Featured Post

Musuh Yang Kita Hadapi Tidak Selemah Yang Kita Bayangkan

Gambar
  ​ Oleh:  Pt. Em, Analgin Ginting ​Pendahuluan: Paradoks Pengenalan Diri ​Perjalanan spiritualitas manusia sering kali terjebak dalam dikotomi antara yang sakral dan yang profan. Namun, sebuah tesis mendasar yang diangkat oleh Dharma Pongrekun mengingatkan kita pada sebuah kebenaran kuno: mustahil bagi seseorang untuk beriman kepada Tuhan jika ia tidak mengenal dirinya sendiri. Iman tanpa pengenalan diri adalah sebuah fatamorgana intelektual, sebuah bangunan tanpa fondasi yang kokoh. Jika kita tidak memahami siapa subjek yang percaya, maka objek kepercayaan itu pun menjadi kabur dan kehilangan esensinya. ​Dalam konteks teologi klasik, gagasan ini menemukan resonansi terdalamnya dalam pemikiran Yohanes Calvin. Calvin menegaskan bahwa pengetahuan tentang Allah dan pengetahuan tentang diri kita sendiri adalah dua hal yang saling bertaut erat. Seseorang tidak dapat memandang dirinya secara jujur tanpa menyadari kehadiran Sang Pencipta, dan sebaliknya, seseorang tidak dapat mem...

UANGKU, KUAKUI MEMANG MILIKMU



Diberitakan beberapa waktu yang lalu, bahwa Aktor Terkenal Hongkong, Chou Yung Fat akan mendonasikan 99 % dari total kekayaanya, yang jumlahnya saat ini ditaksir puluhan juta dollar. Sebelumnya diberitakan anak muda pencipta Facebook juga menyumbangkan uangnya sebanyak seratus juta US dollar untuk amal dan dana pendidikan. Belum lagi Warren Buffet, Bill Gates yang dikenal dunia bukan hanya orang-orang terkaya, tapi juga filantropis terbesar.

Kupikir-pikir berapa waktu lamanya apa gerangan pemikiran yang mendasar itindakan mereka ini sehingga mau menyumbangkan uangnya yang demikian besar jumlahnya? Apa yang ingin mereka raih sebenarnya? Untuk menjadui terkenal? Bukankah tanpa tindakan itu pun mereka sudah terkenal? Kebingunganku semakin besar dengan mengingat fenomena sebaliknya yang terjadi di bumi republikku Indonesia terncinta. Hari-hari kini kita dipenuhi berita-berita korupsi, persengkokolan, kelemahan aparat penegak hukum khususnya yang berkaitan dengan tindakan korupsi.

Disisi lain, masih soal ekonomi namun sebaliknya. Berita kemiskinan, berita pengangguran, berita perampokan, berita TKW yang tersiksa. Yang kaya banyak uang tapi bermasalah, dan banyak yang dipenjarakan. Yang miskisn kurang uang, akhirnya disiksa atau melarikan diri.

Mungkin teman-teman setuju dengan saya, bahwa kurang sekali pendidikan mengenai filosofi uang, ataupun pemikiran untuk memaknai uang dengan paradigma spiritulitas. Sehingga yang muncul hanyalah paradigma yang keliru bahkan dangkal mengenai uang itu sendiri. Ada keyakinan bahwa kita hanya dapat melakukan sesuatu karena uang; melamar kerja, cari sekolah, urus ktp dan sebagianya. Semua hanya bisa selesai dengan cepat jika pakai uang pelicin. Akhirnya kebanyakan kita berfikir bahwa kita harus mencari uang sebanyak banyaknya, apapun caranya. Aji mumpung pun menjadi suatu falsafah hidup.

Siapa yang mampu mencari uang sebanyak-banyaknya dianggap pahlawan. Kalau pun suatu saat terbukti korupsi, itu hanya urusan uang juga. Korbankan saja sekian persen uang yang kita peroleh itu untuk membayar pengacara, nanti dia urus segalanya. Bereslah itu. Kalaupun masuk penjara, itu hanya 6 tahun. Paling 8 tahun. Kalau baik, bisa saja dapat remisi. Kalau tidak ketahuan korupsi kita. Enak lah itu.

Tiba-tiba dibelahan dunia sana kita mendengar, ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun untuk mengumpulkan uangnya kemudian menyumbangkannya. Uang yang kita cari dengan segala cara tadi, disebelah sana disumbangkan orang dengan enteng dan jumlahnya pun luar biasa. Kalau begitu apa sebenarnya uang itu?

Rasul Paulus yang selama hidupnya memilih menjadi orang miskin, padahal dia punya hak untuk mendapatkan kekayaan memang mengatakan : Uang tidak ada artinya sebelum Anda mempergunkannya untuk mendapatkan kekayaan spiritual. Mungkin inilah yang difikirkan oleh Chou Yung Fat, bahwa uangnya tidak ada artinya sebelum dipakainya untuk mendapatkan kekayaan spiritualitas, sumber kebahagian sejati dalam dunia dan surga. Paulus menekankan bahwa ternyata orang miskin lebih mudah mendapatkan kekayaan spiritualitas. Asal uangnya didapat dan dipergunakan dengan cara yang baik dan halal. Apa pendapat Anda?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025