Catatan Tambahan PJJ 22 - 28 Februari 2026
Kulakukan Perintah Tuhan (Kulakoken Perentah Tuhan)
Ulangan 26:12–15
A. Pendahuluan
Perikop Ulangan 26:12–15 berada dalam konteks pembaruan perjanjian antara Allah dan Israel sebelum mereka memasuki tanah Kanaan. Kitab Ulangan sendiri merupakan bentuk covenant renewal document, yaitu penguatan kembali relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya (Craigie, The Book of Deuteronomy, 1976).
Pasal 26 menekankan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak berhenti pada ritual, tetapi harus terwujud dalam tindakan konkret yang berdampak sosial. Persembahan persepuluhan tahun ketiga bukan sekadar praktik ibadah, melainkan tindakan iman yang nyata dalam keadilan dan solidaritas sosial.
Tema minggu ini:
“Kulakukan Perintah Tuhan” bukan sekadar pernyataan lisan, melainkan deklarasi integritas rohani di hadapan Allah.
B. Fakta Teks (Eksposisi Kontekstual)
Tahun ketiga disebut sebagai “tahun persembahan persepuluhan” (ay.12).
Persepuluhan tidak hanya untuk orang Lewi, tetapi juga untuk:
Orang asing
Anak yatim
Janda
Umat harus mengucapkan pengakuan iman di hadapan Tuhan (ay.13–14).
Ada dimensi moral dan kemurnian dalam mempersembahkan (tidak dalam keadaan najis, tidak untuk hal profan).
Setelah taat, umat berdoa memohon berkat Tuhan (ay.15).
Secara sosial, kelompok yang disebut adalah kelompok rentan dalam struktur masyarakat kuno Israel (Wright, Old Testament Ethics for the People of God, 2004).
C. Arti dan Makna Teologis
1️⃣ Tuhan memerintahkan kepada umat-Nya untuk mengambil persembahan persepuluhan dan menyerahkannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda supaya mereka dapat makan. Menarik dalam hal ini orang Lewi dikelompokkan kedalam orang asing, anak yatim dan janda. Tuhanlah memelihara mereka.
Pendalaman:
Dalam struktur Israel, orang Lewi memang tidak memperoleh bagian tanah pusaka (Bilangan 18:20–24). Secara ekonomi mereka bergantung pada kesetiaan umat kepada hukum Tuhan. Dengan memasukkan Lewi ke dalam kelompok rentan, Tuhan menunjukkan bahwa pelayanan rohani pun bergantung pada solidaritas umat.
Pengelompokan ini menunjukkan:
Allah adalah pembela kaum lemah (Mazmur 68:6)
Ibadah sejati selalu berdimensi sosial (Yesaya 1:16–17)
Perintah Tuhan selalu mengandung keadilan sosial
Teologi ini menegaskan bahwa kepemilikan tanah dan berkat bukan untuk dinikmati sendiri, tetapi untuk dibagikan dalam kerangka perjanjian.
2️⃣ Memberikan persembahan adalah menjalankan perintah Tuhan. Memberikan persembahan bukan untuk memegahkan diri, tapi sebagai bukti takut dan taat kepada Tuhan Allah.
Pendalaman:
Dalam Ulangan, motivasi utama ketaatan adalah “takut akan Tuhan” (yare’ YHWH). Takut di sini bukan rasa teror, tetapi hormat yang mendalam dan komitmen perjanjian (McConville, Deuteronomy, 2002).
Yesus sendiri mengingatkan agar memberi bukan untuk pamer (Matius 6:1-4). Maka persembahan adalah ekspresi relasi vertikal yang murni, bukan performa sosial.
Dalam teologi Reformed, ketaatan adalah respons syukur terhadap anugerah (Calvin, Institutes of the Christian Religion).
3️⃣ Mendengarkan dan menjalankan perintah Tuhan adalah sebuah kegembiraan, bahkan kebahagiaan hidup yang sebenarnya.
Pendalaman:
Mazmur 1 menyatakan bahwa kebahagiaan sejati ada pada orang yang merenungkan dan melakukan Taurat Tuhan. Dalam teologi Ulangan, berkat dan kesejahteraan (shalom) adalah konsekuensi dari ketaatan perjanjian (Ulangan 28).
Ketaatan bukan beban, tetapi partisipasi dalam ritme kehidupan yang ditetapkan Allah.
Di sini terlihat teologi sukacita dalam ketaatan:
obedience → integrity → blessing → joy.
D. Implementasi dan Penerapan
1. Bagi Pribadi
Evaluasi integritas dalam memberi.
Memberi bukan karena tekanan sosial, tetapi kesadaran iman.
Jangan menikmati berkat tanpa berbagi.
2. Bagi Gereja
Gereja harus menjadi ruang distribusi kasih.
Dana gereja bukan hanya operasional, tetapi juga pastoral dan sosial.
Keberpihakan kepada kelompok rentan adalah ciri gereja sejati.
3. Bagi Masyarakat
Kepedulian sosial adalah panggilan iman.
Profesional Kristen dipanggil menjadi saluran berkat.
E. Kesimpulan
Perikop ini mengajarkan bahwa iman tidak berhenti pada ritual, tetapi harus menjadi tindakan nyata.
Tuhan memerintahkan. Umat mendengar. Umat melakukan. Lalu Tuhan memberkati.
Relasi perjanjian itu dinamis:
ketaatan → pengakuan → doa → berkat.
F. Power Statement
“Ketaatan kepada perintah Tuhan adalah bukti iman yang hidup, dan di dalam ketaatan itulah kebahagiaan sejati ditemukan.”
Referensi
- Craigie, Peter C. The Book of Deuteronomy. NICOT. Eerdmans, 1976.
- McConville, J.G. Deuteronomy. Apollos Old Testament Commentary, 2002.
- Wright, Christopher J.H. Old Testament Ethics for the People of God. IVP, 2004.
- Calvin, John. Institutes of the Christian Religion.
- Brueggemann, Walter. Theology of the Old Testament. Fortress Press, 1997.
- Von Rad, Gerhard. Old Testament Theology. Harper & Row, 1962.

Komentar