Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

REMAH-REMAH ROTI



Murid-murid menghardiknya, dan Tuhan cuek kepadanya. Namun keputusannya tetap, tidak mau mundur dan merobah pikiran. Alasannya kuat sekali, karena perpaduan sempurna antara Kasih dan Iman, “kekelengen ras kiniteken”.

Kasih sempurna seorang ibu kepada Putri, darah dagingnya, yangsangat menderita karena kerasukan setan. Matanya liar, mulutnya terbuka, rambutnya awut-awutan, badannya dekil. Kotor. Sekali-sekali dia berteriak, meronta, ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Oh, gantungan masa tua siibu “ Si Boru Panggoaran”, di tubir jurang kenistaan yang amat sangat.

“Kasihanilah aku Tuhan, Anak Daud.” Teriakannya sambil tertatih tatih di belakang iringan perjalanan Diakonia Agung Sang Maha Tahu. Namun Tuhan Yesus LAMA TERDIAM, lalu memilih respon kata-kata yang seolah bernada ketidak pedulian. “AKU diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”.

Dia Sadar bahwa dirinya tidak termasuk dalam kelompok “domba” yang disebut oleh Tuhan Yesus, sebab dia asli hanya Perempuan Kanaan. Namun respon Tuhan Yesus itu, apapun perkataanNya, toh sudah ada “kata-kata”. Meskipun bernada penolakan, tapi melambungkan harapannya. Sekarang sudah ada tiga yang menjadi dasar semangatnya, Iman, Kasih dan Pengharapan. Dan dibalik kata-kata itu hatinya menangkap GETARAN KASIH Yang amat sempurna.

“Tuhan Kasihanilah aku”, pintanya, dengan nada yang amat percaya diri. Tuhan heran akan kekerasan hatinya, lalu mengeluarkan perkataan yang mengandung berjuta makna : “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Kata-kata yang kedengarannya amat menghina, karena disebutkan anjing. Tapi pada saat itu dia menangkap makna yang amat dalam, dan dia tahu Tuhan Yesus sedang memberi pelajaran paling berharga.

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Jawabannya adalah inti dari segala iman. Kualitasnya sebuah disertasi yang nilainya Summa Cum Laude. Tuhan Yesus tersenyum dalam hati, karena dia melihat perempuan Kanaan ini mempunyai Iman yang amat besar. Kata-Kata berikutnya adalah : "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Ada Iman yang amat besar dalam diri perempuan Kanaan, meskipun dia bukan Israel. Ada iman di dalam diri semua orang yang menurut kita kelompok tidak beriman. Tuhan lah yang mengenal hati semua orang, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun kekayaannya, apapun masa lalunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025