Refelksi 136 Tahun Perjalanan GBKP ; Ringkasan Buku Breath Becomes The Wind (Simon Rae )
Napas yang Menjadi Angin: Refleksi 136 Tahun Perjalanan GBKP
Memasuki usia ke-136 tahun, ingatan kita tertuju pada mahakarya Simon Rae, "Breath Becomes the Wind". Buku ini bukan sekadar catatan kronik, melainkan dokumentasi detak jantung para pionir di Buluh Awar yang rela "napasnya" hilang ditelan waktu agar Injil bisa menjadi "angin" yang menggerakkan kehidupan di Tanah Karo. Simon Rae memotret sebuah fase krusial: bagaimana penginjilan awal (1890-1941) berjalan begitu lambat dan sunyi, di mana selama 51 tahun perjuangan, jemaat yang tercatat hanya sekitar 3.000 orang. Angka kecil ini adalah bukti betapa beratnya meletakkan fondasi iman yang berakar pada kedalaman teologi dan pemahaman budaya yang autentik.
Namun, sejarah kemudian mencatat lonjakan yang dramatis pasca kemandirian (1941) hingga medio 1990-an. Guncangan politik G-30 S PKI menciptakan kekosongan jiwa yang luar biasa di tengah masyarakat Karo, yang saat itu merasa kehilangan pegangan hidup dan rasa aman. Dalam situasi traumatik tersebut, Gereja menjadi satu-satunya tempat bernaung, yang memicu terjadinya baptisan massal secara masif. Sayangnya, lonjakan kuantitas ini sering kali terjadi tanpa proses katekisasi atau pengajaran yang mendalam, sebuah periode di mana jumlah jemaat tumbuh pesat namun mungkin kehilangan sentuhan "pemuridan" yang presisi seperti yang dilakukan para pendahulu kita.
Kini, di ambang tahun 2026 dengan jumlah jemaat sekitar 360.000 jiwa, kita dihadapkan pada sebuah cermin besar. Jika di masa lalu 3.000 orang mampu membentuk karakter gereja yang mandiri (Njayo), bagaimanakah kualitas iman kita saat ini? Simon Rae dalam bukunya mengingatkan bahwa kemandirian sejati bukan terletak pada megahnya gedung atau banyaknya jumlah kepala, melainkan pada keberanian pemimpinnya untuk tetap menjadi pelayan bagi "domba" di pelosok desa, bukan sekadar mengejar kenyamanan di pusat-pusat kota yang penuh dengan kemudahan fasilitas.
Fenomena "perebutan" posisi di wilayah urban yang saat ini mulai nampak di kalangan pelayan Tuhan, seolah menjadi paradoks terhadap semangat Simon Rae. Ada risiko besar ketika gereja hanya tumbuh secara statistik namun keropos secara substansi. Jika 80 persen energi kepemimpinan hanya terfokus pada dinamika perkotaan dan transaksi kekuasaan, maka kita sedang mengkhianati filosofi Breath Becomes the Wind. Kita berisiko menjadi organisasi yang besar secara angka, namun kehilangan daya gerak spiritual yang dulu dimulai dari kesederhanaan dan ketulusan di desa-desa terpencil.
HUT ke-136 ini seharusnya menjadi momen pertobatan eklesiologi bagi 600 pendeta dan 15 ribu penatua GBKP. Kita perlu bertanya kembali: apakah pertumbuhan kita adalah buah dari penginjilan yang berakar, atau sekadar sisa-sisa "pelarian" sejarah masa lalu yang belum tuntas dididik? Simon Rae mengajarkan bahwa gereja yang sehat adalah gereja yang mandiri secara pemikiran dan berdaulat secara tindakan. GBKP tidak boleh hanya bangga dengan label "mandiri" sejak 1941, sementara mentalitas pelayannya masih terjebak dalam pencarian kenyamanan materiil dan status sosial.
Mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk kembali ke ladang pelayanan yang sesungguhnya. Membaca kembali Simon Rae adalah upaya untuk menyalakan kembali api misionaris yang tidak gentar pada kesulitan geografis. Jumlah sekitar 360.000 jemaat adalah tanggung jawab besar yang menuntut pelayan yang mau "bernafas" bersama jemaatnya, baik di lereng Sinabung maupun di hiruk-pikuk kota. Semoga di usia yang semakin matang ini, GBKP tidak hanya menjadi angin yang lewat, tetapi menjadi napas kehidupan yang memberikan transformasi nyata bagi suku Karo dan dunia.
1. Tujuan Penulisan
Simon Rae menulis buku ini bukan hanya sebagai catatan sejarah gereja, melainkan sebagai studi sosiologis dan antropologis. Tujuan utamanya adalah mendokumentasikan bagaimana sebuah suku bangsa (Karo) yang memiliki sistem adat sangat kuat (Orat Nggeluh) merespons penetrasi pengaruh luar (Injil dan Kolonialisasi) dalam kurun waktu 1890–1940.
2. Substansi Utama: Tiga Pilar Transformasi
A. Fase Perjumpaan Budaya (The Encounter)
Buku ini mendetailkan awal masuknya penginjilan melalui badan misi Belanda, NZG (Nederlandsch Zendeling Genootschap).
- Titik Awal: Dimulai dari Buluh Awar (1890) oleh H.C. Kruyt.
- Hambatan Psikologis: Rae mencatat bahwa pada awalnya, orang Karo sangat curiga karena penginjil datang bersamaan dengan kepentingan kolonial Belanda. Injil sempat dianggap sebagai "Agama Belanda".
- Strategi Adaptasi: Kesuksesan awal bukan karena khotbah di mimbar, melainkan melalui pendekatan kemanusiaan: Pendidikan (sekolah) dan Kesehatan (pengobatan).
B. Injil dan Struktur Sosial Karo
Substansi yang paling tajam dalam buku ini adalah analisis Rae terhadap Rakut Sitelu (Kalimbubu, Anak Beru, Senina).
- Rae mengakui bahwa struktur sosial Karo sangat demokratis dan egaliter.
- Injil tidak datang untuk menghancurkan adat, melainkan mengisi kekosongan spiritual tanpa merusak tatanan hubungan kekerabatan.
- Ia membahas bagaimana konsep Kesain (lingkungan rumah adat) perlahan bertransformasi menjadi komunitas jemaat.
C. Masa Depresi dan Kemandirian (Zelfstandig)
Buku ini mengulas masa-masa sulit tahun 1930-an saat krisis ekonomi dunia melanda.
- Bantuan dana dari Belanda terhenti, yang justru memaksa jemaat Karo untuk mandiri.
- Momen Krusial 1941: Lahirnya GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) sebagai organisasi yang berdiri di atas kaki sendiri, sebelum Jepang masuk ke Indonesia.
3. Tema Sentral: "Nafas Menjadi Angin"
Judul buku ini merefleksikan filosofi tentang kefanaan dan perubahan. Rae menyoroti bahwa banyak misionaris dan tokoh lokal yang "nafasnya" (nyawanya/perjuangannya) telah hilang, namun semangatnya tetap ada seperti "angin" yang menggerakkan kesadaran masyarakat Karo hingga saat ini.
Poin Penting untuk Refleksi (Khusus untuk 600 Pendeta & 15 Ribu Penatua):
Jika Anda ingin membagikan ringkasan ini kepada rekan-rekan pelayan di GBKP, ada tiga substansi yang bisa ditekankan:
- Pelayanan Berbasis Lokasi: Para penginjil pertama tidak menunggu di kota; mereka masuk ke hutan dan desa terpencil (seperti ekspedisi ke Dataran Tinggi Karo yang saat itu sangat berbahaya).
- Identitas Budaya: Simon Rae menegaskan bahwa menjadi Kristen tidak membuat seseorang berhenti menjadi orang Karo. Justru Injil memperkuat nilai-nilai kejujuran dan persaudaraan dalam adat.
- Kemandirian: Gereja ini lahir dari kemandirian ekonomi dan semangat lokal, bukan karena ketergantungan pada subsidi luar negeri.
