Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 30 Agustus - 5 September 2026

Gambar
  Tema: Memilih Kata yang Bijak (Make Kata Si Payo) ​Bacaan Utama: Titus 2:1–8 ​1. Pendahuluan ​Lidah dan kata-kata memiliki daya pengaruh yang luar biasa dalam kehidupan manusia—dapat membangun persekutuan atau justru menghancurkan kepercayaan. ​Rasul Paulus memberikan instruksi krusial kepada Titus agar setiap pemberitaan dan pengajaran jemaat senantiasa berakar pada ajaran yang sehat . ​2. Fakta Realitas Kehidupan ​Dalam realitas sehari-hari, ucapan yang ceroboh, fitnah, atau perkataan tanpa kendali sering kali menjadi batu sandungan dalam keluarga dan masyarakat. ​Dunia luar senantiasa mengamati konsistensi antara apa yang diucapkan oleh orang percaya dengan realitas karakter keseharian mereka di tengah dunia. ​3. Arti dan Makna Teologis ​Kata-kata sangat penting dalam memuliakan Tuhan, oleh sebab itu Paulus menekankan kemampuan memilih kata-kata yang bijak dalam pengajaran. ​Kata-kata harus sejalan dengan perbuatan, kebiasaan, dan tabiat; orang yang mampu...

Mempreteli Kesulitan



Apa yang  paling sulit dilakukan di Indonesia saat ini? 

Mencari pekerjaan ah tidak.  Banyak tempat kerja, apalagi kerja yang informal. 

Mencari makanan enak? Enggak juga. Mencari jodoh?,  ah itu gampang, gampang banget malah.

Mencari mobil mewah dan mahal? Tidak, datang saja ke Jagorawi pada hari libur, atau Sabtu Minggu. Langsung terdengar raungan mobil mobil super mewah, yang konon harga sebuah nya ada yang sampai Rp 60 Milyard. 

( Sumber Foto : www.exoticspotter.com)

Jadi apa yang paling sulit dilakukan di Indoensia adalah mengajarkan Persatuan kepada anak anak usia SD dan SMP bahkan sampai SLTA.

Mengapa sulit? Bukan karena tiadanya para pengajar top, yang bisa mengajarkan Pancasila dan Persatuan dengan baik.  Namun karena tiadanya keteladanan dari orang orang terhormat.





Saat ini setiap hari anak anak kita yang lagi doyan doyannya menonton TV, tapi di TV mereka melihat ketidak becusan dari pejabat pejabat yang kekanak kanakan dan mau menang sendiri. Mereka hanya melihat remuknya sendi sendi persatuan kita.

Mereka melihat wakil ketua DPR yang memukul palu dengan tidak menghiraukan orang yang masih minta penjelasan, mengabaikan orang yang berjalan untuk menyampaikan sesuatu.  Mau menang sendiri.

Saat ini mereka mendengar nama nama orang hebat tapi terjerat   korupsi raksasa.
Ada pemimpin yang bersuara sangat nyaring memenjarakan orang yang dicap bersalah, namun dipihak lain dia sendiri tidak mau memenuhi panggilan polisi.

Orang orang yang berkumpul sambil menyalakan lilin dan menyampaikan tanda simpati tapi dibubarkan polisi.

Dan banyak lagi dan banyak lagi contoh contoh yang mereka lihat dan dengar yang berbeda dari apa yang diajarkan tentang persatuan dan kesatuan. So bagaimana mengajarkan persatuan itu kepada anak anak usia SD/SMP?SMA usia dimana karakter kebangsaan mereka sedang dibentuk dan dibangun?

Pesimis? Ya iyalah.
Putus asa? Belum juga.  

Sebab masih ada beberapa gelintir nama yang bisa menjadi bintang pemersatu, yang ajarannya sangat santun dan mulia.  Hanya perlu disambungkan dengan anak anak SD tadi.

Masih ada Pak Jokowi yang sangat segar dengan kuis kuisnya.  Ada juga nama nama Buya Syafii Maarif,  Yudi Latif PhD, KH Said Aqil Sirodj,  Yenni Wahid, masih ada Mbak Afi Nihaya Faradis, Mbak Aisha Nurramdhani.

Mereka ini lah yang  memberi optimisme bagi kita semua bahwa mengajarkan persatuan kepada anak anak masih bisa kita lakukan. 

Namun pertanyaan bagi kita orang tua adalah : 

Mau dan beranikah kah kita megajarkan kepada anak anak Kristen kita, bahwa anak anak muslim itu adalah sahabat sejati mereka untuk membangun Indonesia yang hebat?

Masih mau dan beranikah teman teman mengajarkan kepada anak anak muslim kita bahwa  anak anak Kristen itu adalah teman mereka selamanya untuk mempertahankan dan memajukan Indonesia tercinta ini? 

Masih mau kah kita mengajarkan kepada anak anak hindu, budha, khong hucu, katolik bahwa sahabat sejati dan teman abadi mereka adalah anak anak muslim dan Kristen, apapun agama dan aliran kepercayaannya ? 



Jawaban mau atau tidak mau kita,  yakinlah, itu yang akan menentukan kebangkitan dan kehancuran Indonesia ini.  

Yang gampang bisa menjadi sulit, dan yang sulit bisa menjadi sangat gampang.

Hanya mau kah kita berfikir mendalam dan membuat renungan untuk menjangkau jauh kemasa depan?

Berfikir tidak pernah sulit, karena dengan  berfikir lah kesulitan yang paling sulit sekalipun  dipreteli.   Apalagi sambil minum Kopi Karo Bika.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 19 – 25 Juli 2026

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026