Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (11 – 17 Oktober 2026)

 

​Tema: Pengetahuan Yang Lengkap Dan Berguna (Pemeteh si kuh dingen serta)

Teks Alkitab: 1 Korintus 13:11 – 12

​"Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal."


​Pendahuluan

​Pertumbuhan adalah keniscayaan dalam tatanan ciptaan Allah. Sebagaimana seorang anak secara fisik dan mental mengalami fase perkembangan dari tutur kata, perasaan, hingga pola pikir sederhana menuju kedewasaan, demikian pula manusia dipanggil untuk mengalami pembaharuan budi dan iman secara berkesinambungan. Ketidakmampuan atau keengganan untuk bertumbuh merupakan sebuah anomali spiritual, sebab iman yang sejati tidak pernah bersifat statis, melainkan sebuah peziarahan iman yang terus bergerak mematangkan pengenalan akan Allah.

​Dalam realitas kehidupan masa kini, manusia sering kali terjebak dalam kesombongan intelektual dan spiritual, seolah-olah pengetahuan yang dimilikinya saat ini sudah sempurna dan mutlak. Rasul Paulus mengingatkan jemaat di Korintus—dan kita hari ini—bahwa seluruh daya pikir, pemahaman, serta persepsi manusiawi kita di dunia fana ini masih sangat terbatas. Pengenalan kita akan rahasia Allah dan kedaulatan-Nya saat ini ibarat menatap bayangan samar pada cermin perunggu antik yang belum utuh, sehingga membutuhkan sikap hati yang rendah hati (humility) untuk terus belajar.

​Oleh karena itu, teks 1 Korintus 13:11-12 ini memanggil umat untuk menyadari keterbatasannya sekaligus menaruh pengharapan pada eskatologi Allah. Dewasa secara iman berarti bersedia meninggalkan sifat-sifat kanak-kanak—seperti egosentrisme, kedangkalan berpikir, dan kepuasan semu—untuk menyambut proses pembentukan Tuhan. Melalui penyempurnaan yang dikerjakan oleh anugerah Allah kelak, pengenalan kita akan dipulihkan secara penuh, yaitu ketika kita memandang-Nya muka dengan muka dalam keabadian.

Fakta

​Dalam kenyataan hidup bermasyarakat maupun bergereja, masih banyak perpulungan yang menunjukkan pola pikir spiritual seperti anak-anak: cepat berprasangka, mengandalkan emosi belaka, serta merasa bahwa pengetahuan dan penafsirannya adalah satu-satunya yang paling benar. Keterbatasan pengenalan manusiawi ini sering kali menjadi pemicu perselisihan, kesombongan spiritual, dan penghakiman antar sesama.

Arti Dan Makna Teologis

​Kehidupan di dunia merupakan sebuah proses yang bertumbuh, ada masa kanak kanak yang berfikir seperti kanak kanak, dan selanjutnya ada masa dewasa dan berfikir pun seperti dewasa. Dan terus bertumbuh tidak berhenti. Demikian juga pemahaman, pengetahuan akan kehidupan akan diri sendiri akan siapa Tuhan, terus bertumbuh selama waktu hidup yang disediakan di dunia fana ini.

​Pemahaman dan pengenalan manusia akan Tuhan seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Pemikiran manusia itu berubah, pengenalan manusia kepada Tuhan pun berproses, bertumbuh dari yang tidak jelas menjadi samar samar, dan terus berproses. Pengenalan manusia akan Tuhan tidak akan pernah lengkap, tidak akan pernah sempurna sebelum nanti Tuhan Sendiri yang membuatnya jelas di dalam keabadian.

​Ketika Tuhan dengan kasih sayang yang sempurna memperkenalkan diriNya dan mentransformasi manusia itu supaya mampu mengenal diriNya, barulah manusia itu ; kam dan aku serta kita sekalian bisa mengenal Tuhan bukan lagi seperti melihat Nya dalam cermin yang retak. Menunggu proses itu terjadi dan tiba, maka kita harus meningkatkan komitmen kita mengikuti jalan dan berusaha memohon kepada Tuhan saja.

Kerygma

  1. ​Kristus adalah Puncak Penyataan Allah (Revelatio Dei): Allah yang melampaui akal manusia telah merendahkan diri-Nya dan memperkenalkan wajah-Nya secara nyata melalui Yesus Kristus. Di dalam Kristus, bayangan samar itu mulai dibukakan bagi kita.
  2. ​Panggilan Menuju Kedewasaan Iman: Injil memanggil setiap orang percaya untuk tidak menetap dalam kedangkalan rohani. Roh Kudus bekerja secara bertahap memproses dan mentransformasi pemikiran, tutur kata, serta perbuatan kita menuju keserupaan dengan Kristus.
  3. ​Pengharapan Eskatologis yang Pasti: Seluruh keterbatasan, ketidakberdayaan, dan ketidaksempurnaan pengenalan kita di dunia ini akan disempurnakan pada kedatangan Kristus kembali. Pengenalan yang sempurna itu bersumber dari anugerah Allah yang telah terlebih dahulu mengenal kita secara utuh.

​Implementasi

  1. ​Rendah Hati dalam Berpendapat dan Berelasi (Kerendahan Hati / Meteruk Ukur): Menyadar keterbatasan pengetahuan diri sehingga tidak menghakimi sesama dalam PJJ maupun gereja, melainkan mau mendengarkan dan saling membangun.
  2. ​Meninggalkan Sifat Kanak-Kanak (Nadingken Biak-biak Dakdanak): Mengubah pola pikir egosentris (hanya mementingkan diri sendiri) menjadi pola pikir dewasa yang dipenuhi kasih, pengampunan, dan tanggung jawab imaniah.
  3. Tekun Membaca dan Mempelajari Firman Tuhan: Terus meningkatkan komitmen untuk belajar Firman dan berdoa setiap hari, memohon petunjuk Roh Kudus agar pengenalan kita akan Tuhan semakin bertumbuh jernih dan berbuah dalam tindakan nyata.
  • ​Kesimpulan dan Penutup

    ​Proses pertumbuhan iman manusia menuju kedewasaan adalah perjalanan seumur hidup (sanctification). Di dunia ini, pengenalan kita akan Allah memang belum sempurna, namun Allah telah menganugerahkan kasih-Nya untuk mentransformasi kehidupan kita. Marilah kita terus setia berjalan bersama Tuhan, meninggalkan sifat kanak-kanak, dan menaruh komitmen penuh untuk hidup bagi kemuliaan-Nya hingga kelak kita memandang wajah-Nya secara sempurna dalam keabadian.

    ​Power Statement

    ​"Kedewasaan iman bukan berarti tahu segala hal, melainkan bersedia terus dibentuk oleh Tuhan di tengah keterbatasan kita hingga kelak mengenal-Nya secara sempurna."

References

  1. ​Alkitab Terjemahan Baru (TB) – 1 Korintus 13:11–12.

  1. ​Alkitab Bahasa Karo – 1 Korintus 13:11–12 (Pemeteh si kuh dingen serta).

  1. ​Bahan PJJ GBKP – Minggu 11–17 Oktober 2026.

  1. ​Calvin, John. Commentary on the First Epistle of Paul to the Corinthians (Mengenai 1 Korintus 13:11-12 & Eskatologi Pengetahuan).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahan Bimbingan Tambahan PJJ GBKP ​Periode: 27 September – 3 Oktober 2026

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ: 2 – 8 Agustus 2026