Featured Post

Kesalahan Tak Disadari: Bahaya Berpikir Dangkal dan Pasif bagi Pendeta dan Presbiter

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.  ​Dalam dinamika pelayanan gereja, kita sering kali mengukur "kejahatan" atau kesalahan kepemimpinan dari skandal-skandal besar yang tampak di permukaan: korupsi keuangan, penyimpangan moral, atau ajaran sesat. Namun, ada bentuk bahaya lain yang jauh lebih halus, destruktif, dan merayap perlahan merusak tatanan gereja tanpa disadari—yaitu kedangkalan berpikir dan sikap pasif dari para pelayan-Nya (Pendeta dan Presbiter). ​1. Akar Konsep: "Kejahatan Karena Kedangkalan Berpikir" ​Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat ( malice ), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya. ​Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan de...

Antara Lady Gaga, MIranda Gultom dan RA Kartini

Sekeras apakah perjuangan yang dapat kita lakukan untuk mengabadikan kenangan positif kepada i anak anak , terutama cucu cucu kita?

Masih kah mereka percaya bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu, kalau mereka menghadapi neraka yang memalukan dan menyakitkan, saat ibu kandung dan nenek mereka harus mendekam di dalam penjara dalam kasus korupsi? Kasus yang ujungnya akan membuat rakyat semakin menderita di lilit kesulitan ekonomi yang tak berujung.

Satu satu perempuan berprestasi maha tinggi itu memasuki rumah tahanan yang dulu luput dari perhatian RA Kartini ketika dia dengan susa payah memperjuangkan kesamaan hak semua darah merah. Semua nafas yang dihembuskan oleh hidung hidung laki laki dan perempuan. Bahwa wanita itu tidak lebih rendah dari laki laki, dan laki laki tidak lebih tinggi dari wanita. Semua sama.

Sama jahatnya, sama boboroknya, sama pembohongnya, sama koruptornya. Sama gilanya terhadap kedudukan dan keinginan mempunyai harta dan kedudukan yang lebih tinggi.

Satu persatu wanita yang dikakinya bagian bawah itu ada cap surga melangkah kerumah tahanan KPK dan Cipinang.

Wahai Angelina Sondakh, Nunun Nurbaeti dan Miranda Gultom.

Kalian telah mempermalukan anak anak dan cucu kalian.

Kalian telah mementahkan pepatah abadi nan suci, bahwa Surga di bawah telapak kaki para iBu\

Kalian telah menggusarkan seluruh bangsa, dan membuat semua ibu dan wanita kehilangan kepercayaan diri dalam memberikan keteladanan bagi keluarganya .

Bahkan kalian telah membuat RA Kartini menggeliat menggeliat menyesal dalam alamnya, karena merasa pengalaman kalian tidak terlepas dari dampak perjuangan sucinya.


Dan kalian telah menorehkan sejarah kelam Bangsa Indonesia yang semakin terpuruk dalam upaya pemberantasa Korupsi untuk menuju kesejahteraan Rakyat.
Dan aku sudah tidak tahan lagi untuk mengatakan betapa memalukan perbuatan kalian.


Kalau Lady Gaga hanya lah Ibunya para monster imaginasi, kalian adalah bundanya para koruptor yang penakut dan pecundang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025