Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (26 Juli s.d. 1 Agustus 2026)

Gambar
 ​ TEMA: Kami Terima Dari Tuhan ( Ialoken Kami Ibas Tuhan Nari ) TEKS: 1 Tawarikh 29 : 14 – 16 ​ "Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu. Sebab kami adalah orang asing di hadapan-Mu dan orang pendatang sama seperti semua nenek moyang kami; sebagai bayang-bayang hari-hari kami di atas bumi dan tidak ada harapan. Ya TUHAN, Allah kami, segala kelimpahan bahan-bahan yang kami sediakan ini untuk mendirikan bagi-Mu rumah bagi nama-Mu yang kudus adalah dari tangan-Mu sendiri dan punya-Mulah segala-galanya." ​1. Pendahuluan ​Bagi orang Karo warga GBKP, kesadaran untuk memberi persembahan pada awalnya relatif rendah. Hal ini disebabkan oleh latar belakang sejarah pada awal berdirinya GBKP, di mana hampir seluruh kebutuhan operasional dan pelayanan gereja didanai serta disediakan oleh Nederlandsch Zende...

Rugi Buang Air Besar di WC



Sebuah tindakan sangat simpatik dipraktekkan supporter Tim Jepang di Piala Dunia tahun 2018 di Rusia.  Setelah selesai pertandingan mereka mengumpulkan sampah sampah, dan meninggalkan stadion dalam keadaan kinclong, bersih dan rapi. 

Tidakan menjaga kebersihan ini bukan hanya tindakan suatu ketika atau sekali sekali,  melainkan sebuah kebiasaan yang bisa dilihat diseluruh property atau pabrik pabrik yang dikelola oleh Jepang?
Bagaima dengan Bangsa lain, atau suku lain? Dalam piala dunia ini, tidak  ada khabar  tentang suporter Tim Negara lain, sehingga bisa disimpulkan bahwa Hanya Bangsa Jepang yang terkenal dengan prilaku menjaga kebersihan. 

Betolak belakang dengan bangsa Jepang adalah Suku Karo.  Maaf untuk melakukan oto kritik terhadap kebiasaan kita sebagai kalak karo.

Datanglah ke jambur jambur setelah selesai acara peradatan. Maka anda akan melihat lautan sampah dimana mana.  Jorok.  Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan jambur dalam keadaan bersih.
Lihat lah jalanan antara Medan dan Berastagi, dipinggir jalan sampah sampah organic dan non organik  berceceran  dan menumpuk dimana mana.  LIhatlah  kota Kabanjahe, tempat tempat wisata, tempat tempat pelayanan umum.  Untuk lebih tepatnya  nya, lihat lah WC nya…Jorok dan bau pesing.    

Rumah adat Batak Karo, dengan Ture atau beranda di depan pintu masuk.


Sampai sejauh ini boleh dikatakan bahwa kita Suku  Karo adalah salah satu yang paling tidak sadar menjaga kebersihan.  Maka tidak heran bahwa setelah selesai  sebuah perhelatan sampah berjubel, serta tidak sulit  untuk menebak, siapa yang barusan berpesta atau berhelat dari sampah yang ditinggalkan. Hahahaha.

Konon dijaman dulu, di kampung kampung suku karo, bahwa  ada pemikiran rugi kalau buang air besar di WC.  Akibatnya suku karo pada jaman dulu tidak mengenal WC.   Mengapa Rugi ? Sebab kalau buang hajat di WC, tidak ada makanan babi.  Hahahaha.

Orang Karo jaman dulu, jika membuang air besar, cukup pergi ke Ture (beranda rumah adat Karo, siwaluh jabu).  Tinggi Ture ini dari tanah, lebih kurang 2 meter.  Dan dibawah rumah adat ini biasa dipakai sebagai kandang ternak, khususnya babi.  Nah ketika seseorang buang air besar di Ture, maka dibawahnya sudah menanti ternak babi yang akan melahap lezaat makanan dari atas itu.

Jangan jangan kebiasaan ini  yang menjadikan Suku Karo  sulit menjaga kebersihan.  Uga akapndu yah…?????

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025

GBKP Menjadi Keluarga Allah yang Diutus untuk Mengerjakan Missi Allah di Dunia bagi Seluruh Ciptaan

Catatan Tambahan PJJ 7 – 13 September 2025