Catatan Tambahan PJJ 14 - 20 Juni 2026
Bahan: Matius 22 : 15 – 22
Thema: Tentang Bayar Pajak Kepada Pemerintah
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.
Perikop ini berada dalam konteks rangkaian perdebatan sengit di Yerusalem menjelang penyaliban Yesus. Setelah Yesus menyampaikan beberapa perumpamaan yang menelanjangi kedegilan hati para pemimpin agama, orang-orang Farisi merasa tersindir dan mulai merancang strategi yang lebih matang untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak lagi maju sendiri secara terang-terangan, melainkan menyusun sebuah jebakan politik-keagamaan yang sangat sistematis dengan melibatkan kelompok yang biasanya menjadi lawan politik mereka, yaitu orang-orang Herodian. Pertanyaan mengenai pajak ini bukanlah pertanyaan teologis yang tulus, melainkan sebuah konspirasi yang dirancang agar tidak ada jalan keluar yang aman bagi Yesus.
Orang Farisi tidak mau kalah dan menyerah dalam menjerat Yesus Kristus Tuhan. Kali ini mereka sengaja menyusupkan orang-orangnya untuk bertanya kepada Yesus, sebuah pertanyaan jebakan. Mereka menyusun sebuah pertanyaan berkaitan dengan pajak, dengan harapan kali ini Yesus Kristus akan kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Namun hasilnya di luar dugaan, Yesus menjawab dengan sangat simple, fokus, dan lugas. Akhirnya orang Farisi pun kecewa sekali.
Berkaitan dengan pajak Tuhan Yesus berkata, Yesus Kristus menjawab berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.
Inilah jawaban yang sebenarnya tentang pajak, sebuah jawaban yang sangat lugas namun dalam secara teologis. Berikan kepada kaisar dan kepada Allah menurut proporsi sebenarnya. Mantap.
Pertajaman Teologis:
Koin dinar itu dicetak oleh Kaisar, memuat gambar (eikon) Kaisar, dan menjadi hak milik otoritas kaisar; maka adalah adil jika koin itu dikembalikan kepada kaisar sebagai pemegang otoritas sipil. Namun, manusia—termasuk Kaisar itu sendiri—diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei, Kejadian 1:26-27). Otoritas pemerintah ada batasnya dan berada di bawah kedaulatan Allah. Kita memberikan uang/pajak kepada pemerintah sebagai wujud tanggung jawab warga negara, tetapi seluruh hidup, hati, dan ibadah kita hanya wajib diserahkan kepada Allah. Ketaatan kepada pemerintah tidak boleh menggeser ketaatan mutlak kita kepada Allah.
Pesan utama (Kerygma) dari nas ini adalah deklarasi tentang Kedaulatan Allah yang Mutlak di atas segala Otoritas Duniawi. Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah tidak datang untuk menghancurkan tatanan sipil melalui pemberontakan pajak yang sempit, melainkan untuk memperbarui hati manusia agar tunduk pada pemerintahan Allah. Injil memanggil kita untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, namun pada saat yang sama mengingatkan bahwa kepemilikan total atas hidup kita bukanlah milik negara, melainkan milik Allah Sang Pencipta.
Tuhan Yesus dengan hikmat-Nya yang ilahi meruntuhkan jebakan musuh-musuh-Nya sekaligus meletakkan fondasi etika Kristen yang agung mengenai hubungan Gereja dan Negara. Membayar pajak kepada pemerintah dan beribadah kepada Allah bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dijalankan dengan proporsi yang tepat. Jadilah warga negara dunia yang baik tanpa pernah kehilangan identitas utama kita sebagai warga Kerajaan Sorga yang kudus.
"Uang kita mungkin menyandang gambar kaisar atau lambang negara, tetapi jiwa dan hidup kita sepenuhnya menyandang gambar Allah. Berikan uangmu pada negara, tetapi serahkan totalitas hidupmu hanya kepada Tuhan!"
Komentar