Featured Post

Surat Ukat, Endi-Enta, dan Soteriologi Calvin: Temuan Kontekstual Anugerah dan Perbuatan Baik

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting Abstrak ​Artikel ini mengeksplorasi korelasi antara filosofi hidup masyarakat Karo yang terekam dalam konsep Surat Ukat ( Endi-Enta ) dengan soteriologi Calvinis, khususnya mengenai doktrin anugerah Allah ( sola gratia ) dan perbuatan baik sebagai ucapan syukur ( gratitudo ). Melalui pendekatan teologi kontekstual, tulisan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal Karo menyediakan gambaran kultural yang tepat untuk memahami keterdahuluan anugerah Allah sebelum tanggung jawab etis manusia. I. Pendahuluan ​Masyarakat Karo memiliki pandangan hidup yang berakar kuat pada pemeliharaan kehidupan dan relasi sosial. Salah satu ekspresi filosofis yang terekam dalam budaya Karo—terutama melalui Surat Ukat (surat ucapan/ungkapan kehendak hati)—adalah dinamika relasional antara Endi (memberi) dan Enta (meminta respon/hasil) [1]. ​Dalam kehidupan sehari-hari, makanan berfungsi sebagai simbol utama pemeliharaan. Orang Karo percaya bahwa Tuhan ( Dibata ) adalah Pemb...

Menjewer Di Depan Orang Banyak Tidak Sesuai Dengan Prinsip Human Relation

Sebuah peristiwa yang meruntuhkan hubungan antar manusia (Human Relation) terjadi di Medan Sumatra Utara.  Sebagaimana diberitakan secara luas di media media sosial dan media online, bahwa seorang pelatih dipanggil kedepan panggung untuk dijewer lalu kemudian diusir oleh gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi.

Media besar seperiti Kompas online pun ikut memberitakan peristiwa ini. Kompas.com memberitakan seperti kutipan dibawah ini :

Pelatih biliar, Khoiruddin Aritonang, dijewer oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi. Peristiwa ini terjadi di Aula Tengku Rizal Nurdin, rumah dinas gubernur di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Senin (27/12/2021). Kala itu tengah berlangsung acara penyerahan bonus kepada atlet dan pelatih Sumut yang berprestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX. Tak cuma dijewer, pria yang kerap disapa Choki itu juga diusir oleh Edy.

Atas kejadian itu, Khoiruddin Aritonang dikatakan masih merasa kesal.

Atas kejadian itu, Choki masih kesal dengan sikap Edy Rahmayadi tersebut. "Baru kali ini lihat pemimpin, orang tidak tepuk tangan (saat) dia cakap, dia marah," ujarnya, Selasa (28/12/2021).

 Berita secara lengkap bisa dibaca disini.

Penulis buku How To Win Friends and Influence People, Dale Carnegie menggagas 30 Prinsip Hubungan Antar Manusia (Human Relation Principles) dan satu diantaranya, “Selamatkanlah muka orang lain” atau Let the other person save face  Buku ini masih dibaca sampai sekarang, dan banyak pihak mengakui akan kebenaran prinsip ini.

Sumber Photo : https://bobby-c-blog.com/how-to-win-friends-and-influence-people/

Nah jika mengacu kepada prinsip diatas, maka apa yang dilakukan oleh Gubernur Edy Rahmayadi  tidak pas, atau melanggar prinsip human relation atau prinsip hubungan antar manusia.  Sebab apapun yang menjadi alasan dipanggil, dijewer didepan umum serta diusir dengan suara lantang dari pertemuan, maka Khoiruddin Aritonang sudah merasa kesal, malu dan marah.  Prinsip Human Relation adalah sumber etika dalam memperlakukan orang lain. Dan tujuan memperlakukan secara prinsip adalah menimbulkan rasa senang orang lain, yang selanjutnya akan menguatkan hubungan baik.

Nah, untuk memperbaiki hubungan baik jika sudah terjadi seperti ini hanya satu, tidak ada yang lain yaitu minta maaf.  Gubernur Edy Rahmayadi menurut saya harus minta maaf kepada Khoiruddin Aritonang bukan memberi alasan alasan untuk membenarkan tindakannya secara logis.  Sebab hubungan baik bukan masalah logis, tapi masalah hati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025