Featured Post

Paralysis of Analysis di GBKP: Menakar Macetnya Kepemimpinan Spiritual di Persimpangan Prosedur

Gambar
Oleh Pt. Em Analgin Ginting  Dengan Bantuan Gemini AI  I. PENDAHULUAN Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) saat ini sedang berada dalam sebuah anomali sejarah yang memprihatinkan. Sebuah fakta pahit yang tidak bisa dibantah adalah ketidaktuntasan pembahasan Tata Gereja pada Sidang Sinode GBKP Tahun 2025 Kegagalan ini melahirkan kekosongan hukum (vakum) yang berdampak luas; GBKP sempat berjalan tanpa Tata Gereja yang sah secara hukum sinodal. Akibatnya, muncul kegelisahan masif di ribuan Runggun. Pertanyaan retoris namun pedih bergema: "Gereja kita memakai tata gereja yang mana?" Kondisi ini diperparah oleh manajemen persidangan yang tidak efisien. Bayangkan, sebuah persidangan yang dihadiri oleh sekitar 900 orang peserta (Pendeta, Pertua, dan Diaken). Jumlah yang kolosal ini menuntut logistik yang luar biasa besar, biaya yang membengkak, dan ruang sidang yang luas. Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kuantitas manusia tidak berbanding lurus dengan kualitas keputusan. Kita haru...

Rugi Buang Air Besar di WC



Sebuah tindakan sangat simpatik dipraktekkan supporter Tim Jepang di Piala Dunia tahun 2018 di Rusia.  Setelah selesai pertandingan mereka mengumpulkan sampah sampah, dan meninggalkan stadion dalam keadaan kinclong, bersih dan rapi. 

Tidakan menjaga kebersihan ini bukan hanya tindakan suatu ketika atau sekali sekali,  melainkan sebuah kebiasaan yang bisa dilihat diseluruh property atau pabrik pabrik yang dikelola oleh Jepang?
Bagaima dengan Bangsa lain, atau suku lain? Dalam piala dunia ini, tidak  ada khabar  tentang suporter Tim Negara lain, sehingga bisa disimpulkan bahwa Hanya Bangsa Jepang yang terkenal dengan prilaku menjaga kebersihan. 

Betolak belakang dengan bangsa Jepang adalah Suku Karo.  Maaf untuk melakukan oto kritik terhadap kebiasaan kita sebagai kalak karo.

Datanglah ke jambur jambur setelah selesai acara peradatan. Maka anda akan melihat lautan sampah dimana mana.  Jorok.  Tidak ada niat sedikit pun untuk meninggalkan jambur dalam keadaan bersih.
Lihat lah jalanan antara Medan dan Berastagi, dipinggir jalan sampah sampah organic dan non organik  berceceran  dan menumpuk dimana mana.  LIhatlah  kota Kabanjahe, tempat tempat wisata, tempat tempat pelayanan umum.  Untuk lebih tepatnya  nya, lihat lah WC nya…Jorok dan bau pesing.    

Rumah adat Batak Karo, dengan Ture atau beranda di depan pintu masuk.


Sampai sejauh ini boleh dikatakan bahwa kita Suku  Karo adalah salah satu yang paling tidak sadar menjaga kebersihan.  Maka tidak heran bahwa setelah selesai  sebuah perhelatan sampah berjubel, serta tidak sulit  untuk menebak, siapa yang barusan berpesta atau berhelat dari sampah yang ditinggalkan. Hahahaha.

Konon dijaman dulu, di kampung kampung suku karo, bahwa  ada pemikiran rugi kalau buang air besar di WC.  Akibatnya suku karo pada jaman dulu tidak mengenal WC.   Mengapa Rugi ? Sebab kalau buang hajat di WC, tidak ada makanan babi.  Hahahaha.

Orang Karo jaman dulu, jika membuang air besar, cukup pergi ke Ture (beranda rumah adat Karo, siwaluh jabu).  Tinggi Ture ini dari tanah, lebih kurang 2 meter.  Dan dibawah rumah adat ini biasa dipakai sebagai kandang ternak, khususnya babi.  Nah ketika seseorang buang air besar di Ture, maka dibawahnya sudah menanti ternak babi yang akan melahap lezaat makanan dari atas itu.

Jangan jangan kebiasaan ini  yang menjadikan Suku Karo  sulit menjaga kebersihan.  Uga akapndu yah…?????

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 Juli 2025

Catatan Tambahan PJJ 6 - 12 April 2025

Catatan Tambahan PJJ 11 – 17 Mei 2025