Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Pak SBY Seorang Penakut?


Pada Bulan April yang lalu, saya menulis sebuah Artikel yang berjudul “ Pemindahan Ibukota Satu-satunya Cara Untuk Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas di Ibukota”. Kemudian pada bulan Agustus Pak Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono juga melontarkan wacana pemindahan Ibukota. Tanggapan begitu ramai, banyak yang bereaksi dan menanggapi. Ada yang pro dan ada yang kontra, bahkan para ahli pun banyak yang turun tangan ikut nimbrung memberikan ulasannya dan opininya. Bahkan TVRI pun dalam acara yang dipandu Slamet Rahardjo dan Arswendo Atmowiloto pernah menghadirkan Teras Narang, Gubernur Kalimantan Tengah dan para ahli yang lain berdiskusi untuk mengetahui kesiapan Palangkaraya sebagai calon Ibukota Republik Indonesia seperti yang pernah dikatakan oleh Bung Karno.

Sampai Bulan Oktober 2010 saya mengikuti bahwa wacana itu ramai diperbincangkan. Saat ini, seolah hilang tak berbekas, nyaris tak terdengar. Akan kah hilang begitu saja? Sementara kemacetan lalu lintas semakin menjadi-jadi. Tadi pagi saya berangkat dari Bekasi Timur menuju Mangga Dua, dengan jarak lebih kurang 40 km dengan waktu tempuh 3,5 jam. Pada hal jalur yang saya tempuh melalui jalan Tol.

Terlalu sulitkah memindahkan Ibukota itu? Apakah di Republik ini semua keputusan yang berdampak positif untuk Rakyat harus diwacanakan dalam paradigma politik atau kekuasaan. Haruskah selalu keputusan yang mengedepankan kepentingan Rakyat itu menguntungkan secara politis kepada satu atau dua partai politik tertentu?

Katanya menurut UU semua keputusan yang diambil oleh pemangku kekuasaan harus dilakukan dengan mengutamakan kepentingan rakyat banyak. Bukankah keputusan pemindahan ibukota itu dari semua sisi akan menguntungkan rakyat banyak? Bayangkan kalau Jakarta hanya menjadi Pusat Bisnis dan Pusat Wisata, dan Palangkaraya menjadi Pusat Pemerintahan, bukankah ini akan menghadirkan wajah Indonesia yang lebih muda, segar, tertata serta adil? Adil untuk masyarakat diluar Jakarta atau di luar Pulau Jawa

Atau ada faktor yang lain yang membuat wacana itu hilang begitu saja? Yah, pasti banyak faktor yang lain. Namun faktor yang lain itu menurut hemat saya semua terletak didalam diri Sang Presiden kita, sebagai penguasa tertinggi pemerintahan. Apakah Pak Presiden belum melakukan kalkulasi politiknya jika pemindahan Ibukota dilakukan saat ini? Atau memang pemindahan Ibukota ini tidak akan pernah terjadi karena ketidak yakinan beliau untuk melakukan suatu keputusan penting. Kalau memang demikian alasannya, berarti Pak Sby benar kata orang, adalah seorang penakut. Oh, tiba-tiba saya teringat dengan Almarhum Gus Dur. Saya ingin sekali melakukan wawancara dengan beliau, meskipun hanya secara Imaginer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025