Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

KABINET INDONESIA BERSATU 2: ETIKA KARAKTER ATAU ETIKA KEPRIBADIAN


Cita-cita Steven Covey ketika menulis Bukunya yang sangat terkenal itu, "The 7 Habit Of Highly Effective People" adalah mengembalikan etika kepribadian kepada etika karakter. Mengembalikan kebiasaan untuk memenangkan satu tujuan dengan mempergunakan kemampuan "bersandiwara" atau pasang muka, kepada kebiasaan melakonkan suatu ketulusan dan prinsip-prinsip kebenaran. Karena menurut Mr Covey, keberhasilan yang dihasilkan dengan etika kepribadian tidak akan memberikan kesuksesan yang sejati, karena tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran yang universal. Sedangkan etika karakter berlandas kepada prinsip yang pada akhirnya akan menghasilkan kesuksesan yang sejati, karena alam juga menghendakinya.

Ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selesai membacakan susunan Kabinet Indonesia Bersatu 2, pikiran saya langsung berkata bahwa sebagian kecil para menteri yang dipilih karena memang karakter yang dia bina selama ini, sedangkan sebagian besar adalah karena kepiawaian mereka melakonkan etika kepribadian tadi. Oleh sebab itu akan terlihat bahwa para menteri yang dipilih karena karakternya akan mempunyai kebiasaan kerja yang lebih tinggi dan profesional. Sedangkan para menteri yang dipilih karena kepandaian politisnya, kemungkinan besar akan menjalankan jabatannya pertama-pertama untuk pertimbangan politisnya.

Dengan demikian, Rakyat Indonesia, atas nama politik dan demi partai yang dipilih mememangkan PEMILU beberapa waktu lalu tidak perlu berharap terlalu banyak. Cukup kita dukung mereka sambil mendoakan agar kesadarannya untuk membantu Presiden dengan komitmen kenegarawanan bisa muncul dalam waktu 5 tahun kedepan ini. Seandainya pun tidak, paling tidak keluarga mereka dan kolega serta partai yang mengutus mereka sudah mendapatkan kebanggaan dan kesehjahteraannya. Selamat bekerja untuk para menteri yang barusan terpilih. Tuhan memberkati Anda sekalian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025