Featured Post

MENGUJI DAYA TAHAN EKONOMI INDONESIA:

Gambar
  ​Mengukur Ketahanan Makro di Tengah Guncangan Mikro dan Visi Substitusi Impor ​ Oleh: Ir. Analgin Ginting Jakarta, 5 Juni 2026 ​1. Pendahuluan ​Memasuki pertengahan tahun 2026, lanskap ekonomi Indonesia dihadapkan pada sebuah paradoks besar yang memicu perdebatan sengit di kalangan akademisi dan pengambil kebijakan. Di satu sisi, indikator makro di atas kertas menunjukkan ketahanan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang impresif. Namun di sisi lain, sektor riil dan pasar keuangan domestik memancarkan sinyal darurat. ​Per hari ini, Jumat, 5 Juni 2026 , tekanan eksternal telah menyeret nilai tukar Rupiah menembus batas psikologis baru di kisaran Rp 17.980 hingga Rp 18.036 per Dollar AS , setelah sempat tertekan ke rekor terendah Rp 18.049. Pelemahan nilai tukar yang kronis ini diikuti oleh kondisi Pasar Modal yang "berdarah-darah"; Indeks Harga Saham Ganungan (IHSG) mengalami koreksi tajam ke zona merah karena aksi jual masif ( capital outflow ) oleh investor asin...

Buah Untuk Menyaingi Tuhan



Dosa manusia sebenarnya bukan datang dari keinginan untuk makan. Meskipun awal dari semua “dosa asal” adalah tatkala Hawa istri Adam terpengaruh rayuan iblis yang sering digambarkan dalam bentuk ular, lalu  mengambil dan memakan  buah pohon terlarang  dan  membagikannya kepada suaminya.  Si suami Adam pun menerima pemberian istri tercintanya lalu ikut memakan buah pengetahuan akan yang baik dan dan yang jahat di Taman Eden.


Motivasi Hawa sebenarnya bukan untuk makan buah, namun untuk mendapatkan pengertian  dan menjadi serupa dengan Allah dalam mengetahui yang jahat dan yang baik.  Hal itu dituliskan dengan jelas dalam Kejadian  3 : 5-6, seperti  ini : 

3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.


Iblis memang cerdik dan jahat. Itulah sebabnya iblis mampu membangun logika terbalik  kepada Hawa, sampai dia berani memandang buah larangan itu  sambil berimajinasi bahwa buahnya baik dan sedap untuk dimakan.  Hawa sama dengan Daud, bahwa dosa mereka berawal dari pandangan yang penuh imaginasi.  Hawa MEMANDANG buah pengetahuan yang baik dan jahat dan selanjutnya dosa, Daud MEMANDANG Batsyeba dan seterusnya dosa.



Tiga urut urutan yang melahirkan perbuatan dosa Hawa adalah,  (1) “berdialog dengan iblis”, (2) “terpengaruh oleh iblis” dengan kesadaran  akan menjadi sama dengan Allah, (3)”membangun pembenaran dalam diri sendiri”  buahnya baik dan nampaknya sedap untuk dimakan serta memberikan pengertian.  Ketiga hal ini berlangsung dalam pemikiran, awalnya bergejolak namun selanjutnya berakhir dalam TINDAKAN mengambil dan memakan buah yang secara tegas dilarang oleh TUHAN ALLAH


Jelas, Hawa memakan buah bukan karena lapar, sebab disekitar dia pada saat itu banyak sekali pohon pohon lain yang menghasilkan buah buah yang diperuntukkan untuk makanannya.  Adam pun berdosa bukan karena ingin makan, namun karena terpengaruh dan terpukau akan pemberian Hawa.


Makan bukan dosa, alasan dan tujuan untuk makan sesuatu lah yang menjadi dosa.  Semua boleh dimakan, asal itu sesuai dengan petunjuk Tuhan. Sedangkan semua yang dilarang Tuhan jangan dimakan, sebab pada semua makanan yang dilarang Tuhan hadir iblis yang siap membangun logika baru untuk memberi pembenaran  yang ujung ujungnya mendapatkan pengertian yang serupa dengan Tuhan, tentang yang baik dan yang jahat.  


Pada jaman sekarang kemampuan manusia membangun logikanya sendiri semakin besar dan semakin cepat.  Hati hati dalam tindakan yang dilarang Tuhan, disana guru besar tentang  segala penipuan si iblis hadir dengan tujuan membangun logika logika baru yang nampaknya benar, namun ujung ujungnya adalah “menyaingi TUhan”.  Menyaingi Tuhan artinya adalah  merasa tidak memerlukan Tuhan lagi. 


Saat gereja menyuruh umatnya melakukan sesuatu, namun umatnya tidak mengikuti dan menjalankannya maka disana Tuhan sudah disaingi.  Saat Tuhan menyuruh aku dan kam melakukan sesuatu, namun aku dan kam tidak melakukan yang diminta Tuhan, maka saat itu Tuhan telah kita persaingkan dan kita nyatakan kalah. 


Manusia butuh Tuhan selama lamanya. Saya butuh Tuhan dalam segala situasi dan segala waktu. Dan mari kita praktekkan  kebutuhan kita akan Tuhan itu dengan rendah hati dan doa penyerahan diri kita kepadaNya.  Bukan dengan membangun logika dan melakukan pembenaran sambil menjauhi gereja dan persekutuan dan melupakan doa.  Tuhan Yesus memberkati. Mejuah juah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

Catatan Tambahan PJJ 13 - 19 Juli 2025