Featured Post

Perlunya Pembinaan Partisipatif dan Regeneratif di GBKP Runggun Graha Harapan Bekasi

Gambar
  Pt. Em Analgin Ginting M.Min.  Pendahuluan Pembinaan jemaat merupakan salah satu tugas hakiki gereja yang tidak dapat dipisahkan dari panggilan teologisnya sebagai ekklesia—umat Allah yang dipanggil, dibentuk, dan diutus ke tengah dunia (Ef. 4:11–13). Gereja bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran iman, karakter, dan kepemimpinan. Oleh karena itu, pembinaan yang berkelanjutan, partisipatif, dan regeneratif menjadi indikator penting kesehatan sebuah gereja lokal. Dalam konteks Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), pembinaan memiliki makna yang lebih luas karena terkait erat dengan sistem pelayanan presbiterial-sinodal yang menekankan kepemimpinan kolektif-kolegial (runggu). Artikel ini hendak memperdalam, melengkapi, dan mengontekstualisasikan tulisan awal mengenai perlunya pembinaan di GBKP Runggun Graha Harapan Bekasi, dengan tetap mempertahankan esensi pengalaman empiris yang telah dituliskan, sekaligus memperkaya dengan muatan teologis dan refleksi aktual....

Catatan PJJ 27 Juli – 2 Agustus 2025

 Thema: Mampu Menguasai Diri (Ngasup Ngkuasai Diri)

Bahan: Amsal 25:25–28

Pengantar

Kemampuan menguasai diri adalah salah satu puncak kedewasaan spiritual dan karakter manusia. Di tengah dunia yang penuh desakan informasi, tekanan emosional, dan pencobaan moral, hanya mereka yang mampu menahan diri dan bertindak bijaklah yang akan tetap berdiri teguh. Amsal memberikan gambaran tajam dan simbolik mengenai pentingnya pengendalian diri sebagai pertahanan hidup yang kokoh dan sumber kehidupan yang murni. Ini adalah panggilan untuk menjadi pribadi yang tidak hanya berbicara benar, tetapi juga mampu mengelola emosi, keinginan, dan perilaku secara bijaksana demi memuliakan Allah.



Fakta

  1. Amsal 25:25 menggambarkan bahwa kabar baik dari negeri yang jauh menyegarkan jiwa seperti air sejuk bagi orang yang dahaga.
  2. Amsal 25:26 menyatakan bahwa orang benar yang tunduk atau takut kepada orang fasik adalah seperti mata air yang keruh dan sumber yang kotor.
  3. Amsal 25:27 mengingatkan bahwa tidak baik makan terlalu banyak madu—sebuah metafora untuk sikap berlebihan, termasuk dalam menerima atau mencari pujian.
  4. Amsal 25:28 menegaskan bahwa orang yang tidak bisa menguasai diri seperti kota tanpa tembok—rapuh, terbuka bagi serangan, dan tidak punya perlindungan.

Arti dan Makna Teologis

  1. Kualitas informasi dan sikap hidup seseorang sering kali bergantung pada sumber jiwanya. Bila jiwa tenang dan terhubung dengan hikmat ilahi, maka informasi atau respons yang lahir darinya menjadi seperti air sejuk yang menyegarkan orang lain. Namun bila orang benar membiarkan dirinya dikendalikan ketakutan terhadap orang fasik, maka pancaran hidupnya menjadi keruh dan kehilangan kemurniannya.

  2. Madu, yang melambangkan hal yang manis dan menyenangkan, harus dikonsumsi secara bijak. Bahkan dalam hal yang baik, manusia tetap perlu menahan diri dan tidak menjadi rakus atau haus pujian. Disinilah letak pentingnya disiplin rohani—dengan hidup dalam kedekatan kepada Kristus, manusia memperoleh kekuatan untuk mengendalikan keinginan diri yang berlebihan.

  3. Pengendalian diri adalah tembok pertahanan jiwa. Dalam konsep Ibrani, tembok kota adalah simbol kekuatan dan perlindungan. Bila pengendalian diri hilang, seseorang menjadi seperti kota yang temboknya runtuh—mudah diserang oleh godaan, amarah, hawa nafsu, dan tekanan dunia. Kehidupan yang tidak dikendalikan tidak bisa menjadi wadah bagi kemuliaan Tuhan.

Implementasi

  1. Dalam kehidupan pribadi, jemaat diajak untuk melatih disiplin rohani—baik dalam ucapan, konsumsi informasi, maupun dalam reaksi terhadap situasi yang memancing emosi. Misalnya, membatasi media sosial, melatih jeda sebelum merespons konflik, dan memperkuat hidup doa.

  2. Dalam kehidupan sosial dan pelayanan, kita perlu belajar tidak membiarkan tekanan sosial atau tekanan kelompok membuat kita kehilangan prinsip iman. Kesaksian hidup harus tetap murni walaupun berada di tengah dunia yang korup.

  3. Dalam keluarga dan komunitas, pengendalian diri dapat menjadi teladan bagi anak-anak, rekan kerja, maupun sesama pelayan. Mengendalikan amarah, menjaga ucapan, dan menahan dorongan ego akan memperkuat relasi dan mencerminkan kasih Kristus yang hidup.

Power Statement

"Pengendalian diri bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan tersembunyi dari jiwa yang tunduk kepada Tuhan."


"Tanpa tembok pengendalian diri, hidup kita terbuka terhadap kerusakan. Tetapi bersama Kristus, kita memiliki benteng yang tak tergoyahkan." 


"Mari jadi sumber air sejuk, bukan air keruh—hidup yang menguatkan sesama dan memuliakan Tuhan."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025