Featured Post

Kesalahan Tak Disadari: Bahaya Berpikir Dangkal dan Pasif bagi Pendeta dan Presbiter

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.  ​Dalam dinamika pelayanan gereja, kita sering kali mengukur "kejahatan" atau kesalahan kepemimpinan dari skandal-skandal besar yang tampak di permukaan: korupsi keuangan, penyimpangan moral, atau ajaran sesat. Namun, ada bentuk bahaya lain yang jauh lebih halus, destruktif, dan merayap perlahan merusak tatanan gereja tanpa disadari—yaitu kedangkalan berpikir dan sikap pasif dari para pelayan-Nya (Pendeta dan Presbiter). ​1. Akar Konsep: "Kejahatan Karena Kedangkalan Berpikir" ​Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat ( malice ), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya. ​Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan de...

Bahasa Indonesia Ternyata Sangat Indah Dan Menyejukkan

Rasanya mirip dengan mendengar Lagu Indonesia Raya dinyanyikan di Olimpiade saat ada atlit Bangsa Kita menerima medali emas. Begitulah kami rasakan saat mendengar ada doa yang diucapkan dalam Bahasa Indonesia ketika mengikuti ibadah/doa musim panas di Taize Perancis Selatan.

Doa yang dilakukan 3 kali setiap hari dengan durasi masing masing tidak lebih dari 1 jam diikuti dengan sangat khikmat oleh lebih 3000 orang peserta dari seluruh Eropah, ditambah beberapa negara Afrika, Asia, dan Amerika Utara dan Latin. Peserta kebanyakan berusia remaja, namun ada juga orang tua berusia 30 sampai 8o tahun. Bahkan banyak yang membawa karavan dan datang besert5a keluarganya.



Doa dan ibadah dilakukan di dalam Gereja yang selalu penuh terisi optimum sesuai dengan daya tampunya. Setiap doa ada nyanyian model Taize yang dinyanyikan berulang ulang dengan sangat khikmat. Lalu ada pembacaan kita suci secara singkat dengan berbagai bahasa, dengan bahasa yang paling sering dipakai tentu saja Bahasa Prancis. Lalu ada bahasa Italia, Spanyol, Ukraina, Rusia, Belanda, Swedia, Polandia, Latin, Jerman, Lituania, Bulgaria, Albania, Inggris Irlandia, Ingris Skotlandia, yang sulit bagi telinga kami untuk menangkap maknanya.

Begitulah saat ada pembcaan Kitab Suci dalam bahasa Indonesia, rasanya kami pun sejajar dengan bangsa bangsa lain. Padahal dalam 3000 sampai 4000 orang yang menghadiri dalam minggu tanggal 8 sampai 15 Juli hanya ada 5 orang Indonesia ditambah 2 orang Bruder dari Indonesia. Hanya ada 7 orang Indonesia dalam kebaktian yang dihadiri 4000 orang lebih di sebuah desa pegunungan di Perancis Selatan, nikmatnya bukan main. Ternyata Bahasa Indonesia itu sangat Indah dan mempesona. Dan kami sangat merindukannya.




Dua orang Bruder keturunan Indonesia adalah Bruder Francesco dari Jogja yang sudah 20 tahun di Taize dan Bruder Andre dari Tegal yang sudah 17 tahun di Taize, membaktikan dirinya secara total untuk menjadi sahabat segala Bangsa. Mereka membaktikan diri untuk kemuliaan Tuhan, dan menjadi penyejuk bagi Bangsa Bangsa. Orang ketiga adalah seorang wanita dari Jakarta, yang menjadi Voluntir selama 3 bulan di Taize serta 4 orang Karo dari GBKP.
Empat orang Karo ke Taize atas ajakan Pendeta dan Pemuda Gereja Lutheran di Lubbecke Jerman, yang mempunyai kerjasama dengan GBKP Klasis Sibolangit. Ajakan yang sangat indah dan sangat prestisius karena tidak akan terlupan selama lamanya.




Ada Cinta dan kedamaian yang kami temukan dan rasakan di Taize. Bahkan ada kehausan yang sangat mendasar yang kami rasakan terobati di dalam hening yang sengaja dijadikan bagian terpenting dalam setiap doa. Lalu saat perlahan menyanyikan lagu, Let All Who Are Thirsty Come bus kami perlahan meninggalkan Oyak tempat kaum muda setiap malam bersosialisasi dan bersenda gurau sambil menikmati minuman khas Cidre. Jus appel berpadu sedikit alkohol.

Let All Who Are Thirsty Come
Let All Who Wish Receive,
The Water Of Life Freely
Amen, Come On Lord Jesus. Amen.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025