Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (25 – 31 Oktober 2026)

Gambar
​ Tema: Konfesi Kedatangan Jesus Kembali ( Konfesi Kerehen Jesus Mulihken / Advent ) Teks Alkitab: Matius 24:36–44 ​ Pendahuluan ​Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ( Eskaton / Parousia ) merupakan puncak pengharapan iman Kristen. Namun, Alkitab secara tegas menegaskan bahwa waktu kedatangan-Nya dipagari oleh rahasia kedaulatan ilahi. Ketidakpastian waktu ini bukanlah alasan bagi gereja untuk bersikap apatis, melainkan pendorong teologis untuk senantiasa hidup dalam kesiapsiagaan iman. Eskatologi Kristen tidak mengajarkan spekulasi tanggal, melainkan transformasi cara hidup di tengah dunia yang terus berjalan. ​ Fakta ​ Ketahuannya Waktu Hanya pada Bapa: Tidak ada seorang pun—bahkan malaikat maupun Anak—yang tahu hari dan saat kedatangan-Nya, melainkan hanya Bapa. ​ Kondisi Zaman Nuh sebagai Ilustrasi: Manusia sebelum air bah hidup dalam rutinitas wajar (makan, minum, kawin) namun abai terhadap peringatan ilahi hingga kebinasaan datang mendadak. ​ Pemisahan ya...

CIRUS SINAGA YANG MENGINGATKAN URIP TRI GUNAWAN

J

aksa Cirus Sinaga resmi menjadi pesakitan. Sekarang ditahan di Rutan Salemba, sebagai terdakwa dalam kasus korupsi, berkaitan dengan kasus Gayus Tambunan. Jaksa Cirus Sinaga mengingatkan kita kepada Jaksa Urip Tri Gunawan, yang kasus nya mencuat 3 tahun yang lalu. Juga dalam kasus korupsi atau penyuapan. Korupsi dan penyuapan, yah sama saja. Semua berkaitan dengan duit. Jaksa, yang mewakili negara untuk menuntut orang yang bersalah, demi keadilan dan demi keberlangsungan negara, ehh ternyata bukan mewakili negara tapi mewakili dirinya sendiri. Masih adakah Jaksa yang layak dan cukup terhormat untuk mewakili negara? Saya pesimis. Benar pesimis sekali. Dalam 3 tahun, dua jaksa menjadi bintang TV dan Media, karena kebobrokan moral dan etika nya. Bukan jadi tontonan positif, tapi tontonan keprihatinan. Apa dasar dan implikasi dari kasus ini?

Gagalnya pembinaan Moral dan Ketangguhan Karakter di Kejaksaan RI.

Bagi saya, Cirus dan Urip adalah representasi dari seluruh Jaksa. Dan kegagalan Cirus dan Urip adalah kegagalan dari Jaksa secara keseluruhan, terutama kegagalan dari pembinaan moral dan karakternya. Saya tidak tahu persis bagaiamana kurikulum pembinaan jaksa, sehingga nantinya dapat menghasilkan lulusan yang layak disebut jaksa. Lulus menjadi jaksa sebagai kelanjutan tangan negara dalam menuntut Warga Negara atau orang yang bersalah. Nah yang saya lihat pembinaan dan pelatihan bagi para jaksa itu gagal untuk memberikan penekanan identitas dan kebanggaan sebagai jaksa. Sebab sebagai Jaksa, seharusnya setiap orang yang memilihnya menjadi profesi (panggilan hidupnya) harus menyadari keuntungan dan kerugian (makna dan “harga”) menjadi Jaksa. Seharusnya sistem pembinaan dan pelatihan itu mampu membuat calon calon jaksa itu merasa BANGGA menjadi Jaksa, meskipun ada kekurangan dalam uang (gaji) yang dia peroleh. Sebab dia bekerja untuk negara.


Sebagai contoh yang pernah saya dengar, betapa sulit menjadi Pastor dalam lingkungan agama Katolik. Dan ketika dia diterima menjadi pastor, maka ada konsekwensi untuk tidak pernah menikah seumur hidupnya. Memilih orang yang layak menjadi Pastor memerlukan sistem pembinaan dan pelatihan yang sangat panjang, dengan disiplin sangat ketat. Sampai akhirnya ditentukanlah seleksi akhir siapa yang layak menjadi Pastor. Hasilnya, semua yang tidak terpilih menjadi Pastor akan meratapi kegagalannya. Mereka yang tidak terpilih menjadi pastor, akhirnya bekerja di luar gereja dalam lingkungan bisnis, organisasi LSM, Partai politik dan yang lain. Banyak yang berhasil menjadi Human Resouces Manager atau Director. Uangnya banyak, Gajinya cukup menghantarkan mereka menjadi masyarakat kelas menengah ke atas. Namun, mereka pernah menangisi pekerjaan yang tidak menghasilkan uang.

Sekali Lancung Keujian, seumur hidup orang tidak percaya.

Kenyataan “dirutankan” nya Cirus Sinaga akhirnya dengan tegas menjelaskan siapa Jaksa Cirus Sinaga. Dia punya mind set, paradigma berfikir, habit atau karakter. Secara moral diragukan. Secara ketangguhan pendirian disangsikan. Menyisakan pertanyaan “bagaimana dengan kasus kasus yang sebelumnya dia tangani”. Kasus besar sebelumnya yang dia tangani adalah menjadi jaksa penuntut dalam Kasus Antasari Azhar yang dituduh sebagai otak yang mengatur pembunuhan Nazaruddin Samsuddin. Belakangan kasus ini dianggap banyak rekayasa. Banyak yang aneh dan tidak masuh akal. Bahkan semua hakim yang mengadili kasus ini pun rencananya akan diperiksa Komisi Yudisial. Kalau begitu, Jaksa Cirus terpilih menjadi jaksa di kasus ini, bisa jadi bagian dari rekayasa. Bukti saling menguatkan pun terjadi. Kasua Gayus membuktikan kelemahan moral Jaksa Cirus, dan Jaksa Cirus menguatkan bukti bahwa Kasus Antasari adalah sebuah rekayasa.

Persoalan menjadi menarik, sebab Cirus Sinaga dan Antasari Azar sama sama jaksa. Yang satu menuntut yang satu, ketika mempunyai kedudukan sebagai Ketua KPK yang pada saat kasusnya muncul, mempunyai reputasi sangat baik. Antasari Azar pada saat menjadi ketua KPK dikenal berani, lugas, cepat dan mempunyai Tim yang cerdas, muda, energik sehingga menjanjikan sesuatu yang sangat baik dan positif. Cirus Sinaga dibina menjadi Jaksa. Antasari Azar dibina menjadi Jaksa. Pembinaan nya dalam satu institusi yang sama. Koq hasilnya berbeda? Jelas berbeda, karena karakter dasar orangnya berbeda. Ini adalah masalah rekrutmen.

Kesimpulan, kedepan Kejaksaan Agung Republik Indonesia harus memperbaiki Sitem Perekrutannya dan memperbaharui Sistem Pembinaannya supaya tidak salah merekrut dan membina Jaksa Jaksa. Kasihan Cirus Sinaga dan Urip Tri Gunawan yang direkrut menjadi Jaksa, padahal potensi terbesarnya adalah menjadi Pengusaha atau Ketua Partai Politik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)