Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Featured Post

Paradox Leadership: Rekonstruksi Mandat Matius 10:16 di Tengah Hegemoni Sistem Dunia

Gambar
  Pt. Em. Analgin Ginting ​ A. Pendahuluan ​Kita sedang hidup dalam sebuah era yang oleh para pemikir kontemporer disebut sebagai Age of Complexity . Di sini, batasan antara kedaulatan moral dan kepentingan korporasi global menjadi semakin kabur. Kepemimpinan spiritual sering kali terjepit di antara dua kegagalan eksistensial: menjadi relik masa lalu yang tidak lagi relevan karena kebebalan intelektual, atau menjadi sekadar pelumas bagi mesin kapitalisme global karena kompromi moral. Fenomena ini menuntut sebuah diskursus yang lebih dari sekadar retorika mimbar. ​Dunia hari ini tidak lagi hanya dikelola oleh kebijakan negara yang terlihat, melainkan oleh kekuatan teknokrasi dan algoritma moneter yang seringkali berjalan tanpa wajah namun memiliki dampak yang sangat nyata bagi kemanusiaan. Dalam konteks inilah, suara gereja harus bermetamorfosis. Gereja tidak boleh lagi hanya menjadi institusi ritual, melainkan harus menjadi institusi penjaga martabat manusia di hadapan sistem...

MENGAPA TUHAN PUNYA NAMA

Gambar
Kemudian ada tertulis di taurat persisnya hukum yang keempat, “jangan sebut namaTUHAN Allahmu dengan sembarangan” (Bandingkan Keluaran 20 : 7) Artinya umat israel dan seluruh orang yang percaya kepada Tuhan harus menyebutkan Nama Tuhan dengan sangat hormat, sopan, dan bertujuan baik. Tidak asal sebut, tidak dijadikan bahasa latah, tidak dijadikan bahasa keterkejutan apalagi umpatan. Dalam jaman kerajaan kerajaan dahulu kala, kehadiran raja direpresentasikan melalui namanya; baik yang disebutkan secara verbal atau diucapkan oleh para pesuruhnya, maupun dalam meterai atau cap kerajaan atau tanda tangan Raja. Jika ada titah, “atas nama raja rumahmu kami pakai untuk markas pasukan”. Maka sang pemilik rumah harus merelakan rumahnya karena itu permintaan raja. Ada kuasa yang mengiringi penyebutan nama raja. Raja terbatas kehadirannya secara fisik diseluruh wilayah kerajaannnya, jadi perlu ada kuasa dalam namanya supaya kerajaan dapat diperintah dan dikendalikan. Kuasa pengendalian at...

Ngalo Ngalo Kalimbubu

(Refleksi Lukas 10 : 38-42) Adi bas sada paksa reh kalimbubu ndu ku rumahndu, tentu harus ituduhken kehamatenta nandangi kalimbubu e. “Dibata nidah”, nina kalak karo. Apai nge akapndu pentingen cara nghamatisa. Kuskas erbahan nakan pangan lako ipanna tah sikap kundul i lebe lebena megiken ranannd tah pe tenah sinibabana? Uga nindu, kam sienggo biasa kal ngalo ngalo kalimbubu reh kurumahndu? La pe mis jawabndu banci nge yah. Si oge ras sitinggelken lebe uga ibahan Marta ras agina Maria ibas ia ngalo ngalo Yesus reh ku rumahna. E pe tuhu tuhu kal “Dibata si niidah”. Marta, kaka, jahan ibas penafsiren ngatakensa ia sekalak janda. Mis kal ia kuskas, mpesikap nakan pangan man Tuhan Yesus. Simehuli na kal atena ibahanna man Yesus, Tuhan ras sekaligus teman na kin. Umur na pe paksa e menam menam seri nge ras umur Tuhan Yesus. Ibas Lukas 10 : 40 ikataken : Tapi Marta kuskas nikapken pangan; e maka murkas ia ideherina Jesus janah nina, "O Tuhan, la iperdiatekenNdu ipeturut se...