A. Maksud Pelayanan Lokal: "Bukan Membawa Peradaban, Tapi Membawa Hidup"
Simon Rae menekankan bahwa niat awal para penginjil NZG (seperti Kruyt dan Wijngaarden) bukan sekadar menambah jumlah pengikut agama, melainkan melakukan Total Ministry (Pelayanan Utuh).
- Inkarnasi Budaya: Maksud pelayanan ini adalah "menjadi Karo untuk memenangkan Karo". Mereka tidak membangun gereja megah di awal, melainkan membangun hubungan di kede kede kopi (tempat berkumpul laki-laki Karo).
- Pemberdayaan Sosial: Pelayanan lokal dimaksudkan untuk menjawab kebutuhan paling mendasar saat itu: kesehatan (karena tingginya angka penyakit menular) dan buta aksara. Simon Rae mencatat bahwa "Injil masuk melalui jarum suntik dan papan tulis."
B. Situasi Saat Itu (Kondisi Lapangan 1890 - 1940-an)
Rae menggambarkan situasi Tanah Karo saat itu sebagai wilayah yang sangat tertutup dan penuh ketegangan:
- Isolasi Geografis dan Politik: Tanah Karo adalah wilayah Highlands yang sulit ditembus. Secara politik, masyarakat Karo saat itu sangat anti terhadap intervensi asing (Belanda) karena trauma dengan perang-perang di wilayah sekitar.
- Resistensi Kepercayaan Lokal: Kepercayaan Pemena sangat kuat. Para misionaris dianggap sebagai pembawa sial atau pengganggu keseimbangan alam. Kruyt bahkan sempat mengalami frustrasi hebat karena selama bertahun-tahun hampir tidak ada orang Karo yang mau dibaptis.
- Kondisi Fisik yang Brutal: Para penginjil harus tinggal di rumah-rumah bambu yang sederhana, menghadapi malaria, dan menempuh perjalanan kaki berhari-hari melintasi hutan hanya untuk mengunjungi satu desa ke desa lain. Tidak ada fasilitas kota; pusat peradaban terdekat mungkin hanya di Medan atau Sibolangit yang saat itu pun masih sangat terbatas.
C. Tantangan ke Depan (Perspektif Simon Rae)
Simon Rae menulis buku ini dengan melihat ke belakang, namun ia memberikan peringatan tersirat mengenai tantangan masa depan organisasi gereja (GBKP):
- Bahaya Pelembagaan (Institutionalization): Rae menyoroti bahwa kekuatan awal penginjilan Karo adalah mobilitas. Para penginjil bergerak mengikuti masyarakat. Tantangannya adalah ketika gereja menjadi terlalu besar dan birokratis, para pelayannya cenderung ingin menetap di "pusat" dan kehilangan semangat "bergerak" ke pelosok.
- Mempertahankan Relevansi Lokal: Tantangan ke depan adalah bagaimana tetap menjadi "Gereja Lokal" di tengah arus modernisasi. Jika pendeta-pendeta lebih memilih tinggal di kota besar (seperti fenomena yang saya amati), maka jemaat di pelosok desa (akar rumput) akan merasa ditinggalkan secara spiritual, persis seperti situasi sebelum Injil masuk.
- Kemandirian Teologis: Rae menantang gereja untuk tidak hanya mandiri secara finansial (seperti yang terjadi tahun 1941), tapi juga mandiri dalam berpikir. Pelayan Tuhan harus mampu menerjemahkan masalah-masalah pedesaan (pertanian, konflik tanah, kemiskinan) dengan kacamata iman, bukan sekadar memberikan khotbah normatif perkotaan.
Refleksi
Pemaparan Simon Rae ini seolah menjadi "cermin" bagi situasi saat ini tentang sekitar 600 pendeta GBKP saat ini yang umumnya ingin pindah ke kota. Rae menunjukkan bahwa kejayaan gereja Karo justru dimulai dari keberanian meninggalkan kenyamanan untuk masuk ke tempat yang paling tidak nyaman.
