Featured Post

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Gambar
 ​ Tema: Kalak Si Tek Rembak Ras Dibata (Orang yang Percaya Dekat dengan Allah) Nats: Roma 10 : 1 – 4 ​ 1. Pendahuluan ​Setiap manusia pada dasarnya memiliki religiositas —sebuah kerinduan bawaan (naluri) untuk mencari, menyembah, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, dalam realitas kehidupan, banyak orang terjebak dalam kesibukan ritual dan aktivitas keagamaan yang luar biasa giat, tetapi kehilangan arah dan esensi yang sejati. ​Melalui surat Roma ini, Rasul Paulus membedah kontras antara "kegiatan agama yang meluap-luap" dengan "pengenalan yang benar akan Allah". Menjadi dekat dengan Allah ( rembak ras Dibata ) bukan soal seberapa keras kita berusaha membenarkan diri sendiri, melainkan seberapa penuh kita berserah pada kebenaran yang telah Allah sediakan. ​ 2. Fakta Tekstual (Analisis Teks) ​ Ayat 1: Paulus mengungkapkan kerinduan terdalam (empati dan kasih yang besar) serta doanya agar bangsa Israel memperoleh keselamatan. ​ Ayat 2: Paulu...

REMAH-REMAH ROTI



Murid-murid menghardiknya, dan Tuhan cuek kepadanya. Namun keputusannya tetap, tidak mau mundur dan merobah pikiran. Alasannya kuat sekali, karena perpaduan sempurna antara Kasih dan Iman, “kekelengen ras kiniteken”.

Kasih sempurna seorang ibu kepada Putri, darah dagingnya, yangsangat menderita karena kerasukan setan. Matanya liar, mulutnya terbuka, rambutnya awut-awutan, badannya dekil. Kotor. Sekali-sekali dia berteriak, meronta, ingin menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Oh, gantungan masa tua siibu “ Si Boru Panggoaran”, di tubir jurang kenistaan yang amat sangat.

“Kasihanilah aku Tuhan, Anak Daud.” Teriakannya sambil tertatih tatih di belakang iringan perjalanan Diakonia Agung Sang Maha Tahu. Namun Tuhan Yesus LAMA TERDIAM, lalu memilih respon kata-kata yang seolah bernada ketidak pedulian. “AKU diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel”.

Dia Sadar bahwa dirinya tidak termasuk dalam kelompok “domba” yang disebut oleh Tuhan Yesus, sebab dia asli hanya Perempuan Kanaan. Namun respon Tuhan Yesus itu, apapun perkataanNya, toh sudah ada “kata-kata”. Meskipun bernada penolakan, tapi melambungkan harapannya. Sekarang sudah ada tiga yang menjadi dasar semangatnya, Iman, Kasih dan Pengharapan. Dan dibalik kata-kata itu hatinya menangkap GETARAN KASIH Yang amat sempurna.

“Tuhan Kasihanilah aku”, pintanya, dengan nada yang amat percaya diri. Tuhan heran akan kekerasan hatinya, lalu mengeluarkan perkataan yang mengandung berjuta makna : “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Kata-kata yang kedengarannya amat menghina, karena disebutkan anjing. Tapi pada saat itu dia menangkap makna yang amat dalam, dan dia tahu Tuhan Yesus sedang memberi pelajaran paling berharga.

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya”. Jawabannya adalah inti dari segala iman. Kualitasnya sebuah disertasi yang nilainya Summa Cum Laude. Tuhan Yesus tersenyum dalam hati, karena dia melihat perempuan Kanaan ini mempunyai Iman yang amat besar. Kata-Kata berikutnya adalah : "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.

Ada Iman yang amat besar dalam diri perempuan Kanaan, meskipun dia bukan Israel. Ada iman di dalam diri semua orang yang menurut kita kelompok tidak beriman. Tuhan lah yang mengenal hati semua orang, apapun sukunya, apapun agamanya, apapun kekayaannya, apapun masa lalunya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025