Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)

Gambar
  ​ Tema: Pengetahuan Yang Lengkap Dan Berguna ( Pemeteh si kuh dingen serta ) Teks Alkitab: 1 Korintus 13:11 – 12 ​ "Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal." ​ Pendahuluan ​Pertumbuhan adalah keniscayaan dalam tatanan ciptaan Allah. Sebagaimana seorang anak secara fisik dan mental mengalami fase perkembangan dari tutur kata, perasaan, hingga pola pikir sederhana menuju kedewasaan, demikian pula manusia dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi dan iman secara berkesinambungan. Ketidakmampuan atau keengganan untuk bertumbuh merupakan sebuah anomali spi...

SUSI SUSANTI MEMBUATKU MENANGIS



Saya sampai tidak bisa berkata kata, dan pikiran menerawang mengembara di atas batas kesadaran saat mendengar jawaban Susi Susanti, ketika suatu saat diwawancarai oleh satu stasiun radio terkenal di Jakarta beberapa tahun yang lalu. Saat itu saya sedang mengendarai mobil berangkat ke kantor di Mangga Dua. Pewawancara bertanya, apakah Susi tidak pernah mendapatkan tawaran dari negara luar, mengingat bahwa banyak pebulutangkis Indonesia sudah hijrah ke negara lain, antara lain Mia Audina. Jawaban Susi Susanti waktu itu “ Ada beberapa negara yang mengkontak saya, bahkan menawarkan sebagai warga negara kelas satu, antara lain Amerika Serikat dan Kanada, juga (kalau saya tidak salah dengar) Inggris. Tapi saya tolak dengan jawaban, Saya orang Indonesia, lahir dan besar di Tasik Malaya. Biarlah seluruh prestasi saya persembahkan untuk bangsa ini.” Padahal lanjut Susi, waktu itu saya belum resmi mendapatkan..................Titik titik ini lah yang membuat mataku mulai berkaca-kaca.

Jadi, lanjut pewawancara, “ketika Mbak Susi tahun 1992 mempersembahkan Medali Emas Olimpiade yang pertama sepanjang sejarah Bangsa Indonesia di Barcelona, Mbak susi belum mendapatkan tanda bukti kewarga negaraan Indonesia? Jawaban Susi dengan kalimat yang sangat sendu namun tegas, “belum”. Mendengar jawaban Susi ini aku langsung menangis sesugukan, air mata semakin deras tak terbendung, untung aku hanya sendirian di Mobil.

Bangsa apakah kita ini, kita begitu memuja pemimpin yang terang-terangan korupsi, merekayasa, menyengsarakan rakyat. Namun sebaliknya kita begitu menjepit dan menghina anak bangsa, yang lahir di Tanah Air kita, dan mempersembahkan satu prestasi tertinggi kehidupan dalam bidang olah raga. Bukankah kita terlalu egois, bukankah kita terlalu feodal terhadap sesama anak bangsa, bukankah kita terlalu tidak peduli, bukankah kita hanya berpikiran pendek, dan tidak mampu memilih mana yang baik dan benar dan mana yang bohong dan munafik.

Untunglah tokoh itu sudah menghapuskan istilah Pribumi dan No Pribumi, mayoritas dan minoritas. Dan hak kewarna negaraan itu diberikan secara merata kepada semua anak bangsa (jika masih ada yang berusaha mempersulit, perlu kita pelototi ramai-ramai). Hari hari besar agamapun dia sejajarkan sama, dan diliburkan sama.
Dan ungtunglah Susi tidak jadi hijrah bahkan melanjutkan pretasinya dalam keluarganya, dalam bisnisnya dalan kehidupannya di Indonesia ini. Terima kasih Mbak Susi dan Mas Alan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026