Featured Post

Catatan Tambahan PJJ 14 - 20 Juni 2026

Gambar
Thema : Beluh Muat Ukur (Mudah Mendapatkan Rasa Empati Orang Lain) Nas : 1 Timotius 5 : 1-7  ​A. PENDAHULUAN & FAKTA BERKAITAN NAS ​Mendapatkan empati dan respek dari orang lain—atau yang dalam kearifan lokal kita sebut beluh muat ukur —bukanlah sebuah keterampilan manipulatif untuk mencari simpati demi keuntungan pribadi, melainkan buah dari ketulusan hidup yang berakar pada kasih Kristus. Sering kali kita terjebak menuntut untuk dipahami dan dihormati terlebih dahulu oleh orang-orang di sekitar kita, baik oleh pasangan, anak, orang tua, maupun sesama jemaat. Namun, firman Tuhan melalui Rasul Paulus menegaskan bahwa beluh muat ukur hanya bisa lahir ketika kita memiliki kerendahan hati untuk terlebih dahulu menanggalkan keegoisan, peduli pada kerapuhan sesama, dan berkomitmen mendahulukan kepentingan orang lain dengan penuh kemurnian. ​Di tengah realitas kehidupan modern yang cenderung individualistis dan transaksional, kemampuan untuk merengkuh empati sesama menjadi tantanga...

Indonesia Menyatukan Islam Dan Kristen



Bahwa perdebatan sengit antara Kristen dan Islam masih terjadi di Jagad Kompasiana

Saling membela dan saling menyerang, menunjukkan kekuatan dengan cara melemahkan lawan,

Menunjukkan kebenaran dengan cara mencari kesalahan lawan.

Kapan kah ini berakhir? Siapapun tidak bisa menduga dan meramalkan

Dan nampaknya akan terus bergulir, selama Kompasiana ada.


Apakah yang ingin kita cari dari perdebatan melelahkan ini.

Sebuah pengakuan kekalahan dari “lawan” kita kah?

Sebuah “jiwa besar” yang mengatakan agamaku salah, agamamu benar?

Lalu apa arti dan maknanya pengakuan itu?

Apakah sebuah agama lebih benar jika umat agama lain mengatakan seperti itu?

Bukankah hal itu hanya memuaskan emosi kemanusiaan kita saja.

Emosi manusia yang sudah bernoda dan kotor, seperti ramai dikatakan :

Tidak ada yang benar seorang pun tidak, semua manusia sudah jatuh kedalam dosa yang mematikan.


Sahabatku…

Tidak ingatkah kita, bahwa kita beragama A karena lingkungan dan orang tua kita mengajarkan seperti itu.

Atau lupakah kita bahwa semua agama, khususnya Islam dan Kristen adalah kiriman dari luar, yang bukan lahir dari bumi dan tanah Indonesia?

Terlalu bodohkah kita, terlalu manjakah kita, atau terlalu egoiskah kita untuk menemukan sebuah sintesa baru, Islam yang Indonesia atau Kristen yang Indonesia.

Yang mungkin sedikit termodifikasi di dalam ritualnya, tapi tidak dalam inti Teologisnya.

Sebuah Kristen Baru, dan Islam Baru yang hanya ada di Indonesia. Yang bisa hidup damai, dan berdampingan dalam nuansa ikhlas yang saling menguatkan, saling mengasah, dan saling menuntun untuk menemukan kebenaran sejati.



Tidak mungkin kah Islam dan Kristen itu bisa bersatu ketika umatnya masih hidup?

Sebab saya menemukan ada kedamaian dalam sepi yang kekal abadi

Di Pekuburan Patriot Bekasi.

Disana orang-orang Kristen di sebelah kanan, orang-orang Islam di sebelah Kiri.

Ikhlas menyambut sambil bergandengan tangan menyapa siapapun yang datang ziarah.

Tidak pernah mereka bertanya, apa agamamu?



(Sudah di Posting di : http://agama.kompasiana.com/2011/01/06/indonesia-menyatukan-islam-dan-kristen/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025