Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 12 - 18 April 2026

Gambar
​ Tema: Harta-Harta Roh (Erta-Erta Pertendin) Nas: 2 Korintus 4:7-12 ​I. Pendahuluan ​Kehidupan manusia sering kali diukur dari apa yang terlihat di luar—kekayaan materi, jabatan, atau kekuatan fisik. Namun, Rasul Paulus menghadirkan paradoks yang tajam: kemuliaan Tuhan yang tidak terbatas justru diletakkan di dalam wadah yang sangat terbatas dan rapuh. Sebagai jemaat, kita dipanggil untuk memahami bahwa kerapuhan kita bukanlah penghalang bagi kuasa Tuhan, melainkan saluran bagi pernyataan kuasa-Nya. ​II. Fakta Teks & Makna Teologis Harta dalam Bejana Tanah Liat (Ayat 7) ​ Teologis: "Bejana tanah liat" menggambarkan kemanusiaan kita yang fana, lemah, dan mudah pecah. Namun, di dalamnya terdapat "harta" yaitu Injil dan kemuliaan Kristus. ​ Tujuannya: Supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah itu murni berasal dari Allah, bukan hasil usaha atau kehebatan manusia. ​ Ketahanan dalam Penderitaan (Ayat 8-9) ​Paulus mencatat empat kontras: ​Ditindas na...

Permintaan Aneh Seorang Anggota DPR

Permintaan anggota DPR itu aneh, bahkan sangat aneh.

Karena yang dimintanya bukan imbalan jasa atas selesainya sebuah Undang Undang.

Ataupun kucuran dana untuk mengadakan study banding ke negara terjauh.

Bukan juga sebuah dukungan untuk menggolkan calon nya menjadi kepala daerah di sebuah Kabupaten apalagi Propinsi.

Yang tidak kalah herannya dan merasa aneh adalah penguasa yang dia datangi untuk meminta persetujuan. Sebab penguasa ini ketika beberapa saat sebelumnya menjadi hakim, tidak menemukan sedikit pun kesalahan pada diri yang didakwa. Begitulah, saat diberitakan oleh sang tamu bahwa Dia telah mati, dan minta ijin agar mayatnya boleh diambil, persetujuannya di tunda beberapa puluh menit, untuk menyelidiki kepastian. Hasilnya Pasti, memang telah mati.

Pikirannya meminjam istilah yang lahir beberapa ratus tahun kemudian, kepada Nietzsche : Tuhan Sudah Mati.

Lalu dia memberikan ijin, kepada si pemberani anggota DPR kaya raya yang tidak menyadari kekayaanNya. Sebab seluruh kesadarannya hanya berpusat kepada Mayat Masih Tergantung.

Dia lalu berlari mendatangi bukit itu, menurunkan Mayat dengan sangat hati hati penuh rasa hormat yang tidak terbendung. Sesekali air matanya menetes, mengikuti air mata miliaran manusia yang hidup kemudian, saat mengenang kematian orang yang sedang dia kafani. Tak lupa dia menyiram tubuh setia yang sudah menyerahkan rohNya itu dengan minyak wangi yang dibawa seorang imam besar yang bernama Nikodemus.

Berdua mereka menuntaskan pekerjaan abadi itu dan meletak kan Sang Mati di kubur yang sudah disediakan oleh Surga. Selesailah hari Jumat itu, menjadi hari yang paling banyak memegang rahasia kehidupan manusia. Itulah sebabnya manusia akan selalu mengenang anggota Majelis Besar itu, dan sepanjang sejarah namanya akan abadi. Bukan karena dia telah sukses mengerjakan tugas Politiknya, tapi karena tugas kemanusiaannya. Yusuf Arimatea.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025