Featured Post

Catatan Tambahan Khotbah 23 Agustus 2026

Gambar
 ​ ​ Tema: Bapa Yang Takut Kepada Tuhan  (Bapa si Malang man Tuhan) ​Nas Alkitab: Mazmur 128:1–6 (Responsoria) ​Konteks Teks: Nyanyian Ziarah ( Song of Ascents ) ​1. PENDAHULUAN ​Setiap keluarga di dunia ini mendambakan kebahagiaan, kedamaian, dan keberhasilan hingga ke generasi setelahnya. Namun, di tengah pergeseran zaman dan kompleksitas tantangan modern, banyak figur bapa/kepala keluarga terjebak mendefinisikan "kebahagiaan" hanya sebatas pencapaian finansial, status sosial, atau materi semata. ​Mazmur 128 hadir sebagai fondasi kebenaran yang memutarbalikkan standar dunia. Kebahagiaan sejati dan keberlanjutan berkat dalam keluarga tidak dimulai dari seberapa besar kekayaan yang dihimpun seorang bapa, melainkan dari kualitas rasa takutnya kepada TUHAN dan kerelaannya untuk hidup menurut jalan-jalan-Nya. ​2. FAKTA TEKS DAN KONTEKS (HISTORIS & LITERARIS) ​ Nyanyian Ziarah ( Shir Hama’aloth ): Mazmur 128 dinyanyikan oleh umat Israel saat mereka berziarah naik men...

2012 Bukan Tengtang Kiamat



Film 2012 kalau kita mau jujur sebenarnya Bukanlah tentang Kiamat, tapi sebuah upaya mengkomunikasikan (dalam kemasan hiburan tentu saja) apa yang terjadi dengan manusia jika masih sempat memprediksi kiamat tersebut.

Jika kiamat itu terjadi, masak tidak ada tanda-tanda alam yang bisa dipelajari? Masak belum pernah ada dugaan sebelumnya dari seluruh umat manusia? Pikiran-pikiran ini lah lalu dimatangkan kemudian di gagas menjadi sebuh film yang sangat Hollywood. Ketika Film ini dibuat bagian marketing sibuk menemukan cara-cara marketing yang lebih jitu, supaya film ini kelak bisa menghasilkan keuntungan yang besar. Maka dikaitkan lah dengan ramalan suku Maya yang sudah lama dianggap punah, dikaitkan juga dengan catatan-catatan Nostradamus yang (dikatakan) hilang, dibuat film dokumenter, ditulis ulang buku yang semuanya mengarah terhadap penciptaan opini bahwa seolah-olah bayangan Kiamat 2012 sangat bisa diterima kebenarannya. Jadi lupakan mengenai kiamat, sebab hal itu sekali lagi hanya Tuhan yang tahu.

Sebagai film ada beberapa catatan yang bisa kita jadikan bahan perenungan dari 2012 ini. Yang saya lihat pertama adalah keseriusan dalam penggarapannya. Kesan kita bahwa film ini tidak dibuat dengan upaya setengah-setengah. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya pemeran, adegan-adegan yang tertata sehingga mampu mengkomunikasikan kepada penonton suasana mencekam, ditambah dengan pensuaraan yang benar-benar dikerjakan seorang profesional.

Yang kedua adalah penggambaran sikap manusia ketika bencana itu datang. Dalam hal ini saya kira belum terlalu maksimal digarap. Satu lagi adalah penggambaran dari upaya manusia untuk mempertahankan keselamatannya. Dengan proyek yang sangat rahasia membuat kapal pengangkut raksasa yang tentu saja mengambil konsep dari Alkitab, dari kisah Bahtera Nabi Nuh.

Jadi, saya kira semua penggambaran dalam film ini adalah sebuah hiburan semata. Sebab banyak sekali adegan yang penghancuran yang bukan membuat kita cemas tapi tertawa. Masak gempa bisa mengejar-ngejar mobil? Atau masak retakan tanah itu dibuat dibelakang pesawat, dan ketika pesawatnya sudah mempunyai kecepatan tertentu sengaja dibuat tanahnya amblas, sehingga pesawat itu seolah-olah sudah terbang tapi ketinggian minus sekian meter di bawah tanah?

Justru respon masyarakat Indonesia lah yang saya kira perlu kita sikapi dengan serius. Mengapa kita begitu serius menanggapi film fiksi hiburan yang diperuntukkan untuk usia remaja ini? Jangan-jangan semua hal itu menandakan bahwa kita yang masih terlalu takut jika kiamat itu datang. Kalau benar, bukankah itu pertanda kedangkalan pemahaman keberagamaan kita? Positifnya, film ini menjadi salah satu film yang paling banyak ditonton tahun 2009. Hahahaha.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026