Bapa Kami, Guru Spiritual Kami
(Turiken Perbahanen-Na Ku Kerina Bangsa)
Nas: Mazmur 105:1–10
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
kita tiba di minggu terakhir tahun 2025—sebuah ambang waktu antara yang telah berlalu dan yang akan kita masuki. Pada saat seperti ini, Gereja tidak pertama-tama diajak menghitung kegagalan, keberhasilan, atau statistik kehidupan, melainkan mengingat perbuatan Tuhan.
Mazmur 105 bukanlah nyanyian nostalgia, tetapi mazmur kesaksian iman. Pemazmur mengajak umat Allah untuk bersyukur, bernyanyi, mencari Tuhan, dan menceritakan perbuatan-Nya—bukan hanya di dalam komunitas iman, tetapi kepada segala bangsa.
Dengan kata lain, ingatan iman (remembering) melahirkan kesaksian publik (witnessing).
Mazmur 105 ditulis dalam konteks umat Israel yang sedang menghidupi identitas perjanjian. Mazmur ini mengingatkan bahwa:
Pemazmur tidak hanya berkata “ingatlah”, tetapi juga “ceritakanlah”. Artinya, iman yang sejati tidak boleh diam.
“Mengucap syukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya…” (ay. 1)
Teologi Alkitab menegaskan bahwa respons pertama manusia terhadap Allah adalah syukur, bukan tuntutan. Syukur bukan muncul karena hidup selalu baik, tetapi karena Allah tetap setia.
Alam semesta diciptakan bukan secara netral, melainkan bertujuan membawa kebaikan (shalom) bagi manusia. Dalam bahasa Kejadian, ciptaan Allah itu “sungguh amat baik”. Syukur adalah pengakuan bahwa hidup ini anugerah, bukan sekadar hasil usaha manusia.
Karl Barth menegaskan bahwa pujian adalah “bahasa ibu iman” — iman yang tidak memuji sedang kehilangan napas rohaninya.¹
“Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya…” (ay. 8)
Allah bukan hanya mencipta, tetapi juga mengikat diri-Nya sendiri dalam perjanjian. Perjanjian dengan Abraham, sumpah kepada Ishak, dan ketetapan bagi Yakub menunjukkan bahwa kasih Allah bukan reaktif, melainkan berkomitmen.
Perjanjian Allah bersifat:
Inilah dasar pengharapan umat Tuhan: bukan kesetiaan manusia, tetapi kesetiaan Allah.
Walter Brueggemann menyebut perjanjian sebagai “kerangka utama iman Israel yang mengikat ingatan, identitas, dan masa depan.”²
“Perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (ay. 1)
Mazmur ini sudah bersifat misioner, jauh sebelum Amanat Agung dalam Matius 28. Kesaksian bukan sekadar program gereja, melainkan konsekuensi logis dari iman yang hidup.
Allah tidak bekerja hanya untuk satu bangsa, tetapi melalui satu bangsa bagi semua bangsa. Gereja hari ini berdiri dalam kesinambungan panggilan itu.
Christopher J.H. Wright menegaskan bahwa misi bukan milik gereja, melainkan gereja milik misi Allah (missio Dei).³
Menutup tahun dengan spiritualitas syukur, bukan keluhan.
Gereja dipanggil menolong jemaat menafsirkan hidup bukan hanya dari apa yang hilang, tetapi dari apa yang Tuhan tetap kerjakan.
Menghidupi iman yang diceritakan, bukan hanya dirasakan.
Kesaksian iman perlu keluar dari tembok gereja—melalui kehidupan sehari-hari, kerja, relasi, dan pelayanan sosial.
Mewariskan ingatan iman lintas generasi.
Anak-anak dan orang muda perlu mendengar kisah nyata perbuatan Tuhan, bukan hanya teori iman.
Di tengah bencana alam dahsyat, khotbah ini tidak mengajak jemaat menyangkal penderitaan, tetapi menafsirkan penderitaan dalam terang perjanjian Allah.
Menceritakan perbuatan Tuhan juga berarti menghadirkan kasih Tuhan secara nyata.
Kesaksian iman terwujud melalui solidaritas, empati, dan tindakan nyata.
Allah tetap setia meskipun bumi terguncang.
Perjanjian Allah tidak runtuh bersama bangunan yang roboh.
Gereja menjadi lidah dan tangan Allah di tengah luka dunia.
Ketika kata-kata terbatas, kasih yang diwujudkan menjadi kesaksian paling kuat.
Dietrich Bonhoeffer menyebut gereja sejati sebagai gereja yang “ada bagi orang lain”.⁴
Mazmur 105 mengajarkan kita bahwa:
Menutup tahun 2025, Gereja tidak dipanggil untuk sekadar bertahan, tetapi bersaksi—dengan suara, hidup, dan kasih.
“Gereja yang mengingat perbuatan Tuhan akan memiliki keberanian untuk menceritakan-Nya, bahkan di tengah dunia yang terluka.”
Komentar