Featured Post

Refleksi 136 Tahun Perjalanan GBKP, Kisah Pengabdian Pdt Dr. A. Ginting Suka dan Keluarga

Gambar
  Potret Pendeta yang Secara Jujur dan Total Menghidupi Teologi Calvinis  Pt. Em. Analgin Ginting.  ​ Abstrak Artikel ini mengulas jejak kepemimpinan Pdt. Dr. A. Ginting Suka dalam memimpin Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) selama 25 tahun (1966–1991). Melalui analisis terhadap dedikasi pelayanan, pengembangan sumber daya manusia, dan keharmonisan keluarga, tulisan ini berargumen bahwa beliau merupakan manifestasi hidup dari teologi Calvinis yang menekankan kedaulatan Allah dalam segala aspek kehidupan ( Coram Deo ), etos kerja yang tinggi, serta pentingnya pendidikan intelektual bagi para pelayan Tuhan. ​ Pendahuluan ​Teologi Calvinisme sering kali disalahpahami hanya sebagai doktrin predestinasi yang kaku. Namun, intisari dari pemikiran Yohanes Calvin adalah pengakuan akan kedaulatan Allah yang mutlak atas seluruh ranah kehidupan, termasuk pendidikan, profesi, dan keluarga (Kuyper, 1931). Dalam konteks gereja di Indonesia, khususnya suku Karo, sosok Pdt. Dr. A. Gin...

Rugi Buang Air Besar di WC



Sebuah tindakan sangat simpatik dipraktekkan supporter Tim Jepang di Piala Dunia tahun 2018 di Rusia.  Setelah selesai pertandingan mereka mengumpulkan sampah sampah, dan meninggalkan stadion dalam keadaan kinclong, bersih dan rapi. 

Tidakan menjaga kebersihan ini bukan hanya tindakan suatu ketika atau sekali sekali,  melainkan sebuah kebiasaan yang bisa dilihat diseluruh property atau pabrik pabrik yang dikelola oleh Jepang?
Bagaima dengan Bangsa lain, atau suku lain? Dalam piala dunia ini, tidak  ada khabar  tentang suporter Tim Negara lain, sehingga bisa disimpulkan bahwa Hanya Bangsa Jepang yang terkenal dengan prilaku menjaga kebersihan. 

Betolak belakang dengan bangsa Jepang adalah Suku Karo.  Maaf untuk melakukan oto kritik terhadap kebiasaan kita sebagai kalak karo.

Datanglah ke jambur jambur setelah selesai acara peradatan. Maka anda akan melihat lautan sampah dimana mana.  Jorok.  Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan jambur dalam keadaan bersih.
Lihat lah jalanan antara Medan dan Berastagi, dipinggir jalan sampah sampah organic dan non organik  berceceran  dan menumpuk dimana mana.  LIhatlah  kota Kabanjahe, tempat tempat wisata, tempat tempat pelayanan umum.  Untuk lebih tepatnya  nya, lihat lah WC nya…Jorok dan bau pesing.    

Rumah adat Batak Karo, dengan Ture atau beranda di depan pintu masuk.


Sampai sejauh ini boleh dikatakan bahwa kita Suku  Karo adalah salah satu yang paling tidak sadar menjaga kebersihan.  Maka tidak heran bahwa setelah selesai  sebuah perhelatan sampah berjubel, serta tidak sulit  untuk menebak, siapa yang barusan berpesta atau berhelat dari sampah yang ditinggalkan. Hahahaha.

Konon dijaman dulu, di kampung kampung suku karo, bahwa  ada pemikiran rugi kalau buang air besar di WC.  Akibatnya suku karo pada jaman dulu tidak mengenal WC.   Mengapa Rugi ? Sebab kalau buang hajat di WC, tidak ada makanan babi.  Hahahaha.

Orang Karo jaman dulu, jika membuang air besar, cukup pergi ke Ture (beranda rumah adat Karo, siwaluh jabu).  Tinggi Ture ini dari tanah, lebih kurang 2 meter.  Dan dibawah rumah adat ini biasa dipakai sebagai kandang ternak, khususnya babi.  Nah ketika seseorang buang air besar di Ture, maka dibawahnya sudah menanti ternak babi yang akan melahap lezaat makanan dari atas itu.

Jangan jangan kebiasaan ini  yang menjadikan Suku Karo  sulit menjaga kebersihan.  Uga akapndu yah…?????

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025

Catatan Tambahan PJJ 03 – 09 Agustus 2025