Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 14 - 20 Juni 2026

Gambar
Thema : Beluh Muat Ukur (Mudah Mendapatkan Rasa Empati Orang Lain) Nas : 1 Timotius 5 : 1-7  ​A. PENDAHULUAN & FAKTA BERKAITAN NAS ​Mendapatkan empati dan respek dari orang lain—atau yang dalam kearifan lokal kita sebut beluh muat ukur —bukanlah sebuah keterampilan manipulatif untuk mencari simpati demi keuntungan pribadi, melainkan buah dari ketulusan hidup yang berakar pada kasih Kristus. Sering kali kita terjebak menuntut untuk dipahami dan dihormati terlebih dahulu oleh orang-orang di sekitar kita, baik oleh pasangan, anak, orang tua, maupun sesama jemaat. Namun, firman Tuhan melalui Rasul Paulus menegaskan bahwa beluh muat ukur hanya bisa lahir ketika kita memiliki kerendahan hati untuk terlebih dahulu menanggalkan keegoisan, peduli pada kerapuhan sesama, dan berkomitmen mendahulukan kepentingan orang lain dengan penuh kemurnian. ​Di tengah realitas kehidupan modern yang cenderung individualistis dan transaksional, kemampuan untuk merengkuh empati sesama menjadi tantanga...

TERANG



Oleh Immanuel Sembiring

Samuel lahir setelah ibunya Hana melakukan pergumulan doa yang sangat lama dan sangat dalam. Dalam situasi kerohanian yang begitu buruk pada saat itu di Israel, orang tua Samuel tetap hidup takut akan Tuhan. Kehadiran Samuel di tengah-tengah keluarganya sebagai air sejuk dan air mata kebahagiaan, karena sejak kecil dia diantarkan kepada Imam Eli, sebagai pelunasan nazar dari ibunya Hana. Dalam nazarnya, Hana berkata bahwa jika Tuhan memberi dia seorang anak, maka anak itu akan dipersembahkan kepada Tuhan. Bersama Imam Eli Samuel bertumbuh dan belajar tentang Taurat Tuhan, dan secara total sejak masih sangat kecil menjadi pelayan.

Dengan hidup takut akan Tuhan yang ditanamkan kedua orang tuanya, Samuel mampu tampil beda dari kehidupan anak-anak Imam Eli yang prilakunya sangat tidak berkenan di hadapan Tuhan dan sesame manusaia. Seperti yang dicatat dalam bagian firman Tuhan yang kita baca hari ini. Meskipun usia masih sangat muda, Samuel mampu mengendalikan diri dan tidak terpengaruh dengan keadaan yang ada. Ia tetap hidup sebagai seorang muda yang dekat dengan Tuhan dan setia melakukan kehendakNya. Samuel lah kelak yang mengurapi Saul dan Daud menjadi Raja Israel.

Nah, rahasia apa yang dimiliki oleh Samuel sehingga dia bisa memberikan sesuatu yang beda bagi lingkungannya yang sangat tidak berkenan di hadapan Tuhan? Dia memiliki persekutuan yang baik dan sangat erat dengan Tuhan dan mau taat kepada nasehat kedua orang tuanya dan “ guru spiritual” nya yaitu Imam Eli. Hari hari kini, banyak sekali orang tua memberi nama anaknya Samuel, baik yang bermarga maupun tidak. Barangkali ada harapan bagi anak yang bernama “Samuel” hidup nya kelak akan sebaik Nabi Samuel.

Bagaimana dengan kita? Saya tidak tahu anda berada dalam lingkungan seperti apa. Kalau kita berada dalam lingkungan yang baik pasti kita merasa tenang, tetapi yang menjadi persoalan kalau kita berada dalam lingkungan yang seperti di hadapi Samuel, apakah Terang kita tetap bercahaya?

Terang kita akan tetap bercahaya apabila kita tetap berpegang pada firman Tuhan (Mazmur 119:9) dan mau taat kepada nasehat orang yang lebih tua (Amsal 1:8). Jangan biarkan lingkungan sekitar kita mempengaruhi atau mengubah hidup kita menjadi buruk, tetapi pengaruhilah lingkungan sekitar kita untuk menjadi lingkungan yang penuh dengan kemuliaan Tuhan.

Bercahayalah, Bercahayalah dan Bercahayalah supaya terang Kristus tetap terpancar kemanapun kam berada.
Ayat Kutipan : 1 Samuel 2:11-26
I

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025