Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Menjewer Di Depan Orang Banyak Tidak Sesuai Dengan Prinsip Human Relation

Sebuah peristiwa yang meruntuhkan hubungan antar manusia (Human Relation) terjadi di Medan Sumatra Utara.  Sebagaimana diberitakan secara luas di media media sosial dan media online, bahwa seorang pelatih dipanggil kedepan panggung untuk dijewer lalu kemudian diusir oleh gubernur Sumatra Utara Edy Rahmayadi.

Media besar seperiti Kompas online pun ikut memberitakan peristiwa ini. Kompas.com memberitakan seperti kutipan dibawah ini :

Pelatih biliar, Khoiruddin Aritonang, dijewer oleh Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi. Peristiwa ini terjadi di Aula Tengku Rizal Nurdin, rumah dinas gubernur di Medan, Sumatera Utara (Sumut), Senin (27/12/2021). Kala itu tengah berlangsung acara penyerahan bonus kepada atlet dan pelatih Sumut yang berprestasi di Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua XX. Tak cuma dijewer, pria yang kerap disapa Choki itu juga diusir oleh Edy.

Atas kejadian itu, Khoiruddin Aritonang dikatakan masih merasa kesal.

Atas kejadian itu, Choki masih kesal dengan sikap Edy Rahmayadi tersebut. "Baru kali ini lihat pemimpin, orang tidak tepuk tangan (saat) dia cakap, dia marah," ujarnya, Selasa (28/12/2021).

 Berita secara lengkap bisa dibaca disini.

Penulis buku How To Win Friends and Influence People, Dale Carnegie menggagas 30 Prinsip Hubungan Antar Manusia (Human Relation Principles) dan satu diantaranya, “Selamatkanlah muka orang lain” atau Let the other person save face  Buku ini masih dibaca sampai sekarang, dan banyak pihak mengakui akan kebenaran prinsip ini.

Sumber Photo : https://bobby-c-blog.com/how-to-win-friends-and-influence-people/

Nah jika mengacu kepada prinsip diatas, maka apa yang dilakukan oleh Gubernur Edy Rahmayadi  tidak pas, atau melanggar prinsip human relation atau prinsip hubungan antar manusia.  Sebab apapun yang menjadi alasan dipanggil, dijewer didepan umum serta diusir dengan suara lantang dari pertemuan, maka Khoiruddin Aritonang sudah merasa kesal, malu dan marah.  Prinsip Human Relation adalah sumber etika dalam memperlakukan orang lain. Dan tujuan memperlakukan secara prinsip adalah menimbulkan rasa senang orang lain, yang selanjutnya akan menguatkan hubungan baik.

Nah, untuk memperbaiki hubungan baik jika sudah terjadi seperti ini hanya satu, tidak ada yang lain yaitu minta maaf.  Gubernur Edy Rahmayadi menurut saya harus minta maaf kepada Khoiruddin Aritonang bukan memberi alasan alasan untuk membenarkan tindakannya secara logis.  Sebab hubungan baik bukan masalah logis, tapi masalah hati. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025