Featured Post

Paradox Leadership: Rekonstruksi Mandat Matius 10:16 di Tengah Hegemoni Sistem Dunia

Gambar
  Pt. Em. Analgin Ginting ​ A. Pendahuluan ​Kita sedang hidup dalam sebuah era yang oleh para pemikir kontemporer disebut sebagai Age of Complexity . Di sini, batasan antara kedaulatan moral dan kepentingan korporasi global menjadi semakin kabur. Kepemimpinan spiritual sering kali terjepit di antara dua kegagalan eksistensial: menjadi relik masa lalu yang tidak lagi relevan karena kebebalan intelektual, atau menjadi sekadar pelumas bagi mesin kapitalisme global karena kompromi moral. Fenomena ini menuntut sebuah diskursus yang lebih dari sekadar retorika mimbar. ​Dunia hari ini tidak lagi hanya dikelola oleh kebijakan negara yang terlihat, melainkan oleh kekuatan teknokrasi dan algoritma moneter yang seringkali berjalan tanpa wajah namun memiliki dampak yang sangat nyata bagi kemanusiaan. Dalam konteks inilah, suara gereja harus bermetamorfosis. Gereja tidak boleh lagi hanya menjadi institusi ritual, melainkan harus menjadi institusi penjaga martabat manusia di hadapan sistem...

Gunungku Sahabatku



Gunung Sinabung belum berhenti meletus. Setiap hari ada kepulan asap yang keluar dari dua kawahnya yang paling besar. Melontarkan ribuan ton material berupa debu dan batu batu ringan.  Suara gemuruhnya pun tak henti, meski tak kedengaran sampai jauh.  Sekali sekali dia menggelegar menunjukkan keperkasaannya.  Gunung Sinabung sedang bertumbuh, jika selama ini dia diam manis sambil memberikan tanah subur, udara segar dan pemandangan yang sangat indah, maka saat ini dia bereaksi menurut kenyataan sebenarnya.



Hakekat Gunung Sinabung adalah ciptaan Tuhan.  Tuhan lah satu satunya Sang Pencipta Gunung Sinabung  dan seluruh gunung di alam semesta ini.   Tuhan menciptakan gunung untuk menunjukkan kehendakNya.  Salah satu kehendak Tuhan tentang gunung adalah Yesaya pasal 2 ayat 2 dan 3 : 

 Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana,

dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem."

Tuhan membuat Gunung Sinabung  untuk memusatkan perhatian seluruh Bangsa.  Di saat korupsi dan kelaliman merajalela di seluruh pelosok Nusantara, perhatian semua Bangsa ke Gunung Sinabung. Termasuk Badan PBB malalui UN OCHA (United Nation Office Coordinator Humanitarian Affair) pun ikut memusatkan perhatian melalui pertemuan pertemuan yang dilakukan. Lintas agama, lintas bahasa, lintas budaya dan disiplin ilmu dikumpulkannya semua orang termasuk tokoh tokoh Karo dikantornya yang mentereng di Jalan Thamrin Jakarta.  Tujuannya hanya satu, perhatikan Gunung Sinabung, perhatikan disana ada Tuhan.


Maka berembuklah semuanya memikirkan apa yang dibutuhkan oleh 16.000 lebih pengungsi yang ada di posko posko penanggulangan bencana. Tidak boleh ada satu orang pun yang kekurangan makanan, tidak boleh ada satu orang pun pengungsi yang tidak mendapat tempat.  Lalu berduyun duyunlah bantuan datang.


Namun, Pak Surono sesepuh Gunung Api  Indonesia menegaskan.  Tidak boleh hanya satu fokus, tapi harus dua fokus.  Fokus pertama adalah penuhi kebutuhan kebutuhan darurat selama masa pengungsian.  Fokus kedua adalah siapkan perubahan masyarakat.  Masyarakat dari desa desa yang paling dekat ke  Gunung Sinabung harus mampu menerima kenyataan bahwa Gunung Sinabung tak mungkin lagi seperti sedia kala. 

 Gunung Sinabung akan terus begitu mengikuti tahapan perkembangannya.  Jadi masyarakat pun harus berubah, menerima kenyataan ini.  Harus hidup dengan keadaan baru Gunung Sinabung.  Jangan lagi tanya, “kapan berhenti” namun terimalah kenyataan dan jadikan Gunung Sinabung sebagai teman, bahkan teman paling dekat. 

 Gunung Sinabung menjadi pelengkap janji Tuhan dalam Jesaya pasal 2, bahwa Gunung akan dipakai sebagai tempat mendirikan Rumah Tuhan.  Supaya semua bangsa melihat kebesaran Tuhan dan selanjutnya hidup dalam terang Tuhan. Maha Besar lah Engkau Ya Tuhan, namaMU abadi selama lamanya. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025