Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Featured Post

Kesalahan Tak Disadari: Bahaya Berpikir Dangkal dan Pasif bagi Pendeta dan Presbiter

Gambar
  Oleh Pt. Em. Analgin Ginting, M.Min.  ​Dalam dinamika pelayanan gereja, kita sering kali mengukur "kejahatan" atau kesalahan kepemimpinan dari skandal-skandal besar yang tampak di permukaan: korupsi keuangan, penyimpangan moral, atau ajaran sesat. Namun, ada bentuk bahaya lain yang jauh lebih halus, destruktif, dan merayap perlahan merusak tatanan gereja tanpa disadari—yaitu kedangkalan berpikir dan sikap pasif dari para pelayan-Nya (Pendeta dan Presbiter). ​1. Akar Konsep: "Kejahatan Karena Kedangkalan Berpikir" ​Filsuf Hannah Arendt dalam karyanya Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil (1963) mempopulerkan konsep “the banality of evil” (kebiasaan/kedangkalan kejahatan). Ia menemukan bahwa kerusakan massal sering kali tidak dilakukan oleh sosok monster yang penuh niat jahat ( malice ), melainkan oleh manusia-manusia biasa yang enggan berpikir kritis, apatis, dan mematikan daya refleksinya. ​Dalam konteks gereja, fenomena ini berkelindan de...

7 Makna Kemenangan Pasangan Terkelin Berahmana Dan Cory Sebayang

Gambar
Pilkada serentak pada tanggal 9 Desember 2015 akan menjadi sejarah yang sangat positif bagi bangsa Indonesia.  Demikian juga untuk masyarakat Karo, dimana Pilkada kemarin bisa menempatkan pasangan Terkelin Berahmana dan Cory Sriwaty Sebayang sebagai pemenang, dimana hal ini  akan dikenang sepanjang masa. Banyak hal, pengalaman dan peristiwa yang dapat dijadikan sebagai pembelajaran dari Pilkada Karo, yang sukses tanpa gangguan yang berarti. Penulis melihat paling tidak ada 7 hal yang dapat dijadikan sebagai pemaknaan terhadap keberhasilan Pilkada Karo tahun 2015 yang mempunyai jumah pemilih sekitar 265.000 jiwa.Mari kita lihat stau persatu. 1.       Ditolaknya politik uang. Pilkada kemarin dapat diyakini sebagai tonggak mulai ditinggalkannya politik uang dalam masyarakat Karo.  Gerakan gerakan untuk menolak politik uang sangat ramai dikumandangkan sekitar 6 minggu sebelum tanggal 9 Desember.  Dimotori oleh GBKP (Gereja Batak Kar...

Pilih Pemimpin Bukan Manager Handal

Gambar
(Lanjutan Sebuah Kisah Memilih Pemimpin)  Banyak yang memilih bahwa calon yang paling bagus menjadi pemimpin adalah pemanah nomor 3.  Sebab dia mampu membidik sasaran, meskipun sasaran itu sedang terbang, atau bergerak cepat.  Kita butuh pemimpin yang mencapai target katanya. Lalu ada lagi yang mencalonkan bahwa pemimpin yang paling baik adalah pemanah nomor 1, karena dia tahu kemampuannya dan kelemahannya.  Dia seorang yang tahu diri, namun tetap masih bisa mencapai sasarannya, begitu argumentasinya. Hampir tidak ada yang mencalonkan pemanah nomor 2 menjadi pemimpin, sebab alasan mereka terlalu percaya diri, bahkan takabur.  Dia memang pandai memanah, dia memang bisa mencapai sasaran, namun kita kita butuh pemimpin yang terlalu sombong, kata hampir semua orang. Bagaimana dengan pemanah nomor empat? Biasanya sekitar 20 persen memilih pemanah yang nomor empat ini sebagai pemimpin.  Alasannya adalah karena dia tidak putus asa, dia tid...

Sebuah Kisah Memilih Pemimpin

Gambar
Inilah sebuah kisah kepemimpinan yang memberi inspirasi kepada banyak  pemimpin di dunia. Tepatnya sebuah kisah tetang   memilih pemimpin.  Tak kurang bekas presiden Amerika Serikat,     FD Rosevelt dalam kesaksiannya mengatakan bahwa kisah ini  banyak sekali mengilhami dirinya saat memimpin Negara Adidaya, Amerika Serikat.  Beginilah kisah yang diambil dari cerita mitologi Yunani.  Konon suatu saat raja meninggal dunia. Raja bijaksana yang meninggal dunia ini tidak mempunyai keturunan/anak seorang pun, sehingga tidak ada yang akan menjadi ahli waris menjadi raja berikutnya.  Lalu dewan istana sepakat untuk memilih pengganti raja berikutnya seseorang dari rakyat sendiri.  Dicarilah pemuda pemuda yang paling hebat dari seluruh pelosok negeri untuk dinominasikan menjadi raja. Ternyata ditemukan 4 orang kandidat yang sama sama kuat dan cerdas sama sama tampan dan usia pun relative masih muda dan merata.  Harus dip...