Featured Post

Refleksi 136 Tahun Perjalanan GBKP, Kisah Pengabdian Pdt Dr. A. Ginting Suka dan Keluarga

Gambar
  Potret Pendeta yang Secara Jujur dan Total Menghidupi Teologi Calvinis  Pt. Em. Analgin Ginting.  ​ Abstrak Artikel ini mengulas jejak kepemimpinan Pdt. Dr. A. Ginting Suka dalam memimpin Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) selama 25 tahun (1966–1991). Melalui analisis terhadap dedikasi pelayanan, pengembangan sumber daya manusia, dan keharmonisan keluarga, tulisan ini berargumen bahwa beliau merupakan manifestasi hidup dari teologi Calvinis yang menekankan kedaulatan Allah dalam segala aspek kehidupan ( Coram Deo ), etos kerja yang tinggi, serta pentingnya pendidikan intelektual bagi para pelayan Tuhan. ​ Pendahuluan ​Teologi Calvinisme sering kali disalahpahami hanya sebagai doktrin predestinasi yang kaku. Namun, intisari dari pemikiran Yohanes Calvin adalah pengakuan akan kedaulatan Allah yang mutlak atas seluruh ranah kehidupan, termasuk pendidikan, profesi, dan keluarga (Kuyper, 1931). Dalam konteks gereja di Indonesia, khususnya suku Karo, sosok Pdt. Dr. A. Gin...

Indonesia Menyatukan Islam Dan Kristen



Bahwa perdebatan sengit antara Kristen dan Islam masih terjadi di Jagad Kompasiana

Saling membela dan saling menyerang, menunjukkan kekuatan dengan cara melemahkan lawan,

Menunjukkan kebenaran dengan cara mencari kesalahan lawan.

Kapan kah ini berakhir? Siapapun tidak bisa menduga dan meramalkan

Dan nampaknya akan terus bergulir, selama Kompasiana ada.


Apakah yang ingin kita cari dari perdebatan melelahkan ini.

Sebuah pengakuan kekalahan dari “lawan” kita kah?

Sebuah “jiwa besar” yang mengatakan agamaku salah, agamamu benar?

Lalu apa arti dan maknanya pengakuan itu?

Apakah sebuah agama lebih benar jika umat agama lain mengatakan seperti itu?

Bukankah hal itu hanya memuaskan emosi kemanusiaan kita saja.

Emosi manusia yang sudah bernoda dan kotor, seperti ramai dikatakan :

Tidak ada yang benar seorang pun tidak, semua manusia sudah jatuh kedalam dosa yang mematikan.


Sahabatku…

Tidak ingatkah kita, bahwa kita beragama A karena lingkungan dan orang tua kita mengajarkan seperti itu.

Atau lupakah kita bahwa semua agama, khususnya Islam dan Kristen adalah kiriman dari luar, yang bukan lahir dari bumi dan tanah Indonesia?

Terlalu bodohkah kita, terlalu manjakah kita, atau terlalu egoiskah kita untuk menemukan sebuah sintesa baru, Islam yang Indonesia atau Kristen yang Indonesia.

Yang mungkin sedikit termodifikasi di dalam ritualnya, tapi tidak dalam inti Teologisnya.

Sebuah Kristen Baru, dan Islam Baru yang hanya ada di Indonesia. Yang bisa hidup damai, dan berdampingan dalam nuansa ikhlas yang saling menguatkan, saling mengasah, dan saling menuntun untuk menemukan kebenaran sejati.



Tidak mungkin kah Islam dan Kristen itu bisa bersatu ketika umatnya masih hidup?

Sebab saya menemukan ada kedamaian dalam sepi yang kekal abadi

Di Pekuburan Patriot Bekasi.

Disana orang-orang Kristen di sebelah kanan, orang-orang Islam di sebelah Kiri.

Ikhlas menyambut sambil bergandengan tangan menyapa siapapun yang datang ziarah.

Tidak pernah mereka bertanya, apa agamamu?



(Sudah di Posting di : http://agama.kompasiana.com/2011/01/06/indonesia-menyatukan-islam-dan-kristen/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025