Featured Post

​Catatan Tambahan PJJ 28 Juni – 4 Juli 2026

Gambar
 ​ Bahan: Amos 5 : 21 - 24 Thema: Kejujuran Ibarat Aliran Sungai Besar ( Kebujuren Desken Lau Mbelin ) ​"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu. Sungguh, apabila kamu mempersembahkan kepada-Ku korban-korban bakaran dan korban-korban sajianmu, Aku tidak suka, dan korban keselamatanmu berupa ternak yang tambun, Aku tidak mau pandang. Jauhkanlah dari pada-Ku keramaian nyanyian-nyanyianmu, lagu gambusmu tidak mau Aku dengar. Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." ​ Pendahuluan ​Kitab Amos ditulis oleh seorang peternak dan pemetik buah ara dari Tekoa yang dipanggil Tuhan untuk bernubuat bagi Kerajaan Utara (Israel) pada masa pemerintahan Raja Jerobeam II. Pada masa itu, Israel mengalami kejayaan ekonomi, stabilitas politik, dan kemakmuran yang luar biasa. Namun, di balik kemegahan lahiriah tersebut, terjadi pembusukan moral, penindasan terhadap kaum lemah, mani...

Memelas Sepotong KATA

Jarang orang memelas untuk mendapatkan sepotong Kata. Biasanya orang memelas untuk mendapatkan sepotomg roti atau nasi, atau untuk mendapatkan makanan. Di jaman m odern ini banyak juga orang memelas untuk mendapatkan jabatan atau proyek. Yang paling paling baru dan menjadi tontonan seluruh bangsa Pemerintah memelas untuk mendapatkan dukungan dari DPR supaya BBM bisa dinaikan harganya.

Seseorang perwira yang sangat tinggi leadershipnya, mendengar Yesus ada di sekitar rumahnya. Lalu meminta tokoh tokoh agama Yahudi yang menjadi kerabtnya me Lobby Yesus agar berkenan berkunjung ke rumahnya untuk menyembuhkan hambanya yang sedang sakit.
Saat melobby Yesus, utusannya mengatakan bahwa perwira yang Bukan Yahudi ini baik orangnya dan sering membantu pembangunan rumah ibadat. Mereka mendesak agar Yesus datang untuk menyembuhkan hambanya. Pencitraan yang telah dia lakukan memberanikan semua utusan ini untuk mendesak kunjungan Yesus. Luluh lah hati dan tergerak jiwa Yesus untuk datang berkunjung. Meminta kunjungan Yesus bukan untuk menyembuhkan istri atau anaknya, bukan untuk mendapatkan popularitas dan peluang untuk kedudukan yang lebih tinggi. Namun untuk menyembuhkan hambanya, suruh suruhannya, orang hina dirumahnya. Dan ditegaskan bahwa perwira ini istimewa karena banyak memihak bangsa Yahudi.

Ketika Yesus datang mendekat, iman itu muncul kepermukaan. Masih melalui sahabatnya dipesankanlah bahwa Yesus tidak perlu datang kerumah mewah perwira ini, karena merasa tidak layak dikunjungi orang sederhana yang tidak punya rumah tinggal, meskipun Dia adalah Raja dari segala Raja.

Lalu bercermin lah sang perwira ini dari pengalamannya sendiri. Aku punya bawahan, dan bawahanku pun punya bawahan lagi. Jika aku sebutkan sebuah perintah kepada hambaku ini maka dia pasti akan mengikutinya. Kalau akau bilang berdiri, mereka akan berdiri. Kalau aku bilang datang, merea akan datang. Kalau aku bilang pergi mereka segera akan pergi. Oleh sebab itu, katakan lah sepotong kata Oh Yesus. Maka hambaku akan sembuh.

Perwira ini secara ikhlas di puncak seluruh pemahaman dan keyakinannya merendahkan hatinya serta memposisikan diri sebagai bawahan atau hamba di depan Sang Guru Agung. Lalu memelas untuk mendapatkan ( hanya) sepotong kata demi kesembuhannya bawahannya. Kecerdasan, kebanggaan, kedudukan dan seluruh citra dirinya dipertaruhkan nya demi kesembuhan orang asing yang bukan siapa siapa itu. Lalu apa yang dia peroleh?

Diceritakan dalam Lukas 7 : 1-10, Yesus Kristus memuji setinggi tingginya iman sang perwira. Bahkan membuat perbandingan yang sangat fundamental tentang Iman, yang kelak menentukan lokasi geologis pusat kekristenan dunia. Yesus dengan terus terang mengatakan bahwa Iman Sang Perwira lebih tinggi dari kebanyakan orang Yahudi, bangsa pilihan atau bangsaNya sendiri. Di depan orang banyak yang mengikutiNya Yesus mengatakan keheranan dan apresiasinya kepada Iman sang perwira.

Kisah ini berhenti sampai disini saja. Tidak ada diceritakan bahwa Yesus tetap berkunjung untuk menemui sang perwira. Namun pesannya sangat dalam, tidak perlu bertemu dengan Yesus secara fisik untuk percaya dan mendapat berkah. Cukup sepotong kata, dan iman akan melengkapi dan menyempurnakan serta merubahnya menjadi mujijat dan kisah abadi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025