Featured Post

CATATAN KHOTBAH ​Minggu, 25 Oktober 2026

Gambar
 ​ Tema: Bersaksi Tentang Tuhan ( Naksiken Kerna Tuhan ) ​ Nas Khotbah: Kisah Para Rasul 1:6–11 ​ I. PENDAHULUAN   ​Kita hidup di sebuah era ketika Artificial Intelligence (AI) dan otomatisasi digital dapat menjawab hampir segala pertanyaan manusia, memprediksi tren masa depan, bahkan mensimulasikan realitas. Namun, di balik kecanggihan teknologi ini, muncul dua krisis eksistensial yang besar: ​ Disorientasi Masa Depan ( Futuristic Anxiety ): Manusia semakin terobsesi ingin mengontrol masa depan—memprediksi algoritma pasar, nasib, dan kepastian hidup—namun justru semakin kehilangan arah dan ketenangan. ​ Krisis Otentisitas Saksi: Di era fake news , deepfake , dan informasi serba instan, dunia tidak lagi kekurangan data , melainkan kekurangan saksi hidup —pribadi-pribadi yang sungguh-sungguh memantulkan kebenaran, kasih, dan pengharapan Kristus dalam realitas konkret sehari-hari. ​Pertanyaan murid-murid kepada Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:6, "Tuhan, mauk...

Permintaan Aneh Seorang Anggota DPR

Permintaan anggota DPR itu aneh, bahkan sangat aneh.

Karena yang dimintanya bukan imbalan jasa atas selesainya sebuah Undang Undang.

Ataupun kucuran dana untuk mengadakan study banding ke negara terjauh.

Bukan juga sebuah dukungan untuk menggolkan calon nya menjadi kepala daerah di sebuah Kabupaten apalagi Propinsi.

Yang tidak kalah herannya dan merasa aneh adalah penguasa yang dia datangi untuk meminta persetujuan. Sebab penguasa ini ketika beberapa saat sebelumnya menjadi hakim, tidak menemukan sedikit pun kesalahan pada diri yang didakwa. Begitulah, saat diberitakan oleh sang tamu bahwa Dia telah mati, dan minta ijin agar mayatnya boleh diambil, persetujuannya di tunda beberapa puluh menit, untuk menyelidiki kepastian. Hasilnya Pasti, memang telah mati.

Pikirannya meminjam istilah yang lahir beberapa ratus tahun kemudian, kepada Nietzsche : Tuhan Sudah Mati.

Lalu dia memberikan ijin, kepada si pemberani anggota DPR kaya raya yang tidak menyadari kekayaanNya. Sebab seluruh kesadarannya hanya berpusat kepada Mayat Masih Tergantung.

Dia lalu berlari mendatangi bukit itu, menurunkan Mayat dengan sangat hati hati penuh rasa hormat yang tidak terbendung. Sesekali air matanya menetes, mengikuti air mata miliaran manusia yang hidup kemudian, saat mengenang kematian orang yang sedang dia kafani. Tak lupa dia menyiram tubuh setia yang sudah menyerahkan rohNya itu dengan minyak wangi yang dibawa seorang imam besar yang bernama Nikodemus.

Berdua mereka menuntaskan pekerjaan abadi itu dan meletak kan Sang Mati di kubur yang sudah disediakan oleh Surga. Selesailah hari Jumat itu, menjadi hari yang paling banyak memegang rahasia kehidupan manusia. Itulah sebabnya manusia akan selalu mengenang anggota Majelis Besar itu, dan sepanjang sejarah namanya akan abadi. Bukan karena dia telah sukses mengerjakan tugas Politiknya, tapi karena tugas kemanusiaannya. Yusuf Arimatea.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026