Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 26 April - 2 Mei 2026

Gambar
  Allah Yang Awal dan Akhir: Kompas Iman di Tengah Badai Dunia ​ I. Pengantar: Menghadapi Narasi Ketakutan Dunia ​Dunia hari ini seolah sedang merawat ketakutan massal. Krisis global, ketidakpastian ekonomi, dan dominasi narasi dari "orang-orang kuat" dunia menciptakan atmosfir kecemasan yang mencekam. Namun, teks Wahyu 1:4-8 hadir bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai pernyataan apokaliptik yang 100% relevan dengan realitas saat ini. Di tengah gempuran kuasa duniawi yang fana, kita dipanggil untuk mengalihkan pandangan kepada Satu Kuasa yang absolut dan kekal, menjadikannya satu-satunya panduan utama dalam langkah hidup sehari-hari. ​ II. Fakta Alkitabiah (Wahyu 1:4-8) ​Berdasarkan nas tersebut, terdapat beberapa pilar fakta yang mengukuhkan posisi umat beriman: ​ Sumber Damai: Salam kasih karunia datang dari Allah Tritunggal—Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang; dari tujuh roh di hadapan takhta-Nya; dan dari Yesus Kristus. ​ ...

Ilmuwan Kuak Rahasia 'Kehidupan' Setelah Mati

 Sumber :  http://u.msn.com/id-id/berita/dunia/ilmuwan-kuak-rahasia-kehidupan-setelah-mati/ar-BBvGBCJ?ocid=TSHDHP



Kematian adalah konsekuensi tak terhindarkan dalam kehidupan, tapi baru-baru ini sejumlah peneliti mengaku 'membenarkan' adanya kehidupan setelah kematian. Apa maksudnya?
Menurut para pakar, kesadaran (consciousness) manusia ternyata berlanjut bahkan setelah jantung seseorang berhenti berdetak.

Dikutip dari News.com.au pada Selasa (16/8/2016), suatu penelitian oleh para ilmuwan Inggris terhadap lebih dari 2.000 orang memberi konfirmasi bahwa pikiran tetap bekerja bahkan setelah kematian.

Terungkap juga bukti adanya pengalaman 'luar raga' pada seorang pasien yang telah dinyatakan meninggal oleh tenaga medis.
Menurut para ilmuwan, otak manusia berhenti melakukan kegiatan selama 30 detik setelah jantung berhenti memompa darah ke seluruh tubuh dan kesadaran berhenti juga kira-kira pada waktu yang sama.

Namun demikian, sebuah penelitian oleh University of Southampton menengarai hal yang berbeda. Penelitian baru tersebut menunjukkan bahwa orang masih lanjut mengalami kesadaran hingga 3 menit setelah kematian.

Dr. Sam Parnia yang menjadi kepala penelitian menjelaskan, "Berlawanan dengan pandangan selama ini, kematian bukanlah suatu momen yang spesifik, tapi suatu proses yang berpotensi dibalik dan terjadi setelah sakit parah atau kecelakaan yang menyebabkan jantung, paru-paru, dan otak berhenti berfungsi."

"Jika ada upaya-upaya untuk membalik proses ini, hal itu disebut sebagai 'gagal jantung', tapi jika upaya-upayanya tidak berhasil, hal ini disebut dengan 'kematian'."

Di antara 2.060 pasien dari Austria, Amerika, dan Inggris yang diwawancarai untuk penelitian dan telah menyintas kejadian terhentinya jantung, sekitar 40 persen mengatakan bahwa mereka mampu menyebutkan suatu bentuk kesadaran setelah diumumkan mati secara klinis.
Dr. Parnia menjelaskan pentingnya hal ini, "Hal ini menengarai adanya sejumlah orang yang pada awalnya memiliki kegiatan mental tapi kemudian kehilangan ingatan setelah mereka pulih, baik karena dampak cedera otak maupun obat bius pada pemanggilan ingatan tersebut."
Hanya 2 persen pasien yang menjelaskan pengalaman konsisten dengan pengalaman 'luar raga', yaitu sensasi ketika seseorang merasa hampir sadar sepenuhnya tentang keadaan sekeliling setelah mereka meninggal.

Sekitar setengah dari penjawab penelitian mengatakan bahwa pengalaman mereka bukan sebagai kesadaran, tapi sebagai ketakukan.
Mungkin salah satu temuan yang paling penting dalam penelitian ini adalah ketika seorang pria berusia 57 tahun diduga sebagai yang pertama membenarkan pengalaman 'luar raga' pada seorang pasien.

Setelah mengalami gagal jantung, pasien itu mengungkapkan mampu mengingat apa yang terjadi di sekitarnya dengan ketepatan yang luar biasa setelah mati untuk sementara waktu.

Dr. Parnia mengatakan, "Hal ini penting, karena seringkali disangka bahwa pengalaman berkaitan dengan kematian kemungkinan besar hanyalah halusinasi atau ilusi yang terjadi sebelum jantung berhenti atau setelah jantung berhasil digiatkan kembali, tapi bukan dipandang sebagai suatu pengalaman berkaitan dengan kejadian 'nyata' ketika jantungnya tidak berdetak."

"Dalam kasus ini, kesadaran dan kewaspadaan seperti terjadi selama masa 3 menit ketika sedang tidak ada detak jantung."

"Terdengar seperti paradoks, karena otak biasanya berhenti berfungsi dalam 20 hingga 30 detik setelah jantung berhenti dan tidak bergiat lagi sebelum jantung dimulai lagi."
"Lebih daripada itu, ingatan terinci tentang kewaspadaan visual dalam kasus ini konsisten dengan kejadian-kejadian yang telah mendapat verifikasi."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025