Catatan Tambahan PJJ 31 Mei sd 6 Juni 2026
Bahan: Matius 22 : 15 – 22
Thema: Tentang Bayar Pajak Kepada Pemerintah
Kemudian pergilah orang-orang Farisi; mereka berunding bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata: "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu." Mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Maka Ia bertanya kepada mereka: "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah." Mendengar itu heranlah mereka dan meninggalkan Yesus lalu pergi.
Pendahuluan
Perikop ini berada dalam konteks rangkaian perdebatan sengit di Yerusalem menjelang penyaliban Yesus. Setelah Yesus menyampaikan beberapa perumpamaan yang menelanjangi kedegilan hati para pemimpin agama, orang-orang Farisi merasa tersindir dan mulai merancang strategi yang lebih matang untuk menjatuhkan-Nya. Mereka tidak lagi maju sendiri secara terang-terangan, melainkan menyusun sebuah jebakan politik-keagamaan yang sangat sistematis dengan melibatkan kelompok yang biasanya menjadi lawan politik mereka, yaitu orang-orang Herodian. Pertanyaan mengenai pajak ini bukanlah pertanyaan teologis yang tulus, melainkan sebuah konspirasi yang dirancang agar tidak ada jalan keluar yang aman bagi Yesus.
Fakta Berkaitan Nas
- Koalisi yang Tidak Lazim: Orang Farisi (nasionalis, anti-Romawi) dan orang Herodian (pendukung dinasti Herodes, pro-Romawi) bersatu demi satu tujuan: menyingkirkan Yesus (ay. 15-16).
- Pujian Palsu (Sanjungan): Mereka memulai dengan kata-kata manis—memuji Yesus sebagai orang yang jujur, tidak takut kepada siapa pun, dan tidak mencari muka—untuk menurunkan kewaspadaan Yesus (ay. 16).
- Dilema Pajak (Kensus): Pajak yang dimaksud (tribute tax) adalah pajak per kepala yang wajib dibayar kepada Roma menggunakan mata uang dinar Romawi. Jika Yesus berkata "Boleh", Ia akan dicap sebagai pengkhianat bangsa Yahudi dan penentang Allah. Jika Ia berkata "Tidak boleh", Ia bisa dilaporkan ke pemerintah Romawi sebagai pemberontak/pemicu makar.
- Mata Uang Dinar: Pada dinar Romawi waktu itu terdapat gambar Kaisar Tiberius dengan tulisan "Tiberius Caesar Augustus, Putra Dewa Augustus yang Agung". Bagi orang Yahudi saleh, memegang koin ini di area Bait Allah sebenarnya sudah mendekati pelanggaran hukum Taurat tentang berhala/patung.
- Jawaban Yesus yang Melampaui Jebakan: Yesus tidak terjebak dalam dikotomi "Ya" atau "Tidak", melainkan menyingkapkan kemunafikan mereka dan memberikan prinsip relasi antara kewarganegaraan duniawi dan surgawi (ay. 21).
Arti dan Makna Teologis (Dipertajam sesuai teks asli)
Orang Farisi tidak mau kalah dan menyerah dalam menjerat Yesus Kristus Tuhan. Kali ini mereka sengaja menyusupkan orang-orangnya untuk bertanya kepada Yesus, sebuah pertanyaan jebakan. Mereka menyusun sebuah pertanyaan berkaitan dengan pajak, dengan harapan kali ini Yesus Kristus akan kewalahan menjawab pertanyaan mereka. Namun hasilnya di luar dugaan, Yesus menjawab dengan sangat simple, fokus, dan lugas. Akhirnya orang Farisi pun kecewa sekali.
Berkaitan dengan pajak Tuhan Yesus berkata, Yesus Kristus menjawab berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.
Inilah jawaban yang sebenarnya tentang pajak, sebuah jawaban yang sangat lugas namun dalam secara teologis. Berikan kepada kaisar dan kepada Allah menurut proporsi sebenarnya. Mantap.