3.2 Identitas Budaya
A. Maksud: Budaya sebagai "Wadah", Injil sebagai "Isi"
Simon Rae berargumen bahwa kekristenan di Tanah Karo tidak dimaksudkan untuk mengubah orang Karo menjadi "orang Barat" atau "orang Belanda".
- Bukan Substitusi, tapi Transformasi: Maksud Simon Rae adalah menunjukkan bahwa nilai-nilai Injil sebenarnya bisa memperkuat identitas Karo. Contohnya, sifat Mehamat (hormat) dalam adat Karo selaras dengan kasih dalam ajaran Kristen.
- Identitas yang Berakar: Rae ingin menegaskan bahwa iman yang kuat harus tumbuh dari tanah tempat ia berpijak. Jika seorang Karo kehilangan identitas budayanya saat menjadi Kristen, maka imannya akan menjadi "iman plastik" yang tidak punya akar sejarah.
B. Situasi Saat Itu (Benturan Tradisi vs Modernitas)
Rae memotret ketegangan yang luar biasa pada periode 1890–1940:
- Stigma "Agama Si Putih": Pada awalnya, menjadi Kristen dianggap sebagai pengkhianatan terhadap nenek moyang. Ada ketakutan bahwa jika meninggalkan ritual Pemena, maka keseimbangan sosial (Rebu, Pantang) akan rusak.
- Perdebatan Adat: Simon Rae mencatat perdebatan sengit mengenai praktik-praktik adat seperti Gendang Guro-guro Aron atau upacara kematian. Para misionaris awal sempat bingung mana yang murni "budaya" dan mana yang "berhala".
- Kekuatan Struktur Rakut Sitelu: Rae sangat terpukau dengan bagaimana orang Karo tetap setia pada sistem kekerabatan mereka. Ia melihat bahwa meskipun seseorang sudah dibaptis, ia tetaplah seorang Anak Beru yang harus melayani Kalimbubu-nya. Identitas ini tidak bisa dihapus oleh air baptis, dan Rae melihat itu sebagai kekuatan, bukan hambatan.
c. Tantangan ke Depan: Ancaman "Kekosongan Budaya"
Simon Rae memberikan pandangan visioner tentang apa yang akan dihadapi identitas Karo di masa depan:
- Budaya yang Sekadar Seremonial: Rae khawatir ke depannya budaya Karo hanya akan menjadi tontonan atau seremonial belaka (seperti hanya memakai Uis Gara saat pesta), tanpa memahami filosofi di baliknya. Jika ini terjadi, identitas Karo akan kehilangan "jiwa"-nya.
- Erosi Nilai di Perantauan (Urbanisasi): Ini sangat relevan dengan pengamatan tentang perpindahan ke kota. Rae mengisyaratkan bahwa saat orang Karo (termasuk para pendetanya) pindah ke kota besar dan meninggalkan komunitas desa, nilai-nilai seperti Runggu (musyawarah) dan gotong royong sering kali luntur tergantikan oleh individualisme kota.
- Krisis Kepemimpinan yang Mengerti Adat: Tantangan terbesarnya adalah melahirkan pemimpin (Pendeta dan Pertua/Diaken) yang tidak hanya jago teologi, tapi juga "pakar" dalam memahami psikologi dan adat orang Karo. Tanpa itu, gereja akan terasa asing bagi jemaatnya sendiri.
Hubungan dengan Kondisi Sekarang
Simon Rae secara tidak langsung mengatakan bahwa kekuatan orang Karo ada pada akarnya. Jika saat ini 80% pendeta ingin pindah ke kota besar, maka ada risiko besar terjadi "pemutusan akar" antara pemimpin spiritual dengan tanah leluhurnya.
3.3 Kemandirian
A. Maksud: "Njayo" Bukan Sekadar Pisah, Tapi Dewasa
Simon Rae melihat bahwa kemandirian bagi GBKP bukan sekadar urusan administrasi atau berhenti menerima uang dari Belanda.
