berngi.
Namun, melihat peristiwa 18 April 1890 hanya sebagai alat "penjinak" adalah pengerdilan terhadap harga diri bangsa Karo. Sudah saatnya kita menarasikan ulang peristiwa ini sebagai sebuah perjumpaan antara kebenaran Injil dengan bangsa yang memiliki kecerdasan taktis dan integritas moral yang tinggi.
Ilustrasi H.C Kruyt Tiba di Buluh Awar, 18 April 1890
Karakteristik Karo: Antara Pembalasan dan Kesetiaan
Sebelum diterangi Injil, bangsa Karo telah memiliki prinsip hidup yang tegas dan simetris: "Jika dijahati akan membalas lebih kejam, namun jika dikasihi akan membalas dengan kesetiaan tanpa batas."
Perlawanan terhadap perkebunan Belanda bukanlah tindakan kriminal tanpa arah, melainkan manifestasi dari kecerdasan taktis yang luar biasa, sebagaimana tercermin dalam filosofi Catur Karo (Satur Karo). Dalam permainan catur tradisional Karo, setiap langkah diperhitungkan untuk mempertahankan martabat. Ketika Belanda merampas tanah ulayat, orang Karo menggunakan taktik gerilya malam hari yang efektif karena mereka merasa kedaulatan mereka diinjak. Bagi orang Karo, membalas perlakuan buruk bukanlah sekadar amarah, melainkan upaya menjaga keseimbangan keadilan.
Filosofi Endi Enta dan Tanah sebagai Mandat Ilahi
Perlawanan ini juga berakar pada konsep teologis Surat Ukat Endi Enta. Orang Karo percaya bahwa tanah yang subur dan landai adalah pemberian (endi) langsung dari Sang Pencipta. Jika pemberian Tuhan dicuri atau dirampas, maka membiarkannya adalah dosa terhadap Sang Pemberi.
Seperti narasi Paulus di Athena dalam Kisah Para Rasul 17:16-34, orang Karo sejatinya sudah menyembah Tuhan melalui penghormatan terhadap alam dan keadilan, meskipun saat itu sosok "Tuhan" tersebut belum mereka kenal secara khusus dalam pribadi Kristus.
Injil yang Membuka Pintu Kebaikan
Narasi Belanda yang menganggap orang Karo "jahat" terpatahkan oleh fakta sosiologis: orang Karo adalah salah satu suku paling terbuka di dunia. Jika seseorang datang dengan rasa hormat dan kasih, orang Karo tidak hanya menyambut, tetapi "mengangkat" orang tersebut menjadi bagian dari darah dan daging mereka melalui pemberian Marga (bagi laki-laki) atau Beru (bagi perempuan).
Upacara pemberian marga yang sakral dan penuh sukacita ini membuktikan bahwa ketika misionaris datang membawa "Kabar Baik" (Injil) dengan ketulusan—bukan sebagai antek kolonial—orang Karo meresponsnya dengan keterbukaan hati yang luar biasa. Kebaikan Tuhan dibalas dengan penerimaan iman yang radikal.
Mengapa Penginjilan Terjadi? (Tinjauan Teologis & Ahli)
1. Missio Dei dan Mandat Agung (Matius 28:19): Penginjilan ke Karo adalah gerak Allah yang ingin memperkenalkan diri-Nya sebagai "Tuhan yang Memberi" secara lebih personal. Allah tidak mengirim misionaris untuk membantu Belanda, tetapi untuk menjumpai bangsa Karo di titik balik sejarah mereka.
2. Kearifan Lokal sebagai Titik Temu: David J. Bosch dalam Transforming Mission menekankan bahwa misi Allah seringkali menerobos motif-motif manusiawi yang egois. Meskipun Cremer punya motif ekonomi, Tuhan punya motif keselamatan.
3. Penyempurnaan Karakter: Injil tidak menghapus keberanian orang Karo, tetapi mengarahkannya. Semangat "membalas" ditransformasikan menjadi semangat "membalas kebaikan Tuhan" melalui pengabdian dan persaudaraan yang inklusif.
18 April 1890: Fajar Baru bagi GBKP
Kedatangan H.C. Kruyt di Buluh Awar pada 18 April 1890 adalah momen lahirnya Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Ini bukan hari di mana orang Karo "takluk" pada Belanda, melainkan hari di mana orang Karo menemukan identitas baru sebagai anak-anak Allah yang tetap menjaga martabat budayanya.
Kesimpulan
Kita harus mengganti narasi bahwa penginjilan ke Karo adalah upaya "menjinakkan binatang liar". Orang Karo adalah bangsa yang berdaulat, yang mengerti arti syukur (endi) dan tanggung jawab atas tanah. Kedatangan Injil pada 18 April 1890 adalah momen di mana "Tuhan yang memberikan tanah" memperkenalkan diri-Nya secara utuh sebagai Sang Juruselamat. GBKP berdiri di atas fondasi perlawanan terhadap ketidakadilan dan penerimaan terhadap kasih karunia yang tidak terbatas dari Yesus Kristus Tuhan
Catatan Kaki (Footnotes)
1. Catur Karo: Simbol kecerdasan taktis dan strategi perang orang Karo yang digunakan dalam melawan hegemoni kolonial.
2. Lamin Sanneh, Translating the Message (1989). Menjelaskan bagaimana Injil justru memperkuat bahasa dan identitas lokal ketika diterjemahkan ke dalam budaya tertentu.
3. Matius 28:19: Mandat Agung Yesus Kristus untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya.
4. Kisah Para Rasul 17:23: Referensi tentang "Allah yang tidak dikenal" yang sejatinya sudah dicari manusia melalui naluri religiusnya.
5. D.J. Bosch, Transforming Mission (1991). Tentang misi sebagai partisipasi dalam kasih Allah yang melampaui kepentingan politik

Komentar