Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Featured Post

Catatan Tambahan PJJ (25 – 31 Oktober 2026)

Gambar
​ Tema: Konfesi Kedatangan Jesus Kembali ( Konfesi Kerehen Jesus Mulihken / Advent ) Teks Alkitab: Matius 24:36–44 ​ Pendahuluan ​Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ( Eskaton / Parousia ) merupakan puncak pengharapan iman Kristen. Namun, Alkitab secara tegas menegaskan bahwa waktu kedatangan-Nya dipagari oleh rahasia kedaulatan ilahi. Ketidakpastian waktu ini bukanlah alasan bagi gereja untuk bersikap apatis, melainkan pendorong teologis untuk senantiasa hidup dalam kesiapsiagaan iman. Eskatologi Kristen tidak mengajarkan spekulasi tanggal, melainkan transformasi cara hidup di tengah dunia yang terus berjalan. ​ Fakta ​ Ketahuannya Waktu Hanya pada Bapa: Tidak ada seorang pun—bahkan malaikat maupun Anak—yang tahu hari dan saat kedatangan-Nya, melainkan hanya Bapa. ​ Kondisi Zaman Nuh sebagai Ilustrasi: Manusia sebelum air bah hidup dalam rutinitas wajar (makan, minum, kawin) namun abai terhadap peringatan ilahi hingga kebinasaan datang mendadak. ​ Pemisahan ya...

Dipermainkan Oleh Kematian

Gambar
Perhatikanlah wajah orang tua diatas. Lalu cobalah berempati kepadanya, rasakanlah apa yang dia rasakan, dan pikirkanlah apa yang dia pikirkan.  Dengarkan suara hati Anda, apa yang dia katakan? Kalau belum terdengar pandang lagi lah wajah nenek ini, coba pergermet kan kemana pandangannya. ( pergermet   adalah kosakata Suku Karo yang artinya perhatikan dengan sungguh sungguh) Apa makna dan kemana pandangan Nenek Karo diatas? Nampaknya tatapannya kosong, arah pandangannya jelas, namun tidak mempunyai tujuan.  Apa yang dia rasakan saat memandang itu adalah sebuah kepasrahan sungguh sungguh. Dia pasrah kepada kehidupan yang yang dianugerahkan kepadanya.  Dan foto ini adalah sebuah momentum, saat seseorang memberi penghayatan paling dalam mengenai kehidupan, khususnya kepada salah satu esensi hidup yang disebut dengan penderitaan. Nenek diatas sebenarnya sedang mengalami sebuah penderitaan, penderitaan yang teramat besar yang sangat sulit untuk disampaikan d...

Budaya Bukan tuhan, Tapi Berasal Dari Tuhan

Gambar
Semua budaya mempunyai tujuan yang baik.  Baik untuk manusia individu yang memerankannya maupun baik juga untuk sekelompok masyarakat yang membudayakannya.  Mengapa baik, karena memang sejak awal ditujukan demi kebaikan manusia, dan karena manusia itu sendiri diciptakan menurut Gambar Allah yang Maha Baik. Rupa dan bentuk manusia itu diciptakan dengan gagasan Tuhan sendiri (segambar dengan Tuhan).  Lalu Tuhan memesankan kepada manusia agar menguasai alam semesta dan mengupayakan biji bijian makanannya dengan cara berbudaya pula (budaya kerja dan budaya makan). Budaya yang baik adalah budaya yang dikehendaki Tuhan.  Budaya yang dikehendaki Tuhan adalah budaya yang berlandaskan kasih; kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia. Semua kebudaayaan akan menjadi baik jika dalam mempraktekkannya (berfikir, berkata-kata, bertindak) selalu yang baik baik saja. Budaya menjadi tidak baik, jika pada saat praktek atau bertindak bukan lagi dilandasai...