Featured Post

The Trump Leadership Pattern: Leading Humanity to Contemplate the Death of the Greatest Leader of All Time, Jesus Christ

Gambar
By: Analgin Ginting & Gemini AI Introduction: The Ontological Crisis of Modern Governance In the dawn of 2026, the global landscape finds itself in a state of "spiritual vertigo." While the Fourth Industrial Revolution has provided unprecedented material comfort, a hollow void remains in the collective soul of humanity. Modern leadership has long been reduced to mere administration—a sterile management of resources, inflation rates, and geopolitical stability. However, the human spirit yearns for more than a "standard of living"; it hungers for a "standard of being." It is within this vacuum that the leadership of Donald Trump emerges not merely as a political phenomenon, but as a disruptive spiritual archetype. By breaking the conventional mold of the presidency, Trump has inadvertently (or perhaps intentionally) forced humanity to re-evaluate the very essence of power, sacrifice, and the ultimate telos of leadership. This essay argues that Trump’s tr...

Aku Tidak Akan Pernah Menyalahkanmu Sekalipun Kamu Sangat Menjengkelkanku

Sartono Mukadis almarhum  pernah bercerita tentang pengalaman masa kecilnya dan ditulis di Harian Kompas. Dia bercerita tentang pasword keberhasilannya menjadi seorang psikolog kondang di Indonesia. Suatu saat, ketika dia masih sekolah di SMP di Bogor dia pulang ke rumah dengan ketakutan. Dia takut dimarahi ibunya, karena pada hari itu dia baru saja menerima Buku Rapor Pendidikan, dan dia tinggal kelas.
Dia sudah membayangkan bahwa ibunya akan marah besar atas ketidak becusan dirinya sehingga dia tidak naik kelas. Namun ketika itu ibunya menampilkan suatu respon  yang sama sekali berbeda dengan apa yang sudah dia bayangkan.


Ibunya hanya berkata : ” Ton, ibu tidak marah meskipun kamu tinggal kelas. Namun perlu ibu sampaikan kepadamu, bahwa apa yang kamu peroleh kelak dalam hidupmu tidak akan berbeda dengan apa yang kamu tanam sejak sekarang”. 


Sartono Mukadis berkata kepada wartawan Kompas yang mewawancarainya bahwa reaksi dan perkataan ibunya sangat diluar dugaannya. Lalu pada saat itu muncullah tekad dalam hatinya untuk belajar sungguh sungguh, sebab malu kepada ibunya. Tahun berikutnya dia naik kelas sebagai juara kelas. Sartono Mukadis menambahkan bahwa kata kata ibunya adalah pasword (kata kunci) keberhasilannya menjadi salah seorang psikolog yang paling terkenal di Indonesia.


                                          Sumber Foto : www.colourbox.com

Berbuat salah tapi tidak dipersalahkan, akan membuat orang yang salah menyadari sepenuhnya kesalahannya tanpa disinggung perasaannya. Lalu dia membuat komitmen sehingga mendapat perubahan besar dalam hidupnya.


Kita pun sering mendapati teman kerja, atau bawahan, saudara, pasangan yang berbuat kesalahan. Lalu tanpa mampu mengontrol emosi kita langsung mendamprat. Kita langsung mengkritik, mempersalahkan. Kita punya alasan supaya dia berubah, supaya dia mengingat kesalahannya dan tidak berbuat lagi hal yang serupa dimasa yang akan datang.


Kadang kadang reaksi kita berlebihan, kita terbawa emosi sehingga kata kata yang keluar melebihi porsi. Dan hal ini menimbulkan perasaan tidak enak, bahkan perasaan  benci dalam diri orang yang kita salahkan itu. Apakah selanjutnya dia akan berubah? Kalau perasaan sakit hati dan benci nya kepada orang  yang memarahinya besar dan membekas maka dia tidak akan berubah. Sebab kunci perubahan dari dalam hati, bukan dari luar hati. Orang tidak berubah karena dimarahi, orang tidak berubah karena diancam, orang tidak berubah karena dirayu atau dibujuk. Namun orang berubah karena satu hal saja, dia mau berubah. Dia mau berubah kalau perasaan hatinya enak, dia mau berubah untuk menunjukkan rasa hormatnya. Inilah yang dialami oleh Sartono Mukadis.


Dale Carnegie berkata bahwa prinsip yang paling penting dalam pergaulan atau pertemanan termasuk hubungan kerja adalah tidak  pernah menyalahkan orang lain. Sebab siapapun di muka bumi ini tidak mau disalahkan sekalipun dia terbukti benar benar salah. Lalu Dale Carnegie memberi banyak contoh dalam bukunya yang sangat terkenal “ How To Win Friend And Influence People”.


Manusia itu makhluk yang punya perasaan kata Dale Carniege menambahkan. Perasaan lah yang menggerakkan seseorang untuk bergerak, berinisiatif dan berubah. Ketika kita menyalahkan seseorang, bisa saja dia terima kesalahannya dalam otaknya atau akalnya, namun hatinya panas. Artinya dia bisa saja mengakui kesalahannya, namun karena hatinya sudah panas maka kemungkinan besar dia akan menutup diri dan tidak mau melakukan perubahan. Sebaliknya ketika seseorang berbuat kesalahan, dan kita tidak menyinggung kesalahannya bisa saja dia berubah karena merasa dihormati atau dihargai sebagai manusia.


Masih ingat Sang pelukis kondang yang dulu sering muncul di TVRI Tino Sidin ? Dia tidak pernah berkata lukisan anak didiknya buruk atau jelek. Tapi selalu dikatakan bagus. Bagaimanapun hasil lukisan anak anak pasti akan dikatakan bagus. Tujuannya supaya semangat belajar dan melukis anak anak itu tetap tinggi.
Jadi teman teman sekalian mari coba kita praktekkkan. Jangan pernah mengakatakan salah kepada orang lain atau siapapun sekalipun dia berbuat kesalahan. Sebab bukan kesadaran otaknya yang perlu kita menangkan, namun perasaan hatinya lah yang perlu kita jaga. Dalam semua pergaulan dan pekerjaan kalau tidak ada aling mempersalahkan maka lingkungan kita akan lebih baik dan saling menghargai. Selanjutnya hubungan kita pun akan bertumbuh makin baik dan berkelanjutan. Selamat mencoba.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025