- Kematangan Teologis: Maksud kemandirian adalah saat jemaat Karo mampu menjawab persoalan hidup mereka dengan iman mereka sendiri, tanpa harus selalu bertanya "apa kata orang Belanda?".
- Kedaulatan Spiritual: Menjadi Zelfstandig berarti GBKP diakui sebagai subjek, bukan lagi objek misi. Rae menekankan bahwa kemandirian adalah bukti bahwa Injil telah benar-benar "meresap" dan menjadi milik orang Karo.
B. Situasi Saat Itu: Kemandirian yang Terpaksa (1930 - 1941)
Rae mencatat bahwa kemandirian GBKP lahir dari situasi yang sangat dramatis dan penuh tekanan:
- Krisis Ekonomi Dunia (Malaise): Pada tahun 1930-an, dana dari NZG di Belanda merosot tajam. Para misionaris tidak lagi bisa mendanai sekolah dan kesehatan secara penuh.
- Ancaman Perang: Situasi politik dunia memanas. Simon Rae menggambarkan kegelisahan para tokoh Karo saat itu: jika Belanda kalah perang (oleh Jerman atau Jepang), apa yang terjadi dengan orang Kristen Karo?
- Proklamasi GBKP 1941: Karena "terpaksa" oleh keadaan, pada Sidang Sinode pertama di Sibolangit (1941), jemaat Karo memutuskan untuk Njayo. Mereka memilih pengurus dari kalangan mereka sendiri. Simon Rae melihat ini sebagai langkah heroik; mereka berani mandiri di saat modal finansial sedang di titik terendah.
C. Apa yang Dibutuhkan untuk Membangun Perubahan?
Berdasarkan catatan Rae, ada tiga mesin utama yang menggerakkan kemandirian untuk perubahan:
- Kedermawanan Lokal (Self-Financing): Orang Karo dikenal memiliki harga diri yang tinggi (Sia-sia geluh kune la maba berita mejile). Rae melihat kemandirian terbangun karena jemaat rela memberikan hasil panen dan tanahnya untuk membangun gereja dan sekolah secara swadaya.
- Kepemimpinan yang Berani: Dibutuhkan figur yang tidak "mencari hidup" di gereja, melainkan "memberi hidup" untuk gereja. Tokoh-tokoh awal GBKP adalah orang-orang yang rela menderita demi martabat gereja yang baru merdeka.
- Pendidikan yang Membebaskan: Kemandirian hanya bisa bertahan jika dibarengi dengan kualitas SDM yang mumpuni agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan politik luar.
D. Tantangan Meraih dan Mempertahankan Kemandirian
Simon Rae menutup analisisnya dengan tantangan yang sangat relevan dengan kegelisahan sebagian kecil pecinta GBKP saat ini:
- Mentalitas Ketergantungan (Dependency Syndrome): Tantangan terbesar bukan kekurangan uang, tapi pola pikir yang selalu merasa "miskin" atau menunggu bantuan. Rae khawatir jika semangat Njayo hilang, gereja akan kembali menjadi "anak manja" yang tidak kreatif.
- Elitisme Pemimpin: Tantangan dalam mempertahankan kemandirian adalah ketika para pemimpin (Pendeta/Penatua) mulai berjarak dengan jemaat akar rumput. Jika pemimpin lebih sibuk mengejar kenyamanan (ingin ke kota besar) daripada memikirkan kemandirian jemaat di desa, maka esensi Zelfstandig itu runtuh.
- Godaan Transaksional: Dalam proses kemandirian, kekuasaan sering kali menjadi komoditas. Simon Rae seolah sudah meramalkan bahwa tantangan masa depan gereja mandiri adalah konflik internal—persis seperti kekhawatiran Anda mengenai "transaksional pada Sidang Sinode" untuk memperebutkan posisi di daerah urban.
Penutup
Simon Rae memberikan pelajaran berharga: Kemandirian (Njayo) adalah soal kehormatan, bukan soal lokasi. Seorang pelayan yang mandiri seharusnya tidak takut ditempatkan di mana pun, karena ia membawa "api" kemandirian itu bersamanya.

Komentar