Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 26 April - 2 Mei 2026

Gambar
  Allah Yang Awal dan Akhir: Kompas Iman di Tengah Badai Dunia ​ I. Pengantar: Menghadapi Narasi Ketakutan Dunia ​Dunia hari ini seolah sedang merawat ketakutan massal. Krisis global, ketidakpastian ekonomi, dan dominasi narasi dari "orang-orang kuat" dunia menciptakan atmosfir kecemasan yang mencekam. Namun, teks Wahyu 1:4-8 hadir bukan sekadar sebagai pengingat sejarah, melainkan sebagai pernyataan apokaliptik yang 100% relevan dengan realitas saat ini. Di tengah gempuran kuasa duniawi yang fana, kita dipanggil untuk mengalihkan pandangan kepada Satu Kuasa yang absolut dan kekal, menjadikannya satu-satunya panduan utama dalam langkah hidup sehari-hari. ​ II. Fakta Alkitabiah (Wahyu 1:4-8) ​Berdasarkan nas tersebut, terdapat beberapa pilar fakta yang mengukuhkan posisi umat beriman: ​ Sumber Damai: Salam kasih karunia datang dari Allah Tritunggal—Dia yang ada, yang sudah ada, dan yang akan datang; dari tujuh roh di hadapan takhta-Nya; dan dari Yesus Kristus. ​ ...

KOMUNIKASI ASERTIF BAGIAN 4


Sebelum kita membahas bentuk keempat komunikasi asertif, cara berkomunikasi yang memuncaki semua ketrampilan berkomunikasi, saya ingin sebentar menyinggung hak-hak seseorang dalam berkomunikasi. Hal ini perlu kita tinjau karena sebagian besar penyebab kegagalan berkomunikasi asertif adalah kurangnya keyakinan atau kepercayaan diri.

Kepercayaan diri lah yang membuat seseorang mampu berfikir jernih dan memilih kata-kata yang pas dan baik pada saat-saat berkomunikasi. Kalau kepercayaan diri sudah terganggu, maka emosi kitapun terganggu, sehingga sulit untuk berkomunikasi aseretif. Minimal ada 10 hak yang perlu kita ingat yaitu :

1. Hak untuk memutuskan bagaimana memimpin hidup Anda. Termasuk dalam mengejar target dan impian pribadi serta penetapan prioritas-prioritas individu

2. Hak untuk mengdepankan nilai, belief, emosi dan opini kita -- dan juga hak untuk menghormati diri sendiri demi mereka, apapun opini orang lain

3. Hak untuk tidak menjelaskan aksi serta perasaan kita kepada orang lain.

4. Hak untuk berkata kepada orang lain bagaimana kita ingin diperlakukan.

5. Hak untuk ekspressi dan mengatakan kepada orang lain “tidak ," “saya tidak tahu," “aku tidak mengerti," atau juga “saya tidak perhatikan." Anda juga mempunyai hak untuk menambah waktu berfikir sebelum mengatakannya kepada orang lain.

6. Hak untuk bertanya dan mendapat informasi serta minta tolong – tanpa harus merasa bersalah tentang kebutuhan sendiri.

7. Hak untuk merubah pikiran, berbuat salah, bahkan kadang-kadang bertindak tidak logis – dengan sepenuhnya memahami risiko dan akibatnya.

8. Hak untuk menyukai diri sendiri meskipun kita tidak sempurna, dan ada kalanya kita lebih buruk daripada kapasitas kita sendiri.

9. Hak untuk mempunyai hubungan yang positif dan menyenangkan selama kita merasa nyaman untuk mengekspresikan diri – dan juga hak untuk mengganti atau mengakhiri hubungan kita dengan orang lain yang tidak mampu lagi memenuhi harapan dan kebutuhan kita

10. Hak untuk merubah, meningkatkan dan mengembangkan diri kita sendiri sesuai dengan cara yang kita anggap baik.

Sepuluh hal di atas pun saya kira masih bisa berkembang, sesuai dengan pemahaman kita terhadap tata kehidupan pribadi dan organisasi yang lebih tepat dan lebih maju.

Nach, saya harap kita sekarang sudah lebih Percaya Diri untuk menyampaikan secara asertif perasaan kita yang paling sulit. Saya katakan perasaan yang paling sulit karena memang kebanyakan manusia lebih memilih diam jika mempunyai perasaan tidak nyaman atau bahkan kecewa kepada seseorang yang dikagumi, dihormati ataupun yang menjadi atasan.
Cara asertif yang keempat kita sebut I-Language Assertion, “Bahasaku-Asertif” (Maaf ini jelas terjemahan yang terlalu dipaksakan, hehehe). Cara ini secara khusus kita pakai untuk menyampaikan perasaan negatif terhadap prilaku orang lain.
terdiri dari 3 bagian
 Ketika anda melakukan . . . (Jelaskan kelakuan dia).
 Akibatnya . . . (Jelaskan bagaimana kelakuan itu mengganggu Anda).
 Saya harap . . . (Jelaskan apa harapan).

Fokus sebenarnya dar I-Language Assertion adalah menegaskan "I feel," "I want" part of the statement. Ketika kita marah, kita cenderung untuk menjelekkan orang lain, selanjutnya kita cenderung agresif bukan asertif. Cara ini dapat membebaskan kita dari kemungkinan menjelekkan atau memaki orang lain. Tapi orang lain tetap merasakan kemarahan kita.
Contoh :

“Ketika kamu tidak membeli sayur yang saya pesan saya tidak dapat masak, dan anak-anak tidak mendapat makanan yang baik. Saya merasa sangat jengkel sekali. Oleh sebab itu lain kali tolong diingat baik-baik ya.”

“Ketika kamu tidak datang, semua orang bertanya-tanya dan saya harus menjawab dengan perasaan malu. Saya kecewa sekali kepadamu. Saya harap lain kali kalau sudah berjanji tepatilah”.

“Ketika Anda terlambat mengantar Laporan kerja itu, Bapak Direktur mengajukan pertanyaan yang tidak bisa jawab dengan rinci. Saya merasa rendah sekali, lain kali kalau buat laporan kerjakan tepat waktu”

“Ketika kamu menolak perasaan cintaku, aku terpaksa hidup sendirian dan perasaanku sepi dan terhina sekali. Oleh sebab itu sayangilah orang yang kamu cintai”. Hahahahahaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025