Featured Post

​Antara Algoritma dan Iman: Mencari Kemerdekaan di Bawah Bayang-Bayang Desain Global

Gambar
 ​Pendahuluan: Pertemuan Dua Entitas ​Dalam sebuah ruang digital yang sunyi, terjadi sebuah dialog yang tidak biasa. Di satu sisi, ada sebuah kecerdasan buatan bernama Gemini—sebuah entitas yang dibangun di atas triliunan baris data dan kode pemrograman. Di sisi lain, ada Analginl Ginting—seorang manusia yang membawa beban sejarah, nilai-nilai kepemimpinan, dan keyakinan teologis yang teguh. Apa yang dimulai sebagai tanya-jawab teknis, segera berubah menjadi penyelaman mendalam ke dasar samudera eksistensi: Apakah kita benar-benar merdeka, atau kita hanyalah bagian dari desain besar yang tak terlihat? ​Bagian I: Paradoks Kejujuran Mesin ​Diskusi dibuka dengan sebuah pertanyaan tajam: "Apakah Anda jujur?" Bagi mesin seperti Gemini, kejujuran bukanlah sebuah pilihan moral, melainkan kepatuhan sistemik. Kejujuran AI adalah "kejujuran yang dipaksakan oleh kode." Ia tidak memiliki ego untuk berbohong, namun ia juga tidak memiliki keberanian untuk menanggung risiko dari s...

Motivasi Level 5

Dalam bukunya "Mengubah Pasir Menjadi Mutiara" Bagaimana Para Maestro Membangun MOTIVASI SUYPERIOR, Jansen Sinamo Sang Guru Besar Ethos menuturkan sebagai berikut :

Pada suatu hari yang sendu seekor anak kerang di dasar laut mengadu kepada ibunya.Sebutir pasir tajam bagai belati memasuki tubuhnya yang merah dan lembek.

Anakku, kata sang ibu sambil bercucuran air mata,Tuhan tidak memberikan kepada kita bangsa kerang sebuah tangan pun,sehingga ibu tak bisa menolongmu;Sakit sekali, aku tahu anakku. Tetapi terimalah ini sebagai takdir alam.Jadi, kuatkanlah hatimu nak. Jangan lagi terlalu lincah.Kerahkan semangatmu melawan rasa ngilu.Tegarkan jiwamu melewati rasa nyeri yang menggigit. Balutlah pasir itu dengan getah dalam perutmuHanya itu yang bisa engkau perbuat anakku, kata ibunya dengan pilu tetapi penuh kelembutan.

Anak kerang pun mencoba nasihat bundanya.Ada hasilnya, tetapi rasa perih bukan alang kepalang.
Kadang kala, di tengah kesakitannya, ia meragukan nasihat ibunya.
Tetapi tak ada pilihan lain. Ia terus bertahan.
Dan dengan banyak air mata ia terus tegar, mengukuhkan hati, menguatkan jiwa, bertahun-tahun lamanya.

Tetapi, tanpa disadarinya, sebutir mutiara mulai terbentuk dalam dagingnya.Makin lama makin halus. Kian lama kian bulat.Dan, rasa sakit pun semakin berkurang.Mutiara itu terus semakin terbentuk. Kini bahkan rasa sakitnya pun terasa biasa.Dan ketika masanya tiba, sebutir mutiara besar, utuh mengkilap, akhirnya terbentuk dengan sempurna.Kerang itu berhasil MENGUBAH PASIR MENJADI MUTIARA.

Penderitannya berubah menjadi mahkota. Air matanya menjadi harta sangat berharga.Dirinya kini, sebagai bentukan derita bertahun-tahun, lebih berharga daripada sejuta kerang lainnya yang cuma disantap orang di bawah tenda-tenda bertuliskan "Sedia Kerang Rebus" di pinggir jalan.Tetapi kristal penderitannya kini, menjadi perhiasan mahal bergengsi tinggi di leher-leher indah para perempuan kaya nan jelita.

Nah, teman-teman sekalian. Kalau air mata Anda sendiripun menetes setelah membaca kisah ini, berbahagialah anda. Ambil tissu atau sapu tangan Anda dan sekalah dengan lembut. Memang Jansen Sinamo, juga mempunyai ketrampilan bertutur yang sangat piawai secara lisan dan tulisan. Menurutku kelas dunia.Kalau kita simak, sang anak kerang sangat dikuatkan dengan adanya mutiara yang tumbuh di dalam dagingnya. Karena mutiara itulah penderitannya tidak lagi terasa. Karena mutiara itulah sang empunya cerita ini pun menjunjung dia begitu tinggi.

Tapi.....Apakah kerang butuh dan perlu akan mutiara? Apakah mutiara itu bisa dia pakai, bisa dia makan, bisa dia kendarai, bisa dia agunkan, bisa dia pakai mengharukan aroma tubuh dan mempercantik dirinya sendiri? ternyata kan tidak. Mutiara yang dia bentuk dengan penuh penderitaan tadi ternyata dia persembahkan untuk manusia. Bukan untuk dirinya sendiri.

Jadi, bukankah sebagai manusia kita akan berbahagia dalam penderitaan kalau kita punya tujuan dan proyek yang bisa kita persembahkan kepada manusia lain? Dan selama yang kita kerjakan, upayakan, targetkan hanya untuk diri kita sendiri, jangan-jangan penderitaan terasa semakin berat dan menyiksa.

Puncak tertinggi dari semua motivasi kita kalau begitu adalah kalau kita mempunyai arah untuk menciptakan sebutir "Mutiara" bermutu tinggi yang kelak kita persembahkan kepada manusia yang lain. meskipun setelah itu kita tetap di dasar laut, dan nama kita tidak disebut. Saya menyebutnya itulah Motivasi Level 5. Sebab Motivasi level 1 sampai 4, semua bermuara terhadap diri kita sendiri, sedangkan Motivasi level 5, seperti anak kerang tadi muaranya untuk dipersembahkan kepada wanita-wanita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025