Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP Periode: 27 September – 3 Oktober 2026
Thema: Pertanda Orang Yang Mengenal (Tanda Nandai Dibata)
Teks: 1 Yohanes 2 : 3 - 11
1 Yohanes 2:3-11
(3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya.
(4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.
(5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.
(6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.
(7) Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar.
(8) Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya.
(9) Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
(10) Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
(11) Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.
Pencarian manusia akan keberadaan Tuhan sering kali berhenti pada taraf pengetahuan intelektual (gnosis) atau pemenuhan ritual keagamaan semata. Namun, perikop 1 Yohanes 2:3-11 hadir sebagai sebuah undangan kasih yang begitu hangat sekaligus sebuah panggilan teologis yang sangat mendalam bagi seluruh jemaat. Rasul Yohanes tidak sekadar mengajak kita untuk percaya bahwa Allah itu ada, melainkan membimbing setiap jemaat untuk mengenal Tuhan secara lebih mendalam (mengenal yang intim dan transformatif).
Mengenal Allah bukanlah perkara pengakuan bibir atau gelar keagamaan, melainkan sebuah relasi personal yang mengubah seluruh hakikat hidup kita. Perikop ini membongkar kepalsuan iman yang hanya berhenti pada kata-kata, dan menuntun jemaat memasuki perjumpaan yang hidup dengan Sang Terang. Di sini, setiap anggota jemaat diajak untuk mengevaluasi diri: Apakah pengenalan kita akan Allah telah menyentuh akar kedalaman jiwa, sehingga memancar keluar melalui ketaatan yang tulus dan kasih yang tidak berpura-pura? Mengakui dan mengenal Allah berarti membiarkan kehidupan-Nya mengalir dan mewujud nyata dalam tindakan harian kita.
Tanda paling utama seseorang mengenal Tuhan secara mendalam adalah dia menjalankan perintah Tuhan sebagai karakter hidupnya sehari hari yang penuh integritas. Baginya mengenal Tuhan dan menjalankan perintahNYA adalah sebuha kenikmatan yang tiada taranya.
Dalam diri orang yang sudah mengenal Tuhan, tidak ada lagi kepura puraan, tidak mengenal Tuhan secara partial atau setengah setangah. Panutan hidupnya yang paling utama dan terutama adalah menghidupi karakter atau tabiat Yesus Kristus.
Orang yang benar benar sudah mengenal Tuhan, maka dia menghormati dan mengasihi Tuhan dengan melakukan nya kepada suadara saudaranya sesama manusia. Bagi orang yang mengenal Tuhan, memandang manusia sebagai representasi kehadiran dan keberadaan Tuhan dalam dunia, maka dia tidak lagi pilih bulu, dan mengasihi manusia hanya berdasarkan impulsif, tapi siapapun manusia itu akan dia hormati dan kasihi.
Kabar Baik (Kerygma) yang diproklamasikan melalui perikop ini adalah bahwa kasih Allah yang sempurna telah dinyatakan dan hadir secara nyata dalam diri Yesus Kristus. Kita tidak lagi berjalan dalam kegelapan yang membingungkan dan membutakan, sebab Terang yang sejati telah bercahaya. Injil membukakan bahwa Kristus bukan hanya teladan moral, tetapi Sumber Daya rohani yang memampukan kita untuk hidup taat dan mengasihi sesama. Lewat karya Kristus, kita dipanggil keluar dari kepura-puraan dosa menuju kebebasan hidup yang penuh integritas dan kasih yang murni.
Pengenalan akan Allah (Tanda Nandai Dibata) bukanlah teori yang diperdebatkan, melainkan realitas hidup yang dihidupi. Bukti tertinggi bahwa kita telah mengenal Tuhan secara mendalam adalah ketika kasih-Nya melimpah dalam hidup kita, membentuk integritas karakter seperti Kristus, dan mengalir nyata dalam tindakan mengasihi sesama manusia tanpa batas. Marilah kita meninggalkan kegelapan kepura-puraan dan terus berjalan di dalam terang kasih Kristus.
"Mengenal Tuhan bukan tentang berapa banyak yang kita katakan tentang Dia, melainkan seberapa banyak karakter Kristus dan kasih-Nya yang terpancar melalui hidup kita sehari-hari."
Komentar