Pertajaman Teologis:
Koin dinar itu dicetak oleh Kaisar, memuat gambar (eikon) Kaisar, dan menjadi hak milik otoritas kaisar; maka adalah adil jika koin itu dikembalikan kepada kaisar sebagai pemegang otoritas sipil. Namun, manusia—termasuk Kaisar itu sendiri—diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei, Kejadian 1:26-27). Otoritas pemerintah ada batasnya dan berada di bawah kedaulatan Allah. Kita memberikan uang/pajak kepada pemerintah sebagai wujud tanggung jawab warga negara, tetapi seluruh hidup, hati, dan ibadah kita hanya wajib diserahkan kepada Allah. Ketaatan kepada pemerintah tidak boleh menggeser ketaatan mutlak kita kepada Allah.
Kerygma (Pemberitaan/Pesan Firman)
Pesan utama (Kerygma) dari nas ini adalah deklarasi tentang Kedaulatan Allah yang Mutlak di atas segala Otoritas Duniawi. Yesus memberitakan bahwa Kerajaan Allah tidak datang untuk menghancurkan tatanan sipil melalui pemberontakan pajak yang sempit, melainkan untuk memperbarui hati manusia agar tunduk pada pemerintahan Allah. Injil memanggil kita untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab, namun pada saat yang sama mengingatkan bahwa kepemilikan total atas hidup kita bukanlah milik negara, melainkan milik Allah Sang Pencipta.
Implementasi
- Tanggung Jawab Warga Negara yang Jujur: Orang Kristen harus menjadi pelopor dalam memenuhi kewajiban sipil, termasuk membayar pajak dengan jujur dan mendukung pembangunan, karena pemerintah adalah hamba Allah untuk mendatangkan ketertiban (Bdk. Roma 13:1-7).
- Menolak Kemunafikan: Belajar dari teguran Yesus, kita dipanggil untuk tidak mencari-cari alasan teologis demi menghindari tanggung jawab sosial atau hukum yang berlaku di negara kita.
- Proporsionalitas Iman dan Politik: Kita harus menjaga agar tidak mendewakan (mengultuskan) kekuasaan politik/pemerintah, dan juga tidak mengabaikan peran duniawi kita. Hak Allah (ibadah, kesetiaan iman, moralitas) harus ditempatkan di atas segala-galanya.
- Memberikan Diri kepada Allah: Karena diri kita membawa "gambar Allah", maka setiap hari kita harus mempersembahkan hidup kita (waktu, talenta, dan hati) sebagai persembahan yang hidup bagi-Nya.
Kesimpulan dan Penutup
Tuhan Yesus dengan hikmat-Nya yang ilahi meruntuhkan jebakan musuh-musuh-Nya sekaligus meletakkan fondasi etika Kristen yang agung mengenai hubungan Gereja dan Negara. Membayar pajak kepada pemerintah dan beribadah kepada Allah bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan, melainkan dijalankan dengan proporsi yang tepat. Jadilah warga negara dunia yang baik tanpa pernah kehilangan identitas utama kita sebagai warga Kerajaan Sorga yang kudus.
Power Statement
"Uang kita mungkin menyandang gambar kaisar atau lambang negara, tetapi jiwa dan hidup kita sepenuhnya menyandang gambar Allah. Berikan uangmu pada negara, tetapi serahkan totalitas hidupmu hanya kepada Tuhan!"
Referensi / Catatan Kaki
- Calvin, John. Institutes of the Christian Religion (Book IV, Chapter 20: On Civil Government). Mengulas tentang mandat ganda orang percaya terhadap otoritas sipil dan rohani.
- Barclay, William. Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Injil Matius Pasal 11-28. Jakarta: BPK Gunung Mulia. Penjelasan historis mengenai jenis pajak dan konspirasi Farisi-Herodian.
- Stott, John. Isu-Isu Global Menantang Kepemimpinan Kristen. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih. Pembahasan mengenai keterlibatan sosial-politik Kristen yang bertanggung jawab.
- Henry, Matthew. Exposition of the Old and New Testaments: Matthew 22. Ulasan teologis mengenai gambar koin dan gambar Allah pada diri manusia.

Komentar