Featured Post

​Catatan Tambahan PJJ 23-29 Agustus 2026

Gambar
 ​ Thema: Pertanda Orang Yang Mengenal ( Tanda Nandai Dibata ) Teks: 1 Yohanes 2 : 3 - 11 ​Teks Alkitab ​ 1 Yohanes 2:3-11 (3) Dan inilah tandanya, bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. (4) Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. (5) Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. (6) Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup. (7) Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. (8) Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan teran...

Ramai Ramai Membela Lembaganya Masing Masing, Bukti Iblis Sudah Menguasai Sendi Sendi Bangsa

Juru Bicara Mahkamah Agung Republik Indonesia  Djoko Sarwoko, ketika diwawancarai oleh Karni Ilyas dalam acara Jakarta Lawyers Club tadi malam (Selasa, 20 Nopember 2012) soal pengunduran diri  Hakim Agung Ahmad Yamani terkesan sangat plin plan dan terang terangan membela  rekannya tersebut.  Ketika di cecar oleh pertanyaan Bung Karni tentang perubahan hukuman dari 15 tahun menjadi 12 tahun dengan tulisan tangan, “apakah itu kelalaian atau kesengajaan”, Djoko Sarwoko mengatakan kelalaian. 

 
Bayangkan, salinan keputusan  yang telah diputuskan oleh tim yang beranggotakan 3 orang Hakim Agung dari  Mahkamah Agung diminta dan dirubah oleh satu orang, dikatakan sebuah kelalaian.  Padahal terangan terangan sebuah kesengajaan.  Pemilihan terhadap kelalaian ini adalah sebuah upaya pembelaan diri terhadap korps atau lembaganya.

Sebelumnya Kepolisian Republik Indonesia dalam kasus korupsi di Korlantas yang melibatkan jenderal berbintang dua nya  juga pada awalnya terkesan sangat membela kepentingan  korps nya atau lembaganya.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam banyak  kasus juga sangat membela prilaku anggotanya.  Khususnya dalam kasus kasus    study banding ke luar negeri.  Dalam kasus yang sekarang sedang bergulir tentang pemerasan kepada BUMN,    DPR sangat membela lembaganya atau pu n individual anggotanya.

Istana Presiden saat dikatakan  sudah dimasuki oleh  mafia narkoba juga sangat rapat menutup diri dan melakukan pembelaan mati- matian k  melalui   Menteri Sekretaris Negara  Sudi Silalahi.  Padahal  yang memberi pernyataan adalah seorang ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Mahfud MD.  Bukankah seharusnya info dari pak Mahfud dijadikan bahan  untuk melakukan penyelidikan yang lebih tajam?

Jika lembaga lembaga tinggi negara hanya mampu melakukan pembelaan diri saja, melalui pembenaran pembenaran yang direkayasa, berarti  Negara ini sudah tidak memerlukan lagi kebenaran yang hakiki.   Apalagi pembelaan dilakukan setelah ada  kejanggalan kejanggalan yang mengusik hati  nurani segenap Bangsa Indonesia.   Apalagi   pembelaan diri dilakukan setelah ada tanda tanda perbuatan yang tidak benar seperti misalnya Korupsi.

Oh,  prihatin dan sangat memprihatinkan.  Kebenaran, moral dan etika  sudah tidak berfungsi  lagi   sebagai pilar perjalanan Bangsa.  Mereka sudah digantikan  oleh uang,  dan penguasa tertinggi uang adalah  setan  yang punya nama lain Lucifer.  Benarkah  bangsa kita sudah semakin dikuasai Setan atau Iblis?

Pendidikan Karakter Mempersiapkan Negarawan.

Jangan kita membiarkan semangat hanya membela kepentingan lembaga atau kelompok ini semakin besar dan menguat dalam bangsa  kita.  Harus ada upaya sangat serius untuk mendidik calon calon pemangku jabatan negara beruba pendidikan karakter dan sifat sifat kenegarawan.   Harus dimulai dari sekarang,  memang sulit untuk menentukan siapa atau lembaga mana yang harus memulainya.   Namun ini sebuah keharusan dan mutlak diperlukan.

Saya melihat masih ada harapan, yaitu melalui sekolah sekolah dan lembaga lemabaga swasta seperti   perusahaan perusahaan yang mempunyai Shared value  yang jelas dan berlandaskan kepada etika kebenaran.  Perusahaan seperti Astra International, PT Telkom, PT Elnusa, Kompas Gramedia Group, Sinar Mas Group, Konimex di Solo setahuku sangat mengutamakan kejujuran/integritas dan kebenaran dalam menjalankan business processnya.


Tokoh tokoh agama dan pendidik yang mau memilih pengajaran kebenaran dan tidak suka popularitas di televisi   tetap memberikan optimisme kepada pengajaran Bangsa ini.  Nama nama seperti  Buya Syafii  Maarif, Komarudiin Hidayat, Jacob Oetama, Anis Baswedan,  Jakob Tobing, Salahuddin Wahid,  AA Yewangoe, Garin Nugroho kita harapkan lebih banyak berperan di dalam melakukan pendidikan karakter Bangsa.  Dimata saya orang orang seperti mereka perlu diapresiasi dengan  lebih tulus serta diberi kesempatan yang lebih besar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026