Featured Post

Catatan Tambahan PJJ Januari 2026

Gambar
Galatia 3:26–29 Catatan Tambahan  PJJ  24 - 31 Januari 2026.docx None Thema :  Satu Dalam Kristus  A. Pendahuluan (Teologis-Konseptual) Surat Galatia ditulis Rasul Paulus dalam konteks gereja yang retak oleh perbedaan identitas: etnis, status sosial, dan tradisi keagamaan. Jemaat Galatia mulai terjebak pada pemahaman bahwa keselamatan dan status rohani ditentukan oleh identitas lahiriah, terutama hukum Taurat dan garis keturunan. Galatia 3:26–29 hadir sebagai pernyataan teologis radikal: identitas orang percaya tidak lagi ditentukan oleh asal-usul, status sosial, atau jenis kelamin, melainkan oleh iman kepada Yesus Kristus. Nas ini bukan hanya ajaran moral tentang toleransi, melainkan fondasi eklesiologi (hakikat gereja) dan antropologi teologis (siapa manusia di hadapan Allah). B. Fakta Teks (Biblical Facts) Status baru orang percaya Paulus menegaskan: “kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Kristus Yesus.” → Status “anak Allah” bukan warisan biologi...

Rugi Buang Air Besar di WC



Sebuah tindakan sangat simpatik dipraktekkan supporter Tim Jepang di Piala Dunia tahun 2018 di Rusia.  Setelah selesai pertandingan mereka mengumpulkan sampah sampah, dan meninggalkan stadion dalam keadaan kinclong, bersih dan rapi. 

Tidakan menjaga kebersihan ini bukan hanya tindakan suatu ketika atau sekali sekali,  melainkan sebuah kebiasaan yang bisa dilihat diseluruh property atau pabrik pabrik yang dikelola oleh Jepang?
Bagaima dengan Bangsa lain, atau suku lain? Dalam piala dunia ini, tidak  ada khabar  tentang suporter Tim Negara lain, sehingga bisa disimpulkan bahwa Hanya Bangsa Jepang yang terkenal dengan prilaku menjaga kebersihan. 

Betolak belakang dengan bangsa Jepang adalah Suku Karo.  Maaf untuk melakukan oto kritik terhadap kebiasaan kita sebagai kalak karo.

Datanglah ke jambur jambur setelah selesai acara peradatan. Maka anda akan melihat lautan sampah dimana mana.  Jorok.  Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan jambur dalam keadaan bersih.
Lihat lah jalanan antara Medan dan Berastagi, dipinggir jalan sampah sampah organic dan non organik  berceceran  dan menumpuk dimana mana.  LIhatlah  kota Kabanjahe, tempat tempat wisata, tempat tempat pelayanan umum.  Untuk lebih tepatnya  nya, lihat lah WC nya…Jorok dan bau pesing.    

Rumah adat Batak Karo, dengan Ture atau beranda di depan pintu masuk.


Sampai sejauh ini boleh dikatakan bahwa kita Suku  Karo adalah salah satu yang paling tidak sadar menjaga kebersihan.  Maka tidak heran bahwa setelah selesai  sebuah perhelatan sampah berjubel, serta tidak sulit  untuk menebak, siapa yang barusan berpesta atau berhelat dari sampah yang ditinggalkan. Hahahaha.

Konon dijaman dulu, di kampung kampung suku karo, bahwa  ada pemikiran rugi kalau buang air besar di WC.  Akibatnya suku karo pada jaman dulu tidak mengenal WC.   Mengapa Rugi ? Sebab kalau buang hajat di WC, tidak ada makanan babi.  Hahahaha.

Orang Karo jaman dulu, jika membuang air besar, cukup pergi ke Ture (beranda rumah adat Karo, siwaluh jabu).  Tinggi Ture ini dari tanah, lebih kurang 2 meter.  Dan dibawah rumah adat ini biasa dipakai sebagai kandang ternak, khususnya babi.  Nah ketika seseorang buang air besar di Ture, maka dibawahnya sudah menanti ternak babi yang akan melahap lezaat makanan dari atas itu.

Jangan jangan kebiasaan ini  yang menjadikan Suku Karo  sulit menjaga kebersihan.  Uga akapndu yah…?????

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025