Featured Post

​Catatan Tambahan PJJ 23-29 Agustus 2026

Gambar
 ​ Thema: Pertanda Orang Yang Mengenal ( Tanda Nandai Dibata ) Teks: 1 Yohanes 2 : 3 - 11 ​Teks Alkitab ​ 1 Yohanes 2:3-11 (3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. (4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. (6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (7) Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. (8) Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan teran...

Pemimpin dengan "Iman Golgota": Teguh di Tengah Badai Propaganda Global

 Sebuah refleksi dari Khotbah Pdt Masmur Ginting, MTh, pada  Kebaktian Jumat Agung di GBKP Rgn Graha Harapan Bekasi.

​Dunia modern hari ini sedang digerakkan oleh satu komoditas yang lebih berharga daripada minyak atau data: Ketakutan. Dari narasi krisis iklim yang ekstrem hingga ancaman kelangkaan pangan global, penguasa bisnis dan politik sering kali menggunakan scarcity mindset (pola pikir kekurangan) untuk menciptakan ketergantungan. Di tengah hiruk-pikuk propaganda ini, seorang pemimpin spiritual dipanggil untuk berdiri teguh dengan sebuah fondasi yang tak tergoyahkan, yaitu Iman Golgota.

Pdt Walder Masmur Ginting, MTh


​Alam dalam Genggaman Sang Logos

​Lukas 23:44 mencatat sebuah peristiwa kosmis yang luar biasa: “Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.” Di saat matahari seharusnya berada pada puncak kekuatannya, alam justru "tunduk" dan merespons penderitaan Kristus.

​Peristiwa ini menegaskan bahwa alam bukan sekadar objek mati atau sistem mekanis yang bisa direkayasa sepenuhnya oleh manusia. Alam adalah milik Sang Pencipta. Jika Yesus Kristus memiliki otoritas untuk memerintahkan matahari berhenti bersinar, maka segala bentuk rekayasa manusia atas alam—sehebat apa pun teknologi dan propagandanya—memiliki batas yang sangat tegas.

​Membedah Industri Ketakutan

​Para penguasa dunia sering kali membangun narasi bahwa masa depan berada dalam ancaman besar dan hanya produk atau sistem mereka yang bisa menyelamatkannya. Ini adalah strategi lama: Ciptakan ketakutan, lalu tawarkan ketergantungan.

​Seorang pemimpin yang tidak memiliki akar spiritual yang kuat akan mudah terjebak dalam scarcity mindset. Mereka akan memimpin dengan kecemasan, mengumpulkan sumber daya dengan serakah, dan akhirnya tunduk pada sistem dunia yang manipulatif. Namun, peristiwa Golgota mengajarkan hal yang sebaliknya.

​Esensi Iman Golgota

​Memiliki "Iman Golgota" berarti memahami dua realitas besar:

​Otoritas Mutlak atas Materi: Jika di Golgota Yesus membuktikan bahwa elemen alam (cahaya dan kegelapan) tunduk pada misi-Nya, maka krisis pangan atau perubahan cuaca bukanlah "tuhan" yang harus ditakuti. Pemimpin beriman percaya bahwa Tuhan yang memelihara semesta tetap memegang kendali atas lumbung-lumbung bumi.

​Logika Pengorbanan Terbesar: Iman Golgota berpijak pada janji bahwa jika Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal (hal yang paling mahal), maka Dia tidak akan membiarkan umat-Nya binasa hanya karena urusan perut atau cuaca. Ini adalah Abundance Mindset (pola pikir kelimpahan) yang sejati.

​Pemimpin sebagai Penjaga Harapan

​Di tengah komunitas yang cemas, seorang pemimpin spiritual (seperti para Presbiter atau instruktur soft skills) harus tampil sebagai figur yang tenang. Ketenangan ini bukan karena mengabaikan realitas, tetapi karena mengetahui realitas yang lebih tinggi.

​Melawan Propaganda dengan Kebenaran: Pemimpin tidak boleh menelan mentah-mentah narasi kelangkaan yang bertujuan untuk mengontrol manusia.

​Kemandirian Spiritual dan Fisik: Mengelola alam dengan bijak (stewardship) adalah kewajiban, namun melakukannya tanpa rasa takut adalah kemenangan iman.

​Menjadi Jangkar bagi Sesama: Saat dunia panik terhadap isu global, pemimpin dengan Iman Golgota mengingatkan komunitasnya bahwa "Matahari pun pernah tunduk di Golgota, apalagi sekadar ancaman sistem manusia."

Penutup

​Propaganda global mungkin bisa merekayasa opini, tetapi mereka tidak bisa merekayasa kedaulatan Tuhan. Pemimpin yang memiliki "Iman Golgota" adalah mereka yang telah selesai dengan ketakutannya sendiri. Mereka tidak bisa dibeli dengan kenyamanan dan tidak bisa ditundukkan dengan ancaman kelangkaan, karena mereka tahu bahwa hidup mereka bergantung sepenuhnya pada Sang Raja yang telah menaklukkan maut dan alam semesta di bukit tengkorak.

​"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." (2 Timotius 1:7)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026