Featured Post

Synopsis Blades of the Guardians; Kembalinya Sang Legenda dan Kedewasaan Sinema Tiongkok

Gambar
  ​Oleh: Analgin Ginting ​Dunia sinema bela diri Tiongkok kembali diguncang oleh sebuah karya monumental yang bukan sekadar memamerkan adu pedang, melainkan sebuah refleksi mendalam tentang kemanusiaan, intrik politik, dan prinsip hidup. Blades of the Guardians (atau Biao Ren), yang kini tengah menghiasi layar bioskop di Jabodetabek, menjadi magnet utama bagi para pencinta film kolosal. ​1. Kembalinya Jet Li: Penampilan yang Membuat "Pangling" ​Salah satu daya tarik terbesar film ini adalah kembalinya sang legenda kungfu dunia, Jet Li. Namun, bagi penonton yang datang dengan ekspektasi melihat "Wong Fei-hung" yang lincah atau "lethally fast" seperti di era 90-an, bersiaplah untuk terkejut. ​Jet Li tampil sebagai Chang Guiren, seorang pejabat tinggi di era Dinasti Sui. Penampilannya benar-benar bertransformasi total. Dengan riasan wajah yang matang, kumis dan jenggot panjang yang berwibawa, serta kostum kebesaran yang berat, banyak penonton yang hampir tida...

Barcelona Vs Chelsea



Bahwa pertandingan antara Barca dan Chelsea
Adalah gambaran dari kehidupan kemanusiaan kita,
Bahwa hidup memang pertandingan,
Pertandingan yang mengharukan, menyesakkan sekaligus menggelorakan.
Yang sebelas lengkap tidak selamanya menang
Yang sepuluh tidak lengkap, tidak selamanya kalah.

Kemarahaman Drogba adalahh kemarahan kita semua,
Taatkala kita mempersepsikan ada pihak yang sengaja mencuri kesuksesan kita
Kebingungan Abidal adalah kebingungan para korban,
Ketika mereka tiba-tiba terkapar tanpa tahu tahu sebabnya
Luka Lampard,adalah luka para pahlawan kita
Yang tulus berusaha memberikan yang terbaik kepada Bangsa yang mengutusnya
Kekecawaan Ballack adalah upaya mencari kambing hitam
Atas takdir yang tak bisa kita tolak
Kekeliruan wasit,adalah adalah keterbatasan para pemimpin kita.
Selalu ada kecolongan, sebagai dampak kefanaan kita.
Tangisan Alex adalah tangisan kita semua
tatkala kita sadar kita gagal dipuncak harapan kita
Dan tawanya Messi adalah tawa kemanusiaan kita,
Ketika kita meraih harap di sisa terakhir langkah kita.


LAlu ada gol indah dan gol Sangatt indah
Gol Michael Essien, yang adalah gol tercipta atas keakuratan tendangan,
Timing yang jitu, dan perhitungan yang Sangat matang.
Adalah gol yang tercipta atas kecerdasan intelectual Essien,
Yang menggambarkan intelectual ketika semua, bahwa kita punya Inteligent Quotient

Dan Golnya Iniesta adalah gol yang tercipta atas endurance yang Sangat kuat, Menit 92
Kesabaran dan pengendalian emosi yang Sangat prima, dan gol yang tercipta pada kesempatan terakhir dalam ujung kelelahan. Adalah gol yang lahir dari kecerdasan emotional Iniesta
Yang menegaskan kecerdasan emotional kita semua, bahwa kita punya Emotional Quotient.

Kemudian Guardiolla memeluk Hidding, pelukan ketulusan seorang murid kepada guru
Bahwa seharusnya Guru mengantarkan Murid melewati dirinya. Ahh…alangkah indahnya,
Dan puncaknya adalah pelukan Lampard Kepada Iniesta
Baju Lampard kepada Ininesta yang mengalahkan dia.
Baju Iniesta kepada Lampard yang merestui kemenangannya.
Pelukan tulus adalah gambaran spiritualitas kita.
Bahwa kita memang punya kecerdasan spiritual,

Barca seri dengan Chlesea, tapi Barca lah yang melaju
Chelsea seri dengan Barca,tapi Chlesea lah yang tertahan.
Dalam hidup pun demikian, sebagian kita melaju
Sebagian kita bertahan.
Betapa hidup memang sepak bola
Dan sepak bola memang adalah hidup.
Kalau begitu.....
Marilah kita hidupkan sepak bola
Marilah kita sepak bolakan kehidupan
Dan kita punya tiga, IQ, EQ dan SQ
Q tanpa garis dibawah adalah memang O. Bola.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025