Featured Post

Keterhubungan Suku Karo dengan Suku Melayu Deli

Gambar
​Mendekonstruksi Dikotomi Pedalaman-Pesisir dan Mitologi Etnitisasi Kolonial di Sumatera Utara ​ Oleh: Sintesis Historiografi dan Antropologi Kritis (Daniel Perret & Erond L. Damanik) ​Historiografi arus utama Sumatera Utara kerap dipenjara oleh dikotomi biner yang tajam: Melayu di ranah pesisir yang diidentikkan dengan keadaban, literasi, Islam, dan kosmopolitanisme; berhadapan dengan suku-suku pedalaman—yang disatukan di bawah label payung "Batak"—yang distigmatisasi sebagai masyarakat terisolasi, kasar, tak beradab, hingga kanibal. Narasi dikotomis ini tidak hanya cacat secara metodologis, melainkan juga mengabaikan fakta sejarah mengenai dinamika integrasi sosio-ekonomi dan politik yang harmonis di kawasan Sumatera Timur Laut prakolonial. ​Melalui sintesis pemikiran ahli sejarah Perancis, Daniel Perret, dan antropolog Universitas Negeri Medan, Prof. Erond L. Damanik, artikel ini mengurai fakta bahwa keterpisahan kultural dan etnis antara Suku Karo dan Suku Mela...

TIDAK AKAN BISA DIHALANGI DAN DIHAMBAT


Bahwa Gereja didirikan dimuka bumi adalah atas inisiatif Tuhan Sendiri. Tuhan menginginkan Gereja sebagai representasi dari kehadiranNya setiap saat dalam mengawal kehidupan manusia, dan terutama seluruh anak-anak yang sudah dipilihNya. Semakin banyak gereja ada, maka semakin gampanglah manusia dalam melihat kehadiran Tuhan.

Tuhan mendirikan gerejaNya penuh dengan kasih sayangNya, namun juga mengharapkan dan menekankan perlunya disiplin dari semua anak-anak yang dipilihNya. Kasih lah yang mendasari disiplin, Rasa Cinta yang menjadi awal dari ketaatan. Dan ketika Ananias dan juga Istrinya masih berupaya memaknai ketataan itu dengan pertimbangan kemanusiaannya. Tanpa sadar dia sudah mendustai Allah yang dia anggap hanya mendustai Rasul. Dipotongnyalah hasil penjualan tanah itu. Rasul Petrus segera dengan tegas berkata ’ “mengapa kamu membohongi Allah”.

Teguran itu begitu keras, punya akar kebenaran yang sangat panjang dan dalam, sehingga dia tak mampu lagi menyikapi dan menyembunyikan akal duniawinya. Seketika dia roboh, dikaki Kudus Sang Rasul. Tidak berapa lama, karena rekayasanya pun atas seijin Safira istrinya, maka ketika dikonfirmasi oleh Petrus, jawabannya sama dengan almarhum suaminya. Dan pada waktu akal bohongnya sampai ketelinga dan hati Rasul, maka murkalah Petrus. Seketika dia roboh menghantarkan nyawanya, serta dikuburkan disebelah suaminya, hanya berselang beberapa Jam.

Apakah itu sebuah kekejaman, ketika suara hardikan dapat membuat seseorang menjadi roboh, tersungkur dan meregang nyawa? Kalau itu perkataan manusia ‘tok’ memang kejam. Tapi kalau itu perkataan Tuhan, yang disampakan oleh Sang Rasul, Kita hanya dapat menyimpulkan bahwa begitulah kebenaran Sang Penguasa Alam dan Seluruh Kehidupan. Yang perlu kita pahami adalah, BETAPA SERIUS DAN SUNGGUH-SUNGGUHNYA ALLAH, mendirikan gerejaNya.

Gereja Tuhan bukan gedungnya saja, tapi manusia itu lah Gereja, dan Gereja Tuhan itu adalah manusianya. Kita semua secara bersama-sama saling menopang dan saling dukung mendukung menghadirkan gereja Tuhan itu. Gereja tidak bisa dirobohkan, tidak bisa dihalangi, tidak bisa dihambat. Bangunannya bisa dirusak, tapi manusia yang sudah dipilih dan ditambat Tuhan tidak bisa diruntuhkan bahkan ditakut-takuti. Gereja akan tetap berdiri, kokoh, dimanapun yang dikehendaki Tuhan. Di wilayah yang paling gersang dan paling minoritas pun Gereja pasti tetap dan berdiri kokoh serta semakin teguh selama-lamanya, bahkan sampai seluruh kehidupan berakhir di dunia ini. Masalahnya hanya satu, maukah kah "kam" jadi gereja itu, yang taat dan takut kepada Tuhan?